Al-Alaq
Tema: keutamaan berilmu & akibat dari menolak kebenaran
A. Penamaan:
Al-Alaq artinya segumpal darah, dijelaskan pula dalam QS. Al-Mu'minun 12-16 tentang peristiwa penciptaan manusia, yg insyaallah akan dibahas dibawah
B. Latar Belakang Turunnya Wahyu Al-Alaq 1-5
Surat Al-'Alaq adalah wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam di Gua Hira, ayat-ayat surat Al-Alaq tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturnkan sebagian awal, kemudian sebagian ygvlain, sebagaimana juga surat2 lainnya, yg turunnya tidak sekaligus, seperti surat surat panjang.
Diantara tahapan besar dari permulaan wahyu yaitu:
-mimpi shohih
-tahannus
-wahyu QS. Al-Alaq 1-5
dalam tafsir Ibnu Katsir
dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Saw. berupa mimpi yang benar dalam tidurnya. Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi, melainkan datangnya mimpi itu bagaikan sinar pagi hari.
Kemudian dijadikan baginya suka menyendiri, dan beliau sering datang ke Gua Hira, lalu melakukan ibadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang dan untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah (istrinya) dan mengambil bekal lagi untuk melakukan hal yang sama.
Pada suatu hari ia dikejutkan dengan datangnya wahyu saat berada di Gua Hira. Malaikat pembawa wahyu masuk ke dalam gua menemuinya, lalu berkata, "Bacalah!" Rasulullah Saw. melanjutkan kisahnya, bahwa ia menjawabnya, "Aku bukanlah orang yang pandai membaca." Maka malaikat itu memegangku dan mendekapku sehingga aku benar-benar kepayahan olehnya, setelah itu ia melepaskan diriku dan berkata lagi, "Bacalah!" Nabi Saw. menjawab, "Aku bukanlah orang yang pandai membaca." Malaikat itu kembali mendekapku untuk kedua kalinya hingga benar-benar aku kepayahan, lalu melepaskan aku dan berkata, "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku bukanlah orang yang pandai membaca." Malaikat itu kembali mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku benar-benar kepayahan, lalu dia melepaskan aku dan berkata:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. (Al-'Alaq: 1) sampai dengan firman-Nya: apa yang tidak diketahuinya. (Al-'Alaq: 5)
(Tambahan: Dalam Tafsir Ath-Thobari disebutkan: ..... seorang malaikat datang menghampiri dan berkata: 'Hai Muhammad, Engkau Utusan Allah'. Rasulullah menuturkan: maka aku langsung luluh berlutut, padahal sebelumnya aku tengah berdiri. kemudian aku pulang sambil gemetaran, lalu masuk ke tempat Khadijah...)
Maka setelah itu Nabi Saw. pulang dengan hati yang gemetar hingga masuk menemui Khadijah, lalu bersabda:
«زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي»
Selimutilah aku, selimutilah aku!
Maka mereka menyelimutinya hingga rasa takutnya lenyap. Lalu setelah rasa takutnya lenyap, Khadijah bertanya, "Mengapa engkau?" Maka Nabi Saw. menceritakan kepadanya kejadian yang baru dialaminya dan bersabda, "Sesungguhnya aku merasa takut terhadap (keselamatan) diriku." Khadijah berkata, "Tidak demikian, bergembiralah engkau, maka demi Allah, Dia tidak akan mengecewakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka bersilaturahmi, benar dalam berbicara, suka menolong orang yang kesusahan, gemar menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah."
Kemudian Khadijah membawanya kepada Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad ibnu Abdul Uzza ibnu Qusay. Waraqah adalah saudara sepupu Khadijah dari pihak ayahnya, dan dia adalah seorang yang telah masuk agama Nasrani di masa Jahiliah dan pandai menulis Arab, lalu ia menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Arab seperti apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, dan dia adalah seorang yang telah lanjut usia dan tuna netra.
Khadijah bertanya, "Hai anak pamanku, dengarlah apa yang dikatakan oleh anak saudaramu ini." Waraqah bertanya, "Hai anak saudaraku, apakah yang telah engkau lihat?" Maka Nabi Saw. menceritakan kepadanya apa yang telah dialami dan dilihatnya. Setelah itu Waraqah berkata, "Dialah Namus (Malaikat Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Aduhai, sekiranya diriku masih muda. Dan aduhai, sekiranya diriku masih hidup di saat kaummu mengusirmu."
Rasulullah Saw. memotong pembicaraan, "Apakah benar mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya, tidak sekali-kali ada seseorang lelaki yang mendatangkan hal seperti apa yang engkau sampaikan, melainkan ia pasti dimusuhi. Dan jika aku dapat menjumpai harimu itu, maka aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sekuat-kuatnya." Tidak lama kemudian Waraqah wafat, dan wahyu pun terhenti untuk sementara waktu hingga Rasulullah Saw. merasa sangat sedih.
Menurut berita yang sampai kepada kami (Ibnu Katsir), karena kesedihannya yang sangat, maka berulang kali ia(Rasulullah) mencoba untuk menjatuhkan dirinya dari puncak bukit yang tinggi. Akan tetapi, setiap kali beliau sampai di puncak bukit untuk menjatuhkan dirinya dari atasnya, maka Jibril menampakkan dirinya dan berkata kepadanya, "Hai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah yang sebenarnya," maka tenanglah hati beliau karena berita itu, lalu kembali pulang ke rumah keluarganya.
Dan manakala wahyu datang terlambat lagi, maka beliau berangkat untuk melakukan hal yang sama. Tetapi bila telah sampai di puncak bukit, kembali Malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya dan mengatakan kepadanya hal yang sama. (HR. Ahmad, dan terdapat juga dalam Shohihain)
- Kenabian Bukanlah Pilihan yg disengaja
Proses kenabian bukan merupakan hasil latihan jiwa atau usaha manusia, bukan keinginan beliau yg disengaja menjadi nabi, melainkan anugerah langsung dari Allah.
Allah memilih beliau, Allah tahu kepada siapa amanah ini diemban, dan kepada temapt mana diturunkan, sebagaimana dalam potongan QS. Al-An'am (6:124)
ٱللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُۥ ۗ
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.
maka tidak mungkinlah ada latihan2 khusus untuk menjadi nabi atau menjadi wali, sebagaimana orang yg berlebihan dalam agama, mereka melakukan latihan-latihan seperti bertapa, dzikir-dzikir dengan model atau irama tertentu hingga tingkatkan tertentu, atau lain², sehingga kelirulah perkataan falsafah bahwa nabi berlatih hingga menjadi nabi, atau semua orang bisa menjadi nabi
- Nabi Palsu
Rasulullah telah menerangkan kepada kita tentang huru hara akhir Zaman tentang para nabi palsu
Dan diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ، وَحَتَّى يَعْبُدُوا اْلأَوْثَانَ، وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِيْ ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ، لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ.
‘Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga beberapa kelompok dari umatku mengikuti kaum musyrikin dan hingga mereka menyembah berhala, dan sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku.’” (HR. Abu Dawud) atau dalam Shahihain disebutkan Dajjal-Dajjal
- Adapun Wali-Wali Allah
mereka merupakan orang yg taat pada Allah yaitu yg ibadahnya mengikuti Rasulullah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6502]
- Karomah Wali
karomah Wali yg paling tinggi bukanlah bisa terbang, berjalan diatas air, atau tidak mati saat ditembak
Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah dalam kitab Asyru Qowa’id fil Istiqomah menyebutkan
أعظمُ الكرامَةِ لزُومُ الاستقامَة
“ Karomah yang paling mulia adalah berpegang teguh dengan istiqomah”.
dlaam kitabnya yg lain beliau mengatakan “Tujuan (diberi) karomah itu hanyalah agar dapat berpegang teguh dengan istiqomah”.
dalam Madarijuls Salikin,Ibnu Qayyim menyebutkan “Jadilah orang yang beristiqomah, (dan) jangan menjadi pencari karomah, karena (sifat) jiwamu itu tergerak mencari karomah, sedangkan Rabb-mu menuntutmu untuk istiqomah!”.
Rasulullah saat itu dalam keadaan ummi (tidak bisa baca-tulis), yang menjadi bukti kebenaran mukjizat Al-Qur'an bukan karangan manusia.
C. Tafsir Ayat 1-5: Perintah Membaca dan keutamaan Ilmu
Ayat pertama: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
(Iqra') menekankan pentingnya ilmu dalam Islam.
Ayat Kedua: Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Allah menciptakan manusia dari 'alaq (segumpal darah), sebuah proses embriologis / ilmu pengetahuan penciptaan manusia, yang dijelaskan jauh sebelum teknologi modern.
dalam ayat lain Allah menjelaskan tentang Alaqoh, yaitu di awal QS. al-mu'minun ayat 12-16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِن سُلَـٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ ١٢
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
ثُمَّ جَعَلْنَـٰهُ نُطْفَةًۭ فِى قَرَارٍۢ مَّكِينٍۢ ١٣
Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَـٰمًۭا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَـٰمَ لَحْمًۭا ثُمَّ أَنشَأْنَـٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَـٰلِقِينَ ١٤
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu lalu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.
ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ ١٥
Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ تُبْعَثُونَ ١٦
Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat.
Ayat ketiga: Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
Ayat keempat: Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Qolam: Pena
dari Mujahid, ia bertata "sesungguhnya surat yang pertama kali diturunkan adalah 'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Kemudian 'Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis'
(Qs.Al Qalam [68]: l)
Sesungguhnya yang pertama kali Allah I ciptakan adalah Al-Qalam. Dan Dia memerintahkan untuk menulis tiap-tiap sesuatu yang ada.” (HR. Al-Baihaqi) Terdapat khilaf ulama apa makhluk yang pertama kali Allah ciptakan. Ada tiga pendapat dalam hal ini: 1. Al-Qalam (pena menulis takdir) Ini pendapat Ibnu Jarir At-Thabari dan Ibnul Jauzi. 2. Al-Maa’ (air) Ini pendapat Ibnu Mas’ud dan sebagian salam. 3. Al-‘Arsy, Ini pendapat Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.[9]
Ayat kelima: Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
alamal insan: insan:
- adam (diajarkan nama2 benda-benda semesta)
- nabi Muhammad
- manusia umumnya yg awalnya tidak tahu apa2 sejak dilahirkan
Allah Ta’ala berfirman,
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An Nahl : 78)
ibnu Katsir: Dan bahwa diantara kemurahan Allah Swt. ialah Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan ilmu.
Dan ilmu merupakan bobot tersendiri yang membedakan antara Abul Basyar (Adam) dengan malaikat.
Ilmu itu 1) adakalanya berada di hati, 2) adakalanya berada di lisan, 3) adakalanya pula berada di dalam tulisan tangan. Berarti ilmu itu mencakup tiga aspek, yaitu di hati, di lisan, dan di tulisan. Sedangkan yang di tulisan membuktikan adanya penguasaan pada kedua aspek lainnya, tetapi tidak sebaliknya.
