A. Asbabun Nuzul
dari Ibnu Abbas, bahwa pernah ada seorang lelaki yang memiliki banyak pohon kurma, yang salah satunya bercabang keluar pagar masuk ke rumah seorang lelaki yang saleh, miskin, dan beranak banyak.
Maka apabila lelaki itu datang dan hendak memetik buah pohon kurma yang satu itu, ia memasuki pekarangan rumah orang yang saleh itu, lalu baru memetiknya. Maka berjatuhanlah buahnya, dan anak-anak lelaki yang miskin itu memungutnya.
Kemudian lelaki pemilik kurma itu turun dari pohonnya dan merampas buah kurma yang ada di tangan mereka. Jika seseorang dari mereka telah memasukkan buah kurma itu ke dalam mulut-nya, maka lelaki itu memasukkanjari tangannya ke mulut anaktersebut dan mencabut buah kurma yang hampir ditelannya dari kerongkongannya.
Maka lelaki yang miskin itu mengadu kepada Nabi Saw. dan menceritakan kepada beliau sikap dari pemilik buah kurma tersebut. Nabi Saw. bersabda kepadanya, "Sekarang mari kita berangkat."
Lalu Nabi Saw. menjumpai lelaki pemilik pohon kurma itu dan bersabda kepadanya: Berikanlah kepadaku pohon kurmamu yang cabangnya berada di pekarangan rumah si Fulan, maka engkau akan mendapatkan gantinya sebuah pohon kurma di surga nanti.
Lelaki pemilik kurma itu menjawab, "Bisa saja aku memberikannya, tapi sesungguhnya aku banyak memiliki pohon kurma, ternyata tiada suatu pun darinya yang buahnya lebih aku sukai daripada buah pohon kurma yang ini."
Nabi Saw. pergi, dan beliau diikuti oleh seseorang yang mendengar pembicaraan Nabi Saw. kepada lelaki pemilik kurma itu, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, jika pohon kurma itu aku ambil dan telah menjadi milikku, dan aku berikan kurma itu kepada engkau, apakah engkau akan memberiku sebagai gantinya sebuah pohon kurma di surga?'" Rasulullah menjawab, "Ya."
Kemudian lelaki itu menjumpai lelaki pemilik kurma tersebut; keduanya adalah pemilik pohon kurma yang banyak jumlahnya. Lalu ia berkata kepadanya, "Aku akan menceritakan kepadamu, bahwa Muhammad bersedia memberiku sebuah pohon kurma di dalam surga sebagai ganti dari pohon kurmaku yang condong ke pekarangan rumah si Fulan. Maka kukatakan kepadanya bahwa aku bisa saja memberikannya, tetapi buah pohon kurma itu benar-benar sangat kusukai."
Lelaki itu diam tidak menanggapi, lalu ia berkata kepada pemilik kurma itu, "Bagaimanakah pendapatmu jika kamu jual saja pohon kurma itu." Pemilik kurma menjawab, "Tidak akan, kecuali jika gantinya adalah sesuatu yang berarti. Tetapi menurut dugaanku, tiada seorang pun yang mau menukarkannya." Lelaki itu bertanya (kepada pemilik kurma itu), "Lalu berapakah jumlah yang engkau inginkan sebagai gantinya?" Lelaki pemilik kurma itu menjawab, "Empat puluh pohon kurma." Lelaki itu berkata, "Sesungguhnya engkau terlalu membesar-besarkan masalah, satu pohon kurmamu minta ditukar dengan empat puluh pohon kurma lainnya."
Keduanya terdiam, dan keduanya memulai pembicaraan lagi. Pada akhirnya lelaki itu menyerah dan berkata, "Baiklah, aku ganti satu pohon kurmamu itu dengan empat puluh pohon kurmaku." Pemilik kurma berkata, "Adakah persaksian jika engkau adalah seorang yang benar."
Maka lelaki itu menyuruh orangnya untuk memanggil orang banyak, lalu ia berkata, "Saksikanlah oleh kalian, bahwa sesungguhnya aku memberi sebagian dari pohon kurma milikku sebanyak empat puluh pohon sebagai penukaran dari sebuah pohon kurmanya yang cabangnya condong ke dalam pekarangan rumah si Fulan ibnu Fulan." Kemudian lelaki itu bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu dengan persaksian ini?" Pemilik kurma menjawab, "Aku rela."
Kemudian pemilik kurma itu berkata, "Tiada jual beli antara aku dan kamu selama kita belum berpisah." Lelaki itu berkata, "Sesungguhnya Allah telah memecatmu, dan aku bukanlah orang yang pandir saat memberimu empat puluh pohon kurma sebagai ganti dari sebuah pohon kurmamu yang condong itu." Pemilik kurma berkata, "Sesungguhnya aku rela, dengan syarat engkau memberiku empat puluh pohon kurma menurut apa yang kukehendaki." Dan pemilik kurma itu berkata lagi, "Engkau memberiku berikut dengan pohonnya." Lelaki itu diam sejenak, lalu berkata, "Ya, empat puluh pohon kurma berikut semua batangnya adalah untukmu," lalu ia mengajak saksi-saksi saat menghitung empat puluh batang pohon kurma tersebut, setelah itu keduanya bubar.
Kemudian lelaki itu pergi menghadap Rasulullah Saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya pohon kurma yang condong ke dalam pekarangan rumah si Fulan itu telah menjadi milikku, maka aku berikan ia kepadamu."
Maka Rasulullah Saw. pergi menjumpai lelaki yang miskin lagi banyak anaknya itu, lalu bersabda kepadanya: Sekarang pohon kurma itu adalah menjadi milikmu dan anak-anakmu. Ikrimah mengatakan, Ibnu Abbas mengatakan bahwa lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), (Al-Lail: 1) sampai dengan firman-Nya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (Al-Lail: 5-10), hingga akhir surat. (HR. Ibnu Abi Hatim)
Imam Ibnu Katsir memberikan komentarnya, bahwa hadis ini berpredikat garib jiddan (aneh sekali).
Imam Hakim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Amir ibnu Abdullah ibnuz Zubair yang ia terima dari ayahnya yang telah menceritakan bahwa Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar: "Aku lihat kamu telah memerdekakan banyak budak yang lemah. Alangkah baiknya seandainya kamu memerdekakan budak-budak yang kuat-kuat yang mampu membela dan melindungi dirimu, hai anakku". Abu Bakar inenjawab: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku melakukan demikian hanyalah karena mengharapkan pahala yang ada di sisi Allah". Kemudian turunlah ayat-ayat ini berkenaan dengan sikap Abu Bakar itu, yaitu firman- Nya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa". (Q.S. 92 Al-Lail, 5 hingga akhir surat)
Imam Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui urwah, bahwa Abu Bakar Aq-Siddiq telah memerdekakan tujuh orang hamba sahaya yang semuanya disiksa oleh majikan mereka karena beriman kepada Allah. Berkenaan dengan sikapnya itu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: "Dan kelak akan dijauhkan orang yang bertakwa dari neraka itu". (Q.S 92 Al-Lail, 17 hingga akhir surat)
Imam Bazzar telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnuz Zubair yang telah menceritakan bahwasanya ayat ini, yaitu firman-Nya: "Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya (Q.S. 92 Al-Lail, 19 hingga akhir surat). diturunkan berkenaan dengan amal perbuatan yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq.
B. Tafsir
Kemudian lelaki itu pergi menghadap Rasulullah Saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya pohon kurma yang condong ke dalam pekarangan rumah si Fulan itu telah menjadi milikku, maka aku berikan ia kepadamu."
Maka Rasulullah Saw. pergi menjumpai lelaki yang miskin lagi banyak anaknya itu, lalu bersabda kepadanya: Sekarang pohon kurma itu adalah menjadi milikmu dan anak-anakmu. Ikrimah mengatakan, Ibnu Abbas mengatakan bahwa lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), (Al-Lail: 1) sampai dengan firman-Nya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (Al-Lail: 5-10), hingga akhir surat. (HR. Ibnu Abi Hatim)
Imam Ibnu Katsir memberikan komentarnya, bahwa hadis ini berpredikat garib jiddan (aneh sekali).
Imam Hakim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Amir ibnu Abdullah ibnuz Zubair yang ia terima dari ayahnya yang telah menceritakan bahwa Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar: "Aku lihat kamu telah memerdekakan banyak budak yang lemah. Alangkah baiknya seandainya kamu memerdekakan budak-budak yang kuat-kuat yang mampu membela dan melindungi dirimu, hai anakku". Abu Bakar inenjawab: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku melakukan demikian hanyalah karena mengharapkan pahala yang ada di sisi Allah". Kemudian turunlah ayat-ayat ini berkenaan dengan sikap Abu Bakar itu, yaitu firman- Nya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa". (Q.S. 92 Al-Lail, 5 hingga akhir surat)
Imam Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui urwah, bahwa Abu Bakar Aq-Siddiq telah memerdekakan tujuh orang hamba sahaya yang semuanya disiksa oleh majikan mereka karena beriman kepada Allah. Berkenaan dengan sikapnya itu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: "Dan kelak akan dijauhkan orang yang bertakwa dari neraka itu". (Q.S 92 Al-Lail, 17 hingga akhir surat)
Imam Bazzar telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnuz Zubair yang telah menceritakan bahwasanya ayat ini, yaitu firman-Nya: "Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya (Q.S. 92 Al-Lail, 19 hingga akhir surat). diturunkan berkenaan dengan amal perbuatan yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq.
B. Tafsir
وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ ١
1. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
IK: Menyelimuti semua makhluk dengan kegelapannya
J: menutupi semua apa yang ada di langit dan di bumi dengan kegelapan
# kebiasaan orang arab, ketika ingin menekankan sesuatu, maka diawali dengan sumpah.
demikian lah Allah menurunkan Firman nya ditanah arab,
إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّۭا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ٢
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur`an berbahasa Arab, agar kamu mengerti. (QS. Yusuf: 2)
sehingga Al-Quran pun menggunakan metode mereka, yakni mendahului suatu yg penting dengan kata sumpah
# hanya Allah yg berhak bersumpah dengan apa saja yg Allah kehendaki
# sedangkan kita tidak boleh bersumpah, kecuali bersumpah dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah
Rasulullah bersabda.
مَن حلَفَ بغَيرِ اللهِ فقدْ كفَرَ أو أشرَكَ
“Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah maka dia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan” [Abu Daud dalam kitab Al-Iman 3251. At-Tirmidzi dalam kitab An-Nudzur 1535]
Pembukaan surat dengan Sumpah: Allah bersumpah demi malam
keutamaan waktu malam:
1. waktu terbaik berduaan dengan Allah,”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)
2. sholat malam lebih dicintai Allha dari sholat siang,“Lakukanlah salat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan, dan mencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi, hadis hasan)
3. sholat wajib di awal kenabian adalah qiamullailDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharrom. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
4. pujian Allah untuk penghuni surga,
كَانُوا۟ قَلِيلًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ١٧ وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ١٨
mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).
5. Derajat orang-orang yg sholat malam
“Barangsiapa yang salat malam dengan membaca 10 ayat, maka dia tidak dicatat sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang salat malam dengan membaca 100 ayat, maka dicatat sebagai orang yang taat (tunduk kepada Allah). Dan barangsiapa yang salat malam dengan membaca 1000 ayat, maka dia dicatat sebagai orang yang mendapatkan pahala yang melimpah (muqanthirin).”(HR. Abu Dawud no. 1398 dan Ibnu Hibban no. 2572)
وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ ٢
2. demi siang apabila terang benderang,
J: yaitu Apabila menampakkan dirinya
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىٓ ۙ ٣
3. dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan,
> Makna huruf Ma pada ayat ini:
1. ma mausul: alladzi: yg menciptakan laki-laki dan perempuan : yaitu Demi Allah
2. ma masdariyah: demi penciptaan laki dan perempuan. dalam riwayat lain, wa dzakari wal unsa
IK: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Alqamah, bahwa ia datang ke negeri Syam, lalu masuk masjid Dimasyq (Damaskus) dan mengerjakan salat dua rakaat di dalamnya, lalu mengucapkan doa berikut: "Ya Allah, berilah aku rezeki teman duduk yang saleh." Lalu duduklah ia bergabung ke dalam majelis Abu Darda, maka Abu Darda bertanya kepadanya, "Dari manakah engkau berasal?" Alqamah menjawab, "Dari Kufah." Abu Darda bertanya, bahwa bagaimanakah engkau mendengar bacaan Ibnu Ummi Abdin (maksudnya Abdullah ibnu Mas'ud) terhadap firman Allah Swt: Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan. (Al-Lail: 1-3)
Maka Alqamah membacakannya dengan bacaan berikut: dan (demi) laki-laki dan perempuan. (Al-Lail: 3) Tanpa memakai wama khalaqa, sehingga bacaannya menjadi waz zakari wal un'sa. Maka Abu Darda menjawab, bahwa sesungguhnya ia pernah mendengar bacaan itu dari Rasulullah Saw., tetapi mereka masih tetap meragukan bacaan itu. Dan demikianlah ayat ini dibaca oleh Ibnu Mas'ud dan Abu Darda; dan Abu Darda sendiri telah me-rafa'-kannya, yakni telah mendengarnya langsung dari Rasulullah Saw.
Adapun menurut pendapat jumhur ulama, maka mereka membacanya sebagaimana yang termaktub di dalam mushaf usmani, yaitu mushaf induk yang telah disebarkan ke berbagai negeri Islam di masa itu, yaitu: dan penciptaan laki-laki dan perempuan. (Al-Lail: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
وَخَلَقْناكُمْ أَزْواجاً
dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. (An-Naba': 8)
Dan firman-Nya:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنا زَوْجَيْنِ
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan. (Adz-Dzariyat: 49)
Mengingat sumpah yang dikemukakan dengan menyebut nama berbagai hal yang berlawanan, maka subjek sumpahnya pun demikian pula. yaitu menekankan tentang urusan manusia itu beragam
- Ragam urusan manusia
اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ ٤
4. sesungguhnya usahamu benar-benar beraneka ragam.
ada siang, malam, ada gelap terang, ada pria dan wanita
usaha manusia juga beraneka ragam
baik, buruk, jadilah yg baik,
J: beraneka macam; ada orang yang beramal atau bekerja untuk mendapatkan surga, dengan cara menempuh jalan ketaatan; dan ada pula orang yang beramal atau bekerja untuk neraka, dengan cara menempuh jalan kemaksiatan.
dermawan, dan pelit
- Ragam 1: Dermawan
فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ ٥
5. Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa
# dikaitkan dengan takwa, sehingga menjukkan keduanya tidak dipisah
sehingga dermawan ada 2: dikaitkan dengan takwa dan yg tidak bertakwa
1. infak dengan takwa: infak dengan tulus ikhlas
2. infak tanpa takwa:
- riya,
- ujub,
- mengungkit sedekah
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌۭ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌۭ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًۭا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍۢ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَـٰفِرِينَ ٢٦٤
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya` (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (QS. Al-Baqoroh : 264)
- termasuk juga, mampu bersedekah, tapi belum bayar hutang
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya, sampai hutang itu dilunaskannya.” (HR. At Tirmidzi No. 1079, Ibnu Majah No. 2413, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalamTahqiq Musnad Ahmad No. 10607)
Syaikh Abul ‘Ala Al-Mubarfkafuri rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Berkata As Suyuthi, yaitu orang tersebut tertahan untuk mencapai tempatnya yang mulia. Sementara Imam Al ‘Iraqi mengatakan urusan orang tersebut terhenti (tidak diapa-apakan), sehingga tidak bisa dihukumi sebagai orang yang selamat atau binasa, sampai ada kejelasan nasib hutangnya itu sudah dibayar atau belum.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/164, Darul Kutub Al-ilmiyah, Beirut, Syamilah)
ikhlas itu berat. beramal tanpa riya, sum'ah, ujub, mengungkit kebaikan
Syaikh Abul ‘Ala Al-Mubarfkafuri rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Berkata As Suyuthi, yaitu orang tersebut tertahan untuk mencapai tempatnya yang mulia. Sementara Imam Al ‘Iraqi mengatakan urusan orang tersebut terhenti (tidak diapa-apakan), sehingga tidak bisa dihukumi sebagai orang yang selamat atau binasa, sampai ada kejelasan nasib hutangnya itu sudah dibayar atau belum.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/164, Darul Kutub Al-ilmiyah, Beirut, Syamilah)
ikhlas itu berat. beramal tanpa riya, sum'ah, ujub, mengungkit kebaikan
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ ٦
6. serta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga),
Orang yang bertakwa: Mereka yang memberi (bersedekah), bertakwa, dan membenarkan janji Allah (Al-Husna).
Husna
tobari: maksudnya membenarkan 3 hal
1. IK: kalimat terbaik, yaitu kalimat tauhid. J: Membenarkan Kalimat Tauhid: infak di jalan Allah yang dilakukannya dan bertakwa kepada-Nya yang dijalankannya itu tiada lain berangkat dari keimanannya kepada kalimat La ilaha illa Allah
2. surga, IK: dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang makna Al-Husna ini, maka beliau Saw. menjawab:
«الْحُسْنَى: الجنة» Al-Husna ialah surga.
3. IK: Balasan Pahala, Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abu Saleh, dan Zaid ibnu Aslam: Yakni percaya dengan adanya penggantian. percaya akan diberi ganti oleh Allah atas infak (pinjaman) yg ikhlas karena Allah
مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًۭا فَيُضَـٰعِفَهُۥ لَهُۥ وَلَهُۥٓ أَجْرٌۭ كَرِيمٌۭ ١١
Barangsiapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia, (QS. Al-Hadid: 11)
Allah namakan infak dengan sebitan qord: hutang, seakan kita meminjamkan kepada Allah, dan akan Allah bayar hutang itu kelak diakhirat
- keutamaan sedekah
1. Allah Jamin
يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ"Wahai anak Adam, berinfaklah (bersedekahlah), niscaya Aku akan memberi nafkah (rezeki) kepadamu." (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Tiap pagi 2 malaikat berdoa: yaa Allah beri ganti
"Tidak ada satu hari pun ketika seorang hamba memasuki waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa: 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.' Dan yang lainnya berdoa: 'Ya Allah, berikanlah kehancuran (harta) bagi orang yang kikir.'" (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Sedekah tidak mengurangi harta
"Sedekah itu tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim).
maka intinya, washoddawobil husna, ketika bershodaqoh, maka sertailah dengan membenarkan 'Husna'
# kebutuhan si kaya kepada si miskin, itu melebihi kebutuhan si miskin dari si kaya
>>> kebutuhan si kaya: pahala2 akhirat, meredam kemurkaan Allah, rezeki ditambah, kebahagiaan /kelembutan hati saat bersedekah
>>> si miskin hanya dapat, makan, minum, kebutuhan, selesai
فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ ٧
7. Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan).
> Yusro:
IK: Kebaikan, Menurut Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah kebaikan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, termasuk pahala kebaikan ialah mengerjakan kebaikan lagi sesudahnya, dan termasuk balasan keburukan ialah mengerjakan keburukan lagi sesudahnya.
J: Surga, IK: Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah surga.
Kebahagiaan mudah didapatkan, allah yg mudahkan, didorong pula dari didoakan oleh si miskin
- kelapangan dari bersedekah
sehingga terdapat sebuah kaidah : Al-Jazā’ min Jinsil ‘Amal (الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ)
Allah Ta’ala juga berfirman,
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)
- kikir dan balasannya
وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ ٨
8. Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah)
> Kikir: IK: kikir dengan apa yang ada pada sisi (milik)nya.
> Merasa Cukup: IK: Ikrimah telah mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah kikir dengan hartanya dan merasa dirinya telah cukup, tidak memerlukan Allah Swt.
J: Tidak membutuhkan pahala-nya
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ ٩
9. serta mendustakan (balasan) yang terbaik,
Orang yang kikir: Mereka yang pelit, merasa cukup dengan diri sendiri, dan mendustakan janji Allah.
IK: Yakni mendustakan adanya balasan pahala di negeri akhirat.
فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ ١٠
10. Kami akan memudahkannya menuju jalan kesengsaraan.
# Allah akan memudahkan mereka menuju kesulitan atau kesengsaraan
J: 'Usro: Neraka
IK: Yaitu untuk menuju ke jalan keburukan, sebagaimana pengertian yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصارَهُمْ كَما لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيانِهِمْ يَعْمَهُونَ
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati danpenglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (Al-An'am: 110)
IK: Dan ayat-ayat lain yang semakna cukup banyak yang semuanya menunjukkan bahwa Allah Swt. membalas orang yang berniat untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya, dan barang siapa yang berniat akan melakukan keburukan, Allah akan menghinakannya; dan semuanya itu berdasarkan takdir yang telah ditetapkan.
dari Ali ibnu Abu Talib r.a. yang telah mengatakan bahwa:
ketika kami sedang mengebumikan jenazah di Baqi'ul Garqad, maka datanglah Rasulullah Saw., lalu beliau duduk dan kami pun duduk pula di sekitarnya, sedangkan di tangan beliau terdapat sebuah tongkat kecil, lalu ia mengetukkan tongkatnya dan bersabda, "Tiada seorang pun dari kami atau tiada suatu diri pun yang bernyawa, melainkan telah dipastikan kedudukannya dari surga dan nerakanya, atau terkecuali telah tercatat apakah dia orang yang celaka ataukah orang yang berbahagia." Maka ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bolehkah kita menyerahkan diri kita kepada apa yang telah ditetapkan dan kita meninggalkan amal (berusaha)? Mengingat siapa di antara kita yang telah ditakdirkan termasuk orang-orang yang berbahagia, dia pasti akan menjadi golongan orang-orang yang berbahagia. Dan siapapun dari kita yang telah ditakdirkan menjadi orang-orang yang celaka, maka pastilah dia termasuk orang-orang yang celaka?" Maka Rasulullah Saw. menjawab: Adapun orang yang telah ditakdirkan termasuk orang-orang yang berbahagia, maka dimudahkan bagi mereka untuk mengamalkan perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan adapun orang yang telah ditakdirkan termasuk orang-orang yang celaka, maka dimudahkan bagi mereka melakukan perbuatan orang-orang yang celaka. Kemudian beliau Saw. membaca firman-Nya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan)yang sukar. (Al-Lail: 5-10) (HR. Bukhari)
وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهٗٓ اِذَا تَرَدّٰىٓۙ ١١
11. Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.
di dunia - uang habis pada suatu yg tidak bermanfaat
di akhirat - akibat uang disimpan karena saking sayangnya pada harta, sehingga dikatakan ((orang pelit, hidup seperti orang miskin, dihisab seperti orang kaya)
J: Tarodda:
1. Mati: IK: Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila yang bersangkutan mati.
2. Masuk neraka (J): IK: Abu Saleh dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa makna yang dimaksud ialah bila' orang yang bersangkutan telah dilemparkan ke dalam neraka
# maka tidak berguna lagi harta yg dulu mereka usahakan jika mereka telah mati / masuk neraka
Bersambung
اِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدٰىۖ ١٢
12. Sesungguhnya Kamilah yang (berhak) memberi petunjuk.
semua sudah ditakdirkan, jalan mana yg ditempuh orang, dia sadar bisa memilih
وَهَدَيْنَـٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ ١٠
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikkan dan kejahatan).
IK: Qotadah: menerangkan yang halal dan yang haram
T: bahwa barang siapa yang menempuh jalan petunjuk, akan sampailah ia kepada Allah.
Dan berpendapat demikian menjadikan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan berpendapat demikian menjadikan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ}
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus. (An-Nahl: 9)
Artinya, jalan yang lurus itu akan menghantarkan kepada Allah.
Artinya, jalan yang lurus itu akan menghantarkan kepada Allah.
وَاِنَّ لَنَا لَلْاٰخِرَةَ وَالْاُوْلٰىۗ ١٣
13. Sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia.
IK: Akulah yang mengatur pada keduanya.
J: maka barang siapa yang mencari keduanya tanpa meminta kepada Kami, berarti dia telah sesat jalan
- Balasan Neraka untuk Manusia Yang Celaka
فَاَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظّٰىۚ ١٤
14. Aku memperingatkanmu dengan neraka yang menyala-nyala.
wahai orang-orang yg kikir, ingatlah akan dahsyatnya api neraka yang menyala-nyala dan mengingatkan bahwa harta tidak akan berguna bagi pemiliknya jika ia sudah binasa.
penghuni neraka yg paling ringan adalah yg sendalnya dipakai, kepala mendidih
Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksaannya di hari kiamat ialah seorang lelaki yang diletakkan dua buah bara api neraka di kedua telapak kakinya, yang karenanya otaknya mendidih. (HR. Ahmad)
orang kaya didunia, ketika dicelup di neraka, ia lupa
orang kaya didunia, ketika dicelup di neraka, ia lupa
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Pada Hari Kebangkitan, orang kafir yang hidup paling mewah akan dibawa, dan akan dikatakan: 'Celupkan dia sekali ke dalam Neraka.' Maka dia akan dicelupkan ke dalamnya, kemudian akan dikatakan kepadanya: 'Wahai si Fulan, apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?' Dia akan berkata: 'Tidak, aku tidak pernah merasakan kenikmatan.' Kemudian orang beriman yang paling menderita dan tertimpa musibah akan dibawa, dan akan dikatakan: 'Celupkan dia sekali ke dalam Surga.' Maka dia akan dicelupkan ke dalamnya dan akan dikatakan kepadanya: 'Wahai si Fulan, apakah kamu pernah mengalami kesulitan atau musibah?' Dia akan berkata: 'Aku tidak pernah mengalami kesulitan atau musibah.'" (HR. Ibnu Majah)
لَا يَصْلٰىهَآ اِلَّا الْاَشْقَىۙ ١٥
15. Tidak masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
IK: Yaitu tiada yang dijerumuskan ke dalamnya sehingga diliputi oleh api neraka dari segala penjurunya kecuali hanya orang yang paling celaka.
Rasulullah Saw. telah bersabda: Tiada yang masuk neraka selain orang yang celaka. Ketika ditanyakan kepada beliau Saw.”Siapakah orang yang celaka itu?" Maka beliau Saw. menjawab: Orang yang tidak mau mengamalkan ketaatan kepada Allah dan tidak mau meninggalkan perbuatan durhaka kepada-Nya. (HR. Ahmad)
J: Berpaling dari iman
الَّذِيْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ ١٦
16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari keimanan).
IK: Maksudnya, hatinya mendustakan hal tersebut. dan Berpaling : Yakni semua anggota tubuhnya tidak mau mengamalkannya.J: Berpaling dari iman
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Semua umatku akan masuk surga di hari kiamat nanti, terkecuali orang yang membangkang. Ketika mereka bertanya, "Siapakah orang yang membangkang itu, wahai Rasulullah Saw.?" Maka beliau Saw. menjawab: Barang siapa yang taat kepadaku, niscaya masuk surga; dan barang siapa durhaka kepadaku, berarti dia membangkang. (HR. Ahmad)
----
Beberapa ayat berikut berkenaan dengan Abu Bakar
Ayat ini turun sebagai kemuliaan bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq yang gemar memerdekakan budak (seperti Bilal bin Rabah) semata-mata mengharapkan wajah Allah
الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهٗ يَتَزَكّٰىۚ ١٨
18. yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak).
J: untuk membersihkannya di sisi Allah swr., umpamanya dia mengeluarkannya bukan karena ria atau pamer dan gengsi, maka setelah itu harta yang dimilikinya menJadi bersih di sisi-Nya nanti.
IK: Yaitu membelanjakan hartanya untuk jalan ketaatan kepada Tuhannya, untuk mensucikan dirinya, hartanya dan segala apa yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya berupa agama dan dunia.
وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ ١٩
19. Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas,
IK: Maksudnya adalah bahwa orang-orang yang bertakwa membantu orang lain bukan karena orang itu berjasa kepadanya sehingga perlu membalasnya, melainkan hanya mengharap rida Allah, sebagaimana ayat selanjutnya.
----
- Balasan Dijauhkannya seseorang dari Neraka bila ia bertakwa
Beberapa ayat berikut berkenaan dengan Abu Bakar
Ayat ini turun sebagai kemuliaan bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq yang gemar memerdekakan budak (seperti Bilal bin Rabah) semata-mata mengharapkan wajah Allah
وَسَيُجَنَّبُهَا الْاَتْقَىۙ ١٧
17. Akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa,
الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهٗ يَتَزَكّٰىۚ ١٨
18. yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak).
J: untuk membersihkannya di sisi Allah swr., umpamanya dia mengeluarkannya bukan karena ria atau pamer dan gengsi, maka setelah itu harta yang dimilikinya menJadi bersih di sisi-Nya nanti.
IK: Yaitu membelanjakan hartanya untuk jalan ketaatan kepada Tuhannya, untuk mensucikan dirinya, hartanya dan segala apa yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya berupa agama dan dunia.
وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ ١٩
19. Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas,
IK: Maksudnya adalah bahwa orang-orang yang bertakwa membantu orang lain bukan karena orang itu berjasa kepadanya sehingga perlu membalasnya, melainkan hanya mengharap rida Allah, sebagaimana ayat selanjutnya.
اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ ٢٠
20. kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
J: artinya, dia memberikan hartanya itu hanya karena mengharapkan pahala Allah
IK: Yakni hanyalah semata-mata karena mengharapkan untuk dapat melihat Allah di negeri akhirat di dalam taman-taman surga.
وَلَسَوْفَ يَرْضٰى ࣖ ٢١
21. Sungguh, kelak dia akan mendapatkan kepuasan (menerima balasan amalnya).
J: yakni dari pahala pemberiannya itu di surga nanti. Makna ayat ini mencakup pula setiap orang yang mengerjakan amal perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh Abu Bakar, dia akan dijauhkan dari neraka dan mendapatkan pahala yang berlimpah
Berapa banyak uang dinar dan dirham yang telah dibelanjakan Abu Bakar demi mengharapkan rida Tuhannya Yang Mahamulia, padahal tiada seorang pun yang berjasa baginya hingga perlu untuk ia balas jasanya itu dengan imbalan pemberian. Bahkan kemurahan dan kebaikannya juga menyentuh para pemimpin, dan orang-orang yang terhormat dari kalangan berbagai kabilah.
Karena itulah Urwah ibnu Mas'ud pemimpin Bani Saqif ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah mengatakan kepada Abu Bakar, "Ingatlah, demi Allah, seandainya saja aku tidak teringat akan jasamu padaku yang masih belum terbalaskan, tentulah aku akan meladenimu," tersebutlah bahwa Abu Bakar r.a. bersikap kasar terhadapnya dalam menyambutnya. Untuk itu apabila keadaan Abu Bakar sangat disegani di kalangan para penghulu orang Arab dan para pemimpinnya, maka terlebih lagi orang-orang yang selain mereka, lebih segan kepadanya karena kebaikan dan kedermawanannya.
Abu Bakar diharap-harap sebagai orang yang akan dipanggil melalui semua pintu surga
Barang siapa yang membelanjakan sepasang barang dijalan Allah, maka para malaikat penjaga surga memanggilnya, "Hai hamba Allah, inilah yang baik.” Maka Abu bakar bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah merupakan suatu keharusan bagi seseorang (yang masuk surga) dipanggil dari pintunya, dan apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu surga (untuk memasukinya)?" Rasulullah Saw. menjawab: Ya ada, dan aku berharap semoga engkau termasuk seseorang dari mereka (yang dipanggil masuk surga dari semua pintunya).Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya :
‘Siapakah diantara kalian yang berpuasa hari ini?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapakah diantara kalian yang telah mengantar jenazah hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu Bakar menjawab lagi, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bertanya lagi, ‘Siapakah diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab lagi, ‘Saya.’ Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah amal-amal yang telah disebutkan tadi berkumpul pada satu orang, melainkan ia akan masuk surga.’. [HR. Muslim, no. 1028]
-----
Pentingnya Sedekah : Sedekah tidak mengurangi harta, melainkan justru menambahnya. