Al-Alaq
Tema: keutamaan berilmu & akibat dari menolak kebenaran
A. Penamaan:
Al-Alaq artinya segumpal darah, dijelaskan pula dalam QS. Al-Mu'minun 12-16 tentang peristiwa penciptaan manusia, yg insyaallah akan dibahas dibawah
B. Latar Belakang Turunnya Wahyu Al-Alaq 1-5
Surat Al-'Alaq adalah wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam di Gua Hira, ayat-ayat surat Al-Alaq tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturnkan sebagian awal, kemudian sebagian ygvlain, sebagaimana juga surat2 lainnya, yg turunnya tidak sekaligus, seperti surat surat panjang.
Diantara tahapan besar dari permulaan wahyu yaitu:
-mimpi shohih
-tahannus
-wahyu QS. Al-Alaq 1-5
dalam tafsir Ibnu Katsir
dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Saw. berupa mimpi yang benar dalam tidurnya. Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi, melainkan datangnya mimpi itu bagaikan sinar pagi hari.
Kemudian dijadikan baginya suka menyendiri, dan beliau sering datang ke Gua Hira, lalu melakukan ibadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang dan untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah (istrinya) dan mengambil bekal lagi untuk melakukan hal yang sama.
Pada suatu hari ia dikejutkan dengan datangnya wahyu saat berada di Gua Hira. Malaikat pembawa wahyu masuk ke dalam gua menemuinya, lalu berkata, "Bacalah!" Rasulullah Saw. melanjutkan kisahnya, bahwa ia menjawabnya, "Aku bukanlah orang yang pandai membaca." Maka malaikat itu memegangku dan mendekapku sehingga aku benar-benar kepayahan olehnya, setelah itu ia melepaskan diriku dan berkata lagi, "Bacalah!" Nabi Saw. menjawab, "Aku bukanlah orang yang pandai membaca." Malaikat itu kembali mendekapku untuk kedua kalinya hingga benar-benar aku kepayahan, lalu melepaskan aku dan berkata, "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku bukanlah orang yang pandai membaca." Malaikat itu kembali mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku benar-benar kepayahan, lalu dia melepaskan aku dan berkata:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. (Al-'Alaq: 1) sampai dengan firman-Nya: apa yang tidak diketahuinya. (Al-'Alaq: 5)
(Tambahan: Dalam Tafsir Ath-Thobari disebutkan: ..... seorang malaikat datang menghampiri dan berkata: 'Hai Muhammad, Engkau Utusan Allah'. Rasulullah menuturkan: maka aku langsung luluh berlutut, padahal sebelumnya aku tengah berdiri. kemudian aku pulang sambil gemetaran, lalu masuk ke tempat Khadijah...)
Maka setelah itu Nabi Saw. pulang dengan hati yang gemetar hingga masuk menemui Khadijah, lalu bersabda:
«زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي»
Selimutilah aku, selimutilah aku!
Maka mereka menyelimutinya hingga rasa takutnya lenyap. Lalu setelah rasa takutnya lenyap, Khadijah bertanya, "Mengapa engkau?" Maka Nabi Saw. menceritakan kepadanya kejadian yang baru dialaminya dan bersabda, "Sesungguhnya aku merasa takut terhadap (keselamatan) diriku." Khadijah berkata, "Tidak demikian, bergembiralah engkau, maka demi Allah, Dia tidak akan mengecewakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka bersilaturahmi, benar dalam berbicara, suka menolong orang yang kesusahan, gemar menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah."
Kemudian Khadijah membawanya kepada Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad ibnu Abdul Uzza ibnu Qusay. Waraqah adalah saudara sepupu Khadijah dari pihak ayahnya, dan dia adalah seorang yang telah masuk agama Nasrani di masa Jahiliah dan pandai menulis Arab, lalu ia menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Arab seperti apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, dan dia adalah seorang yang telah lanjut usia dan tuna netra.
Khadijah bertanya, "Hai anak pamanku, dengarlah apa yang dikatakan oleh anak saudaramu ini." Waraqah bertanya, "Hai anak saudaraku, apakah yang telah engkau lihat?" Maka Nabi Saw. menceritakan kepadanya apa yang telah dialami dan dilihatnya. Setelah itu Waraqah berkata, "Dialah Namus (Malaikat Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Aduhai, sekiranya diriku masih muda. Dan aduhai, sekiranya diriku masih hidup di saat kaummu mengusirmu."
Rasulullah Saw. memotong pembicaraan, "Apakah benar mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya, tidak sekali-kali ada seseorang lelaki yang mendatangkan hal seperti apa yang engkau sampaikan, melainkan ia pasti dimusuhi. Dan jika aku dapat menjumpai harimu itu, maka aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sekuat-kuatnya." Tidak lama kemudian Waraqah wafat, dan wahyu pun terhenti untuk sementara waktu hingga Rasulullah Saw. merasa sangat sedih.
Menurut berita yang sampai kepada kami (Ibnu Katsir), karena kesedihannya yang sangat, maka berulang kali ia(Rasulullah) mencoba untuk menjatuhkan dirinya dari puncak bukit yang tinggi. Akan tetapi, setiap kali beliau sampai di puncak bukit untuk menjatuhkan dirinya dari atasnya, maka Jibril menampakkan dirinya dan berkata kepadanya, "Hai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah yang sebenarnya," maka tenanglah hati beliau karena berita itu, lalu kembali pulang ke rumah keluarganya.
Dan manakala wahyu datang terlambat lagi, maka beliau berangkat untuk melakukan hal yang sama. Tetapi bila telah sampai di puncak bukit, kembali Malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya dan mengatakan kepadanya hal yang sama. (HR. Ahmad, dan terdapat juga dalam Shohihain)
- Kenabian Bukanlah Pilihan yg disengaja
Proses kenabian bukan merupakan hasil latihan jiwa atau usaha manusia, bukan keinginan beliau yg disengaja menjadi nabi, melainkan anugerah langsung dari Allah.
Allah memilih beliau, Allah tahu kepada siapa amanah ini diemban, dan kepada temapt mana diturunkan, sebagaimana dalam potongan QS. Al-An'am (6:124)
ٱللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُۥ ۗ
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.
maka tidak mungkinlah ada latihan2 khusus untuk menjadi nabi atau menjadi wali, sebagaimana orang yg berlebihan dalam agama, mereka melakukan latihan-latihan seperti bertapa, dzikir-dzikir dengan model atau irama tertentu hingga tingkatkan tertentu, atau lain², sehingga kelirulah perkataan falsafah bahwa nabi berlatih hingga menjadi nabi, atau semua orang bisa menjadi nabi
- Nabi Palsu
Rasulullah telah menerangkan kepada kita tentang huru hara akhir Zaman tentang para nabi palsu
Dan diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ، وَحَتَّى يَعْبُدُوا اْلأَوْثَانَ، وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِيْ ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ، لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ.
‘Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga beberapa kelompok dari umatku mengikuti kaum musyrikin dan hingga mereka menyembah berhala, dan sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku.’” (HR. Abu Dawud) atau dalam Shahihain disebutkan Dajjal-Dajjal
- Adapun Wali-Wali Allah
mereka merupakan orang yg taat pada Allah yaitu yg ibadahnya mengikuti Rasulullah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6502]
- Karomah Wali
karomah Wali yg paling tinggi bukanlah bisa terbang, berjalan diatas air, atau tidak mati saat ditembak
Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah dalam kitab Asyru Qowa’id fil Istiqomah menyebutkan
أعظمُ الكرامَةِ لزُومُ الاستقامَة
“ Karomah yang paling mulia adalah berpegang teguh dengan istiqomah”.
dlaam kitabnya yg lain beliau mengatakan “Tujuan (diberi) karomah itu hanyalah agar dapat berpegang teguh dengan istiqomah”.
dalam Madarijuls Salikin,Ibnu Qayyim menyebutkan “Jadilah orang yang beristiqomah, (dan) jangan menjadi pencari karomah, karena (sifat) jiwamu itu tergerak mencari karomah, sedangkan Rabb-mu menuntutmu untuk istiqomah!”.
Rasulullah saat itu dalam keadaan ummi (tidak bisa baca-tulis), yang menjadi bukti kebenaran mukjizat Al-Qur'an bukan karangan manusia.
C. Tafsir Ayat 1-5: Perintah Membaca dan keutamaan Ilmu
Ayat pertama: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
(Iqra') menekankan pentingnya ilmu dalam Islam.
Ayat Kedua: Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Allah menciptakan manusia dari 'alaq (segumpal darah), sebuah proses embriologis / ilmu pengetahuan penciptaan manusia, yang dijelaskan jauh sebelum teknologi modern.
dalam ayat lain Allah menjelaskan tentang Alaqoh, yaitu di awal QS. al-mu'minun ayat 12-16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِن سُلَـٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ ١٢
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
ثُمَّ جَعَلْنَـٰهُ نُطْفَةًۭ فِى قَرَارٍۢ مَّكِينٍۢ ١٣
Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَـٰمًۭا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَـٰمَ لَحْمًۭا ثُمَّ أَنشَأْنَـٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَـٰلِقِينَ ١٤
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu lalu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.
ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ ١٥
Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ تُبْعَثُونَ ١٦
Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat.
Ayat ketiga: Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
Ayat keempat: Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Qolam: Pena
dari Mujahid, ia bertata "sesungguhnya surat yang pertama kali diturunkan adalah 'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Kemudian 'Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis'
(Qs.Al Qalam [68]: l)
Sesungguhnya yang pertama kali Allah I ciptakan adalah Al-Qalam. Dan Dia memerintahkan untuk menulis tiap-tiap sesuatu yang ada.” (HR. Al-Baihaqi) Terdapat khilaf ulama apa makhluk yang pertama kali Allah ciptakan. Ada tiga pendapat dalam hal ini: 1. Al-Qalam (pena menulis takdir) Ini pendapat Ibnu Jarir At-Thabari dan Ibnul Jauzi. 2. Al-Maa’ (air) Ini pendapat Ibnu Mas’ud dan sebagian salam. 3. Al-‘Arsy, Ini pendapat Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.[9]
Ayat kelima: Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
alamal insan: insan:
- adam (diajarkan nama2 benda-benda semesta)
- nabi Muhammad
- manusia umumnya yg awalnya tidak tahu apa2 sejak dilahirkan
Allah Ta’ala berfirman,
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An Nahl : 78)
ibnu Katsir: Dan bahwa diantara kemurahan Allah Swt. ialah Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan ilmu.
Dan ilmu merupakan bobot tersendiri yang membedakan antara Abul Basyar (Adam) dengan malaikat.
Ilmu itu 1) adakalanya berada di hati, 2) adakalanya berada di lisan, 3) adakalanya pula berada di dalam tulisan tangan. Berarti ilmu itu mencakup tiga aspek, yaitu di hati, di lisan, dan di tulisan. Sedangkan yang di tulisan membuktikan adanya penguasaan pada kedua aspek lainnya, tetapi tidak sebaliknya.
seorang yg menulis, maka ia telah menguasai ilmu dalam hatinya dan dalam lisannya, sehingga menulis merupakan pekerjaan yg memiliki efek yg luar biasa terhadap ilmu sebagaimana dalam Diwan Asy-Syafii, Imam Syafii menerangkan tentang Pentingnya pena (Qalam) sebagai alat pengikat ilmu dan sarana untuk mencatat:
الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ - قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً - وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja
hal ini juga sejalan dengan sabda nabi, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah imu dengan dengan menulisnya” (Silsilah Ashohihah no. 2026)
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung