Bismillah, Malu adalah fitrah manusia, namun kadar malu terkadang bisa berubah (bertambah maupun berkurang) ketika seseorang bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan, minset, maupun kebiasaan. Dalam islam telah diatur bagaimana cara mengatur rasa malu ini, dalam sebuah hadist disebutkan, عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي. Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120] Dari keterangan hadist tersebut, bukan membolehkan kita melakukan perbuatan sesuka kita jika ti...
Sampaikanlah seruan untuk berbuat kebaikan, dan cegahlah dari berbuat kemungkaran