﷽
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ ۖ ۚ ١ وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِؕ ٢ لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِ ۙ خَيۡرٌ مِّنۡ اَلۡفِ شَهۡرٍؕ ٣ تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ وَالرُّوۡحُ فِيۡهَا بِاِذۡنِ رَبِّهِمۡۚ مِّنۡ كُلِّ اَمۡرٍ ۛۙ ٤ سَلٰمٌ ۛهِىَ حَتّٰى مَطۡلَعِ الۡفَجۡرِ ٥
1.Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam qadar.
2.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3.Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
4.Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.
5.Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.
A. Penalaran Luar
Surat Al-Qodar adalah surat yang terletak setelah Al-Alaq, sehingga menurut beberapa ulama, penempatan ini semakin mempertegas bahwa wahyu pertama (Al-Alaq) turun di malam kemuliaan (Al-Qodr)
B. Asbabun Nuzul
1. Beliau diperlihatkan masa depan Umat Islam yang membuat beliau berduka
Dalam Tafsir Jalalain, Al-Hasan ibnu Ali yang telah menceritakan bahwa se-sungguhnya Nabi.SAW. telah bermimpi melihat Bani Umayyah berada di atas mimbarnya, maka hal itu membuatnya berduka cita.
# Masa Bani Umayyah itu 1000 bulan: "Al-Qomisul Harani: Kami hitung-hitung (umur ke-khalifahan Bani umayyah), ternyata masa kekhalifahan mereka itu hanya berlangsung selama seribu bulan, tidak lebih dan tidak pula kurang", atau dalam sejarahnya, selama 90 Tahun (661-750 M).
# Kenapa Nabi berduka cita?: dari yang kami telusuri, 1000 tahun berdirinya bani Umayah adalah masa yang panjang, perkembangan wilayah Islam yang luas, pembangunan fasilitas umum dan lainnya. Tapi setelah 1000 tahun itu, terjadi hal yang memilukan, yaitu terdapat kelompok dari Kaum Muslimin sendiri, yang terkena sifat Ashobiyah (fanatik Kesukuan), Bani Abbas (Keturunan Abbas bin Abdul Muthaib) beranggapan sahnya khalifah itu dari bani Hasym, kedua kelompok bukan berselisih berdasarkan Agama, tapi berdasarkan perbedaan pandangan Politik. Memang diakui setelah Bani Abbas memimpin, banyak perkembangan, banyak fasilitas perpustakaan, ilmu pengetahuan, ekonomi, perdagangan. Jadi kami berpandangan, duka cita Nabi itu karena umat Islam masih memiliki Ashobiyah dan juga kekecewaan mereka pada kebijakan kekhalifahan Umayah: sistem kelas arab & non-Arab, dll.
Dalam Tafsir Jalalain, setelah nabi bermimpi melihat Bani Umayyah itu, yang membuat beliau berduka cita, maka Allah menghibur beliau dengan menurunkan surat Al-Kautsar: 1, dan Al-Qodr 1-3:
2. Kesempatan beramal menandingi umat terdahulu
Dalam Tafsir Jallalain juga, bahwasanya Rasulullah pernah menceritakan tentang seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil; ia menyandang senjatanya selama seribu bulan untuk berjuang di jalan Allah. Kaum muslim merasa takjub atas hal tersebut, maka Allah turunkan Al-Qodr 1-3. Maksudnya, beramal saleh pada malam kemuliaan itu jauh lebih baik dan jauh lebih besar pahalanya daripada pahala seorang lelaki yang menyandang senjatanya selama seribu bulan di jalan Allah.
.
C. Tafsir
1.Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam qadar.
>> Inna: Sesungguhnya Kami. Terkadang Allah menyebut DiriNya dengan menggunakan (dhamir jama’ berupa ‘Kami’) sebagaimana pada ayat ini, sebagai bentuk pengagungan pada dirinya, dan tidak ada yang lebih agung daripadanya
>> Anzalnahu: menurunkannya > Al-Qur'an
>> Al-Qodr: disebut malam kemuliaan karena beberapa alasan:
a. Karena memanglah mulia. Orang arab apabila menyebut kemuliaan seseorang dengan sebutan Al-Qodr: (هَذَا رَجُلٌ ذُو قَدْرٍ) adalah kalimat dalam bahasa Arab yang berarti "Ini adalah seorang laki-laki yang memiliki kedudukan (martabat/derajat/kemuliaan)"
b. Qodr juga memiliki makna 'sempit'
وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابۡتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهٗ ۙ فَيَقُوۡلُ رَبِّىۡۤ اَهَانَنِۚ ١٦
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinaku." (QS.Al-Fajr: 16)
c. Qodr juga berarti 'Takdir'
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ٤
Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (QS. Ad-dukhon: 4)
Yakni dalam Tafsir Ibnu Katsir: yaitu di malam Lailatul Qadar dijelaskan dari Lauh Mahfuz kepada para malaikat yang mencatat urusan satu tahun dan sesuatu yang ada di dalamnya berupa ajal-ajal dan rezeki-rezeki serta semua peristiwa yang akan terjadi padanya, dan hal lainnya. dan maksud Firman Allah: (yang penuh hikmah) yaitu dengan keputusan yang tidak dapat diganti dan diubah.
* Tiap setahun Allah mengabarkan kepada para malaikat mengenai takdir-takdir dan tugas mereka selama setahun mendatang.
# Malam Lailatul Qodr sudah ada mendahului Al-Qur'an.
- di Langit Dunia lailatul Qodr sudah ada, bahwa Allah Subhana wa Ta’ala menurunkan Al Qur’an secara keseluruhan pada satu kesempatan di malam Lailatul Qadr dari Al Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (di Langit Dunia). Kemudian Allah Subhana wa Ta’ala menurunkannya secara berangsur-angsur ke pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sesuai dengan kejadian selama 23 tahun.
Ibnu Abbas berkataأنزلَ القرأنُ فى ليلةِ القدرِ فى شَهرى رمضان إلى السماء الدنيا جملةً واحدةً ثم أنزل نجوماً
Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu ia menurunkan secara berangsur-angsur “. ( HR. Al-Tabrani ).
- Di dunia di Zaman Rasulullah: Namun hadist kekhususannya Maudhu (palsu), adapun keumuman hadistnya. hadits yang dikeluarkan oleh Imam Malik di Muwatha’nya yang berkata: “(Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya -yang relatif panjang- sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka beramal karena panjangnya usia mereka, maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan)“. (Ibnu Katsir berkomenter bahwa Malam LailatulQodr juga dialami oleh umat terdahulu)
- di Dunia, sejak zaman Nabi dahulu: Ibnu Katsir menyebut, bahwa Malam Lailatul Qodr juga dialami oleh umat terdahulu, sebagaimana dalam sebuah Hadist dari Abu Dzar yang berkata:“Wahai Rasulullah, berita hu aku tentang Lailatul Qadr, apakah malam itu pada bulan Ramadhan ataukah pada selainnya?” Beliau berkata: “Pada bulan Ramadhan”. (Abu Dzar) berkata,”(Berarti sudah ada) bersama para nabi terdahulu? Lalu apakah setelah mereka wafat (malam Lailatul Qadr tersebut) diangkat? Ataukah malam tersebut akan tetap ada sampai hari Kiamat?” Nabi menjawab: “Akan tetap ada sampai hari kiamat…” (Musnad Imam Ahmad (5/17 1))
* Maka, sebuah malam Al-Qodr sudah menjadi mulia sebelum diturunkannya Al-Quran, baik itu didunia.
* Dan untuk pendapat bahwa Allah menurunkan Al-Qodr kepada Rasulullah, Bahwa beliau diangkat sebagai nabi adalah dengan turunnya Wahyu, seolah ada kebalikan antara turunnya Qur'an dan turunnya Al-Qodr kepada Rasulullah. maka yang menjadi titik tengahnya Adalah, sebelum beliau menerima QS.Al-Alaq, Lailatul Qodr sudah ada, yang bisa jadi setahun sebelum turun Wahyu Al-Alaq sebagaimana disampaikan oleh imam Busyamah. Atau bisa juga dikatakan bahwa Wahyu yang benar-benar mengawali kenabian, bukanlah QS. Al-Alaq, tapi wahyu berupa mimpi Shodiq sebagaimana tertera dalam Hadist dan kitab sirah
Aisyah r.a. menuturkan bahwa permulaan wahyu kepada Rasulullah ﷺ adalah mimpi-mimpi yang benar, yang selalu terjadi persis seperti cahaya pagi. Beliau biasa berkhalwat di Gua Hira dan beribadah selama berhari-hari, lalu pulang kepada Khadijah r.a. untuk mengambil bekal. Sampai datang suatu hari ketika malaikat mendatanginya di dalam gua dan berkata: “Bacalah.” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Malaikat memeluk beliau tiga kali hingga terasa sangat berat, kemudian membacakan firman pertama: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan...” (HR. Al-Bukhari No. 6982)
2.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ
### Keutamaan Lailatul Qodr
3.Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
Mujahid juga berkata bahwa lailatul qadar itu lebih baik dari 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. Pendapat ini juga menjadi pendapat Qotadah bin Da’amah dan Imam Syafi’i. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 609).
Datang dalil amalan khusus di malam Al-Qodr “Barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan shalat malam atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760).
Ibnu Katsir menguatkan pendapat pilihan Ibnu Jarir. Bahwa lailatul qadar itu lebih afdhal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat lailatul qadar.
4.Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.
>> Malaikat: yaitu banyak malaikat yang turun di malam kemuliaan ini karena banyaknya keberkahannya. Dan para malaikat turun bersamaan dengan turunnya keberkahan dan rahmat, sebagaimana mereka turun ketika Al-Qur'an dibacakan dan mengelilingi perkumpulan yang melakukan dzikir dan meletakkan sayap mereka menaungi orang yang menuntut ilmu dengan benar karena menghormatinya.
>> Ruh:
* Jibril, sebagaimana yang telah umum difahami
* Malaikat / makhluk tertentu lain, yang Allah lebih mengetahui tentangnya, sebagaimana juga terdapat dalam Qur'an surat An-naba
يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ
Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, (QS. An-Naba: 38)
>> Min Kulli Amr: Segala Urusan
* Malaikat berbondong mengerjakan perintah Allah selama setahun ke depan
Sebagaimana yang telah dibahas diatas, yaitu Allah berfirman, "Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah". (QS. Ad-dukhon: 4)
Yakni dalam Tafsir Ibnu Katsir: yaitu di malam Lailatul Qadar dijelaskan dari Lauh Mahfuz kepada para malaikat yang mencatat urusan satu tahun dan sesuatu yang ada di dalamnya berupa ajal-ajal dan rezeki-rezeki serta semua peristiwa yang akan terjadi padanya, dan hal lainnya. dan maksud Firman Allah: (yang penuh hikmah) yaitu dengan keputusan yang tidak dapat diganti dan diubah.
Dalam Tafsir Ath-Thobari: Ibnu Tsaur menceritakan kepada kami dari Ma'mar, dari Qatadah mengenai firman-Nya, "untuk mengatur segala urusan," ia berkata "Untuk menetapkan pada malam itu apa yang akan terjadi pada tahun itu hingga malam qadr berikutnya"
* Malaikat turun dan memberi salam kepada orang yang beriman
Dalam Tafsir Ath-thobari menyebutkan sebuah pendapat, Sebagian Qiroat menetapkan ayat ini "Min Kulli Amrin Salaam", sehingga menurutnya maknanya adalah, pada malam itu turunlah para malaikat dan Jibril dengan seizin Tuhan mereka dan dari setiap malaikat adalah ucapan salam bagi orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.
Tapi kemudian Imam Ath-thobari kemudian mengomentari pendapat ini, bahwa qiroat ini tidak boleh, karena para ahli qiroah menyelisihinya, dan menyelisihi mushaf kaum muslimin.
5.Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.
>> Salam: Keselamatan/kesejahteraan: “Setan tidak mampu berbuat keburukan padanya atau melakukan gangguan pada malam tersebut”,
Tanda-tanda nya di terangkan dalam kitab Lathoiful ma'arif
a. menandakan malam itu langit menurunkan hujan, karena ada bekas air ketika beliau sujud
b. setan-setan malam itu tidak keluar hingga terbit fajar (subuh). (HR ibnu Hibban)
c. pada malam itu bintang-bintang dilangit dilarang dilontarkan hingga subuh tiba (HR. Ahmad)
d. Matahari terbit pada pagi harinya dengan cerah tanpa cahaya yang tajam, tanpa disertai oleh setan, cerah seperti bulan purnama (HR.Ahmad)
e. “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” Yang dimaksud di sini adalah pada malam tersebut penuh dengan keselamatan. Mujahid berkata bahwa setan tidak bisa melakukan kejelekan atau mengganggu manusia pada malam tersebut. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 610.) disebutkan setan tidak bisa menimpakan kesurupan, penyakit, dan kerusakan apapun kepada seseorang, bahkan sihir tidak berfungsi pada malam itu
f. Pada malam tersebut Tidak ada anjing yg menggonggong (sanadnya dhaif). Bahwa anjing menggonggong pada malam hari ialah karena melihat setan
g. "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." Dalam sebuah hadis disebutkan: Sesungguhnya para malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak daripada banyaknya batu kerikil.” (HR. Ahmad).
D. Kapan Waktunya
* Pendapat keliru: Mereka mengatakan, bahwa maksud ayat 3 surat Ad-Dukhon : "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan." adalah malam Nisfu Syaban, sebagaimana diriwayatkan dari Mak-hul dan yang lainnya. Namun ini adalah penafsiran yang keliru, karena maksud ayat tersebut adalah malam Lailatul Qadar.
* Pendapat yang benar adalah hal itu terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman-Nya:
"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran" (QS. Al-Baqarah ayat 185)
Barangsiapa mengatakan maksudnya adalah malam nisfu Sya'ban sebagaimana diriwayatkan dari Ikrimah, maka sungguh dia telah jauh dari kebenaran. Sebab Alquran telah menegaskan bahwa Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan.
Berdasarkan dalil hadist, perkataan sahabat dan ulama, kita dianjurkan mencari (bersungguh-sungguh dalam beribadah pada) Malam lailatul Qodr, yaitu pada malam ke: 1, 9, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 27, 29, dan atau 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan:
- malam 1,9,14: dari annas, Rasulullah: carilah malam lailatul Qodr di malam pertama, atau dimalam ke 9, atau di malam ke 14 (HR. ibnu Abi Ashim dalam kitab Ash-Shiyam)
- malam 17, 19, 21,23,25,27,& 29: dari abu Hurairah, carilah malam lailatul Qodr pada tanggal 17, 19, 21, 23,25,27,dan 29 (HR. Thabrani, ada perawi lemah) hadist dikuatkan dengan beberapa hadist hasan riwayat abu Dawud dari ibnu Mas'ud
Wallahu a'lam
Sumber:
Kitab Lathoiful Ma'arif karya imam Ibnu Rajab Al-Hambali
Tafsir Ibnu Katsir, Athobari, Jalalain
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung