Langsung ke konten utama

Waduh! Inilah kenapa Muslim Dilarang merayakan Natal!

 Bentengi Aqidah di Akhir Tahun


Kaum Muslimin hendaklah menjaga diri dari praktek ibadah yang tidak disyariatkan Allah atau meramaikan praktek ibadah kaum lain. Diantara nya adalah Natal


Dasar menjaga diri dari praktek ibadah agama lain adalah:


1. Allah telah memberitahu kita, dalam Surat Al-Baqoroh: 120 *"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka*,...

   » mereka mencoba mengalihkan istilah Toleransi menjadi sarana hubungan sosial dan moderasi  (yg seharusnya cukup menghargai saja)

   » mereka mulai mengecoh umat Islam dengan mengemas Natal dengan istilah yg dekat dgn Islam, seperti Maulid Nabi Isa dan juga menulis buku "Natal menurut Al-Quran". (Ummat Islam harus berhati-hati dari tipuan mereka)


2. Dasar Ibadah Natal mereka, bukan hanya merayakan kelahiran Yesus Belaka, tapi *secara terang-tetangan menyebutkan tentang kelahiran Yesus sebagai Tuhan*. Ayat rujukan ibadah mereka ini adalah *Lukas 2:11 "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud"*. Maka Na'udzubillah jika ada Umat Islam merayakan hal ini


3. Orang Kristen tidak semuanya merayakan Natal, ada *beberapa sekte yg mengingkari perayaan natal, seperti aliran Saksi Yehova* dan juga terdapat aliran lain. Antara mereka sendiri tidak saling merayakan atau saling memberi selamat


4. Banyak keanehan, Bahwa jika dilihat dari sisi Histori/Sejarah, tanggal *25 Desember ternyata bukan kelahiran Yesus*, tetapi kelahiran dewa Matahari, oleh karena itu ibadah di hari Sun-Day (Hari Matahari) dan dia bernama Dewa Janus, oleh karena itu Bulan pertama disebut dengan Nama Januari. perayaan Natal itu perayaan adopsi dari agama Romawi, yang didalamnya banyak hal yang aneh lain, seperti sinterclass terbang, pohon natal, dll.


5. Diantara petinggi Kristen mengakui bahwa Natal itu tidak ada kaitannya dengan Yesus. namun menjadi *Momen untuk memperkenalkan Yesus* kepada Umat selain mereka terutama Islam


6. MUI telah mengeluarkan beberapa Fatwa, diantaranya, *Tidak termasuk Toleransi yg dibenarkan yaitu: ketika mengucapkan selamat, memakai atribut, memaksa mengikuti, dan lainnya*. karena ini termasuk mencampur adukkan agama



Umat Islam perlu mewanti-wanti kabar dari nabi berikut ini:

“Sungguh *kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal* dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah *Yahudi dan Nashrani*?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).


sedikit perumpamaan:

bebek punya suaranya sendiri, kambing pun juga sama, kucing juga demikian, maka tidak perlu bebek mengajarkan kambing bahasa bebek, dan sebagainya. maka tidak perlu kita memakai salam pada suatu yg tidak dibenarkan (selamat hari raya agama lain, atau salam lintas agama, dll)


Islam tidak melarang Toleransi, tapi membatasi apabila berbenturan dan Aqidah, maka sikap toleransi cukup dengan cara menghargai dan menghormati


1. untuk Muslim: saling menghargai, tidak mencela sesembahan mereka. Tidak merusak fasilitas mereka, dll


2. untuk non-Muslim: hargailah keyakinan kaum muslim, yaitu tidak memaksa kaum muslim untuk mengucapkan selamat Natal atau sebagainya


#catatan Kajian bersama Ustadz Abu Deedat Syihab 18/12/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Idul Adha : Ikhlas Berkorban untuk Islam

KHUTBAH PERTAMA ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ูฉ× ุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูƒَุจِูŠْุฑًุง ูˆَุงู„ุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ّٰู‡ِ ูƒَุซِูŠْุฑًุง ูˆَุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ِู„ّٰู‡ِ ุจُูƒْุฑَุฉً ูˆَุฃَุตِูŠْู„ًุง، ู„َุง ุฅู„ٰู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَู„َุง ู†َุนْุจُุฏُ ุฅِู„َّุง ุฅِูŠَّุงู‡ُ، ู…ُุฎْู„ِุตِูŠْู†َ ู„َู‡ُ ุงู„ุฏِّูŠْู†َ، ูˆَู„َูˆْ ูƒَุฑِู‡َ ุงู„ูƒَุงูِุฑُูˆْู†َ، ู„َุง ุฅู„ٰู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ، ุตَุฏَู‚َ ูˆَุนْุฏَู‡ُ، ูˆَู†َุตَุฑَ ุนَุจْุฏَู‡ُ، ูˆَู‡َุฒَู…َ ุงู„ุงَุญْุฒَุงุจَ ูˆَุญْุฏَู‡ُ، ู„َุง ุฅู„ٰู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ  ุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ---- ุงู„ุญู…ุฏู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ุฌุนู„ ูŠูˆู… ุงู„ุนูŠุฏุง ู„ู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ูˆูˆุญุฏู†ุง ุจุนูŠุฏِู‡ِ ูƒุฃُู…َّุฉٍ ูˆุงุญุฏุฉ، ู…ู† ุบูŠุฑ ุงู„ุฃู…ู…، ูˆู†ุดูƒุฑู‡ ุนู„ู‰ ูƒู…ุงู„ِ ุงِุญุณุงู†ู‡، ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฌู„ุงู„ ูˆุงู„ุงูƒุฑุงู….  ---- ุงุดู‡ุฏ ุงู† ู„ุง ุงู„ู‡ ุงู„ุง ุงู†ุช ูˆุญุฏูƒ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ูƒ، ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู…َุงู„ِูƒَ ุงู„ْู…ُู„ْูƒِ ุชُุคْุชِูŠ ุงู„ْู…ُู„ْูƒَ ู…َู† ุชَุดَุงุกُ ูˆَุชَู†ุฒِุนُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒَ ู…ِู…َّู† ุชَุดَุงุกُ ูˆَุชُุนِุฒُّ ู…َู† ุชَุดَุงุกُ ูˆَุชُุฐِู„ُّ ู…َู† ุชَุดَุงุกُ ۖ ุจِูŠَุฏِูƒَ ุงู„ْุฎَูŠْุฑُ ۖ ุฅِู†َّูƒَ ุนَู„َู‰ٰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ ูˆ ุงุดู‡ุฏ ุงู† ู…ุญู…ุฏุง ุนุจุฏูƒ ูˆุฑุณูˆู„ูƒ ----  ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูƒَู…َุง ุตَู„َّูŠْุชَ ุนَู„َู‰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ุฅِู†َّูƒَ ุญَู…ِูŠุฏٌ ู…َุฌِูŠุฏٌ، ูˆَุจَุงุฑِูƒْ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َ...

Khutbah Jumat: Melepas Kepergian Ramadhan

﷽ Khutbah Pertama ุงู†ّ ุงู„ْุญَู…ْุฏَ ِู„ู„ู‡،ِ ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠْู†ُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ُ، ูˆَู†َุนُูˆْุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆْุฑِ ุฃَู†ْูُุณِู†َุง، ูˆَุณَูŠّุฆَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„ِู†َุง، ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِู‡ِ ุงู„ู„ู‡ُ ูَู„ุงَ ู…ُุถِู„ّ ู„َู‡ُ، ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„ุงَ ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡،ُ ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„ุงّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ّ ู…ُุญَู…ّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ูŠَุงุฃَูŠّู‡َุง ุงู„ّุฐَูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ุงุชّู‚ُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ ุญَู‚ّ ุชُู‚َุงุชِู‡،ِ ูˆَู„ุงَ ุชَู…ُูˆْุชُู†ّ ุฅِู„ุงّ ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆْู†َ ูŠَุงุฃَูŠّู‡َุง ุงู„ู†َุงุณُ ุงุชّู‚ُูˆْุง ุฑَุจّูƒُู…ُ ุงู„ّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ู†َูْุณٍ ูˆَุงุญِุฏَุฉ،ٍ ูˆَุฎَู„َู‚َ ู…ِู†ْู‡َุง ุฒَูˆْุฌَู‡َุง ูˆَุจَุซّ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ุฑِุฌَุงู„ุงً ูƒَุซِูŠْุฑًุง ูˆَู†ِุณَุงุก،ً ูˆَุงุชّู‚ُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ ุงู„َุฐِูŠ ุชَุณَุงุกَู„ُูˆْู†َ ุจِู‡ِ ูˆَุงْู„ุฃَุฑْุญَุงู… ،َ ุฅِู†ّ ุงู„ู„ู‡َ ูƒَุงู†َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฑَู‚ِูŠْุจًุง ูŠَุงุฃَูŠّู‡َุง ุงู„ّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ุงุชّู‚ُูˆุง ุงู„ู„ู‡،َ ูˆَู‚ُูˆْู„ُูˆْุง ู‚َูˆْู„ุงً ุณَุฏِูŠْุฏًุง، ูŠُุตْู„ِุญْ ู„َูƒُู…ْ ุฃَุนْู…َุงู„َูƒُู…ْ ูˆَูŠَุบْูِุฑْู„َูƒُู…ْ ุฐُู†ُูˆْุจَูƒُู…،ْ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุทِุนِ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَุฑَุณُูˆْู„َู‡ُ ูَู‚َุฏْ ูَุงุฒَ ูَูˆْุฒًุง ุนَุธِูŠْู…ًุง، ุฃَู…ّุง ุจَุนْุฏُ ... ูَูŠَุงุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُูˆْู†َ!، ุฃُูˆْุตِูŠْูƒُู…ْ ูˆَู†َูْุณِูŠْ ุจِุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุทَุงุนَุชِู‡،ِ ูَู‚َุฏْ ูَุงุฒَ ู…َู†ِ ุงุชَّู‚...

Pdf Qhososul Anbiya' /Kisah-Kisah Para Nabi Karya ibn Katsir

 Ibnu Katsir adallah ulama besar yang telah banyak berjuang diatas agama ini dengan berbagai karyanya, diantara karya yang beliau tulis adalah Qhososul Anbiya(ู‚ุตุต ุงู„ุงู†ุจูŠุงุก ) yang diterjemahkan menjadi Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam hingga Isa 'alaihimussalam. Setiap kisah yang ditulis oleh ibn katsir ini merupakan kisah yang ilmiah dan terdapat periwayatannya secara jelas, dari tingkat keshahihan sebagaimana diambil dari Qur'an dan Hadist shahih, hingga tinggat yg dapat diterima atau juga dapat diragukan seperti kisah israiliyat. Buku ini tersedia dalam bentuk cetak maupun softfile pdf, kami hanya dapat menyediakan file pdf sebagai alternatif yg fapat kita miliki bersama dan dapat dimana saja kapan saja Kitab Pdf ini dapat diunduh melalui link terabox berikut: download pdf Kisah para nabi oleh ibn Katsir