seorang yg menulis, maka ia telah menguasai ilmu dalam hatinya dan dalam lisannya, sehingga menulis merupakan pekerjaan yg memiliki efek yg luar biasa terhadap ilmu sebagaimana dalam Diwan Asy-Syafii, Imam Syafii menerangkan tentang Pentingnya pena (Qalam) sebagai alat pengikat ilmu dan sarana untuk mencatat:
الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ - قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً - وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja
hal ini juga sejalan dengan sabda nabi, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah imu dengan dengan menulisnya” (Silsilah Ashohihah no. 2026)
______
D. Asbabun Nuzul Al-Alaq 6-19
Dalam Tafsir Jalalain:
1. Riwayat 1
Imam Ibnul Munzir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah r.a. yang telah menceritakan bahwa Abu Jahal telah berkata kepada teman-teman sekelompoknya: "Apakah kalian menginginkan supaya muka Muhammad dilumuri dengan pasir di hadapan kalian?" Mereka menjawab: "Ya". Lalu Abu Jahal melanjutkan perkataannya: "Demi Lata dan Uzza, jika aku melihat dia sedang melakukan salat, maka benar-benar aku akan injak leher-nya dan menaburkan pasir-pasir pada mukanya". Maka Allah menurunkan firman-Nya:
"Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas". (Q.S. Al-'Alaq, 6 dan seterusnya)
2. Riwayat 2
Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan,
- sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam. sedang melakukan salat,
- tiba-tiba muncul Abu Jahal mendatanginya seraya mencegahnya (sholat). Maka Allah menurunkan firman-Nya:
"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat". (Q.S. 96 Al-'Alaq, 9-10)
sampai dengan firman-Nya:
"(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka". (Q.S. 96 Al-'Alaq, 16)
3. Riwayat 3
Imam Turmużi telah mengetengahkan sebuah hadis berpredikat hasan lagi Shahih, dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan, bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wa Sallam sedang melakukan salat, tiba-tiba datanglah Abu Jahal menuju kepadanya seraya mengatakan: "Bukankah aku telah mencegah dan melarangmu mengerjakan hal ini (yakni salat)?" Nabi Shalallahu 'alaihi wa Sallam. menghardik dan mengusirnya, tetapi Abu Jahal malah berkata: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada seseorang pun di kota Mekah ini yang memiliki teman senadi lebih banyak daripada diriku".
Maka Allah SWT. segera menurunkan firman-Nya: "Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah". (Q.S. 96 Al-'Alaq, 17-18)
-----
E. Tafsir QS. Al-Alaq: 6-19
- Sifat Melampaui Batas (Ayat 6-8):
Ayat 6:
>> Inssan: abu Jahal sebagaimana nanti dijelaskan pada ayat 9
>> Togho: Melampaui batas pada diri manusia, yg diakibatkan karena telah melihat dirinya sudah cukup, sebagaimana ayat 7, sikap melampaui batas ayat 10
Ayat 7
أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ ٧
apabila melihat dirinya serba cukup.
>> Manusia melampaui batas dalam mengikuti hawa nafsunya, sehingga ia keluar dari jalur yang seharusnya. Nafsu itu bukan diikuti, tapi ditundukkan. Dalam sebuah hadist, Rasulullah memerintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita untuk mengikuti tuntunan Beliau, sebagai tanda keimanan, dalam Hadits Arbain ke-41.
>> Nafsu manusia bisa melanggar batas-batas Allah, merasa besar, sombong, merasa cukup tidak butuh Allah lagi.
- Merasa Cukup. Merasa cukup ini bisa menjadi anugrah, bisa juga menjadi bencana
yg positif: Qonaah, merasa cukup atas pemberian Allah
yg negatif: Sombong, merasa cukup dengan kemampuan sendiri
# merasa cukup bisa dalam beberapa hal: bertambahnya harta, ilmu, paras, jabatan, dll.
Maka merasa cukup yang salah adalah cukupkan diri dengan Takabbur, yaitu merasa semua yang didapat adalah dari diri sendiri, sehingga sudah cukup dengan kekuatan sendiri, tidap perlu bantuan pihak lain,tidak perlu bersandar pada pihak lain, hingga akhirnya tidak butuh kepada Allah dan tidak perlu berterima kasih dan bersyukur pada Allah.
Padahal pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah Ta'ala
# Maka hati2 dengan sifat Takabbur, solusi agar tiak melampaui batas menjadi Sombong adalah dengan memiliki sifat qanaah dan rasa syukur, ingat pada Allah, sebagaimana ayat selanjutnya
- Rakus/ lawan dari merasa Cukup, pun ada yang baik dan tercela,yang baik adalah rakus terhadap Ilmu, yg tercela adalah rakus pada dunia
Ayat 8
إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ ٨
Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu).
Ingatlah kepada Allah yang maha kekal, yang selalu ada. Selain dari Allah maka ada batasnya ada akhhirnya, sebagaimana hadist dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
- hidup ada batasnya, jika hidup selamanya maka justru bisa sengsara, usia 70 keriput, kropos, ompong, sakit2an selamanya
- cinta kepada Allah lah yg kekal, sementara sosok lain pasti memiliki perpisahan
- berbuatlah yg dengan itu kamu senang melihat nya ketika diakhirat
>> Maka kita perlu meresapi kalimat istirja,
إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali
Syeikh As-Sa'di menafsirkan kalimat istirja yg terdapat dalam QS. Al-Baqarah 156, yaitu, kami adalah milik Allah yang diatur di bawah perintah dan kekuasaannya. Kami tak punya hak sedikitpun terhadap harta maupun diri kami sendiri, bila Dia menguji kami dengan mengambil atau memusnahkan sesuatu darinya, maka pada hakikatnya Dia yang maha pengasih telah melakukan tindakan terhadap hamba-hamba miliknya dan harta-harta mereka. Oleh karena itu tidak perlu ada gugatan sama sekali terhadap semua itu bahkan termasuk kesempurnaan penghambaan seorang hamba adalah pengetahuannya bahwa terjadi suatu cobaan itu adalah dari yang memiliki lagi maha bijaksana, yang mana dia adalah dzat yang paling pengasih terhadap hamba-Nya daripada diri hamba itu sendiri.
Dengan demikian, hamba itu haruslah Ridho terhadap Allah dan bersyukur kepadaNya atas pengaturannya kepada sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya walaupun hamba itu sendiri tidak sadar akan hal tersebut.
Dan keadaan bahwa kami ini milik Allah, bersama itu kami juga akan kembali kepadaNya pada hari kebangkitan nanti. Lalu Dia akan membalas setiap perbuatan dari pelakunya, bila kami bersabar dan hanya mengharap pahala di sisi-Nya kami akan memperoleh ganjaran secara sempurna disisi-Nya, namun bila kami tidak bersabar dan mencaci-maki niscaya kami tidak memiliki apa-apa kecuali hanya murka dan lenyapnya pahala. Keberadaan seorang hamba bahwa dia milik Allah dan akan kembali kepadaNya adalah faktor terbesar yang menyebabkan tumbuhnya kesabaran.
# yg dilarang adalah mendoakan mereka saat sudah meninggal,
مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسْتَغْفِرُوا۟ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرْبَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَـٰبُ ٱلْجَحِيمِ ١١٣
Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat-(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam.
# jika bertakziah, maka cukup doakan keluarga yg masih hidup saja, untuk si mayitnya, cukup kalimat istirja, "innalillahi wa inna ilaihi Rajiun, semoga yang keluarga yg ditinggal diberikan ketabahan"
Dalam Tafsir Al-Qurtubi disebutkan: “Banyak ulama yang menyatakan bahwa tidak apa-apa seorang mendoakan kebaikan dan memintakan ampunan bagi kedua orang tua non-muslim selama mereka masih hidup” (Tafsiir al-Qurthubiy 8/274).
Namun perlu diperhatikan, bahwa tujuan berdoa, bukan untuk pribadinya belaka, tetapi ampunan itu dipanjatkan agar Allah hilangkan kerak² dosanya sehingga hatinya mudah untuk menerima dan masuk Islam. Dalam sebuah Hadiat menyebutkan, para nabi dahulu mendoakan ampunan untuk umatNya:
Dari Abu Abdurraḥmān Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Seakan-akan aku sedang melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bercerita tentang seorang Nabi yang dipukul oleh kaumnya hingga ia terluka dan berdarah, kemudian ia mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdoa, Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui (kebenaran)."(Muttafaq 'alaih)
Tunjuki mereka agar memeluk Islam yang menjadi sebab turunnya ampunan, karena dosa kekufuran tak akan diampuni; atau artinya, ampunilah mereka jika mereka telah memeluk agama Islam” (Umdah al-Qaariy Syarh Shahiih al-Bukhaari 23/19).
- Larangan Menghalangi Ibadah (Ayat 9-12):
Ayat 9-10
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يَنْهَىٰ ٩ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰٓ ١٠
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia melaksanakan salat?
# bahaya sembarangan menjawab tilawah Qur'an. biasanya pada acara pembacaan Quran, disetiap selesai ayat, hadirin mengucapkan lafadz Allah. maka perlu kita ketahui makna ayat agar menjawabnya tidak salah, sebagaimana praktik dari Rasulullah, dalam sebuah hadist disebutkan
# Bagian ini turun setelah dakwah terang-terangan dimulai, di mana Abu Jahal berusaha menghalangi Nabi shalat.
>> Aro-aita: Bagaimana pendapatmu. Pertanyaan dari Allah, karena ada perkara yang mengherankan
>> Yanha: yang melarang, yaitu Abu Jahal melarang seseorang untuk beribadah
# Manusia cenderung melampaui batas (toghwa) ketika merasa dirinya sudah cukup atau kaya. Yaitu Abu Jahal. Allah memberikan ancaman kepada orang yang sombong dan melarang ibadah, serta memberikan jaminan perlindungan bagi Nabi.
>> Abdan: seorang hamba, yaitu Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam
>> Sholla: Sholat
Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Allah berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, “Bagaimana pendapatmu,” wahai orang yang melarang orang untuk shalat, “jika dia,” yakni hamba yang shalat,
Ayat 11-12
أَرَءَيْتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلْهُدَىٰٓ ١١ أَوْ أَمَرَ بِٱلتَّقْوَىٰٓ ١٢
Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang salat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk), atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
>> in kana: Jika, dia(nabi) yg sedang sholat dan kamu (Abu Jahal) larang itu
>> 'alal huda: diatas Petunjuk Wahyu Al-Qur'an
>> taqwa: ikhlas & Tauhid
Beramal baik tanpa keduanya tidak cukup mendapatkan tingkatan Taqwa, hendaklah menyembah Allah tanpa iming-iming
Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Allah berfirman untuk orang yang membangkang lagi angkuh ini, “Bagaimana pendapatmu (Abu Jahal),” wahai orang yang melarang orang untuk shalat, “jika dia (Muhammad),” yakni hamba yang shalat, “berada di atas kebenaran,” yakni mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, “atau dia menyuruh” orang lain untuk “bertakwa (kepada Allah), “ patutkah orang yang sifatnya seperti ini dicegah? Bukankah mencegahnya adalah salah satu penentangan terbesar terhadap Allah dan perang terhadap kebenaran? (seharusnya) Larangan ini hanya tertuju pada orang yang dirinya sendiri tidak berada di atas petunjuk atau orang yang memerintahkan orang lain agar tidak bertakwa.
An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi. Allah berkata : Allah heran, keheranan apa lagi selain ini wahai orang yang dungu (Abu Jahl) yang melarang Nabi ﷺ shalat di sisi ka’bah. Maka jika Muhammad ﷺ kokoh di atas pendiriannya, atau ia diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, dan takut pada-Nya, maka apakah dibenarkan pendosa ini melarang atas urusan (Muhammad ﷺ)?
Ayat 13
أَرَءَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ ١٣
Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling?
>> Aro-aita: Bagaimana pendapatmu: Allah meminta pendapat dari Nabi tentang orang aneh itu
>> kazzaba: mendustakan AlQuran
>> watawalla: berpaling/tidak mau beriman pada Quran
berpaling: melakukan kebalikan dari Rasulullah, Rasulullah berbuat kebaikan dan menyeru pada petunjuk, sedangkan dia melarang orang sholat dan menyeru pada kesesatan
Ayat 14
>> an-nallaha yaro: Sesungguhnya Allah melihat > muroqobatullah
- Malaikat roqib atid
- malaikat siang dan malam
- malaikat asar mencatat, siapa yg tidak sholat asar, maka tidak ada catatan amalan pada hari itu tertolak
- ihsan kepada Allah,
- ihsan sesama manusia,
- dan ihsan kepada lingkungan sekitar.
Ayat 15-16
>> khoti': sengaja, mukhti: tidak sengaja
Disebutkan pernah ada penelitian, bagian otak yg biasa berdusta adalah bagian paling depan/ubun ubun
Ayat 17
Ayat 18
سَنَدْعُ ٱلزَّبَانِيَةَ ١٨
Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa).
>> zabaniah: jamak dari zibniyun / az-zibni : menolak. malaikat yg menolak keras manusia ke neraka Jahannam. manusia tidak mau, tapi dipaksa, diseret
Malaikat Zabaniah, malaikat yang bertugas menyeret orang-orang yang ingkar dan sombong ke dalam neraka
>> Dalam Ibnu Katsir, Ayat ini seolah ingin mengadu antara kekuatan Tentara Allah (Zabaniyah) dan kekuatan Kelompok Abu Jahal: Mereka adalah malaikat juru siksa; sehingga dia mengetahui siapakah yang menang, apakah golongan Kami ataukah golongan dia?
keadaan yg mau masuk neraka
digiring: zumar
dilempar
diseret
Ayat 19
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب ۩ ١٩
Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).
>> Kalla laa Tuthi': Jangan patuh kepadanya. Yakni hai Muhammad, janganlah kamu patuh kepada orang itu yang melarang kamu melakukan rutinitas ibadahmu, melainkan teruskanlah salatmu menurut yang kamu sukai. Janganlah engkau pedulikan dia, karena sesungguhnya Allah-lah yang memeliharamu dan menolongmu, dan Dia akan memelihara kamu dari gangguan orang lain.
>> Wasjud Waq'tarib: dan Sujud serta mendekatlah. Tapi sujudlah maka akan dekat dgn Allah. sujud amalan paling dekat dgn Allah
# Hendaklah kita untuk tetap menjalankan ibadah salat dan sujud kepada Allah, meskipun ada pihak yang mencoba menghalangi atau mengejek.
# Sujud Tilawah dapat dilakukan baik didalam sholat atau diluar sholat
- sujud saat kondisi Sholat
- Diluar Sholat
- Saat Khutbah
Kurang lebih Ayat sajadah di dalam Alquran terdapat pada lima belas tempat
- Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah:
- Al-A’raf ayat 206
- Ar-Ra’du ayat 15
- An-Nahl ayat 49-50
- Al-Isra’ ayat 107-109
- Maryam ayat 58
- Al-Hajj ayat 18
- Al-Furqan ayat 60
- An-Naml ayat 25-26
- As-Sajdah ayat 15
- Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)
- Shaad ayat 24, ayat Sujudnya Daud karena berbuat salah
- An-Najm ayat 62 (ayat terakhir)
- Al-Insyiqaq ayat 20-21
- Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)
- sholat subuh jumat, baca assajdah & insan
- agar tidak patuh kepada orang yang zalim dan mengajak untuk sujud.
- Kondisi paling dekat seorang hamba dengan Allah adalah saat sedang bersujud.
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung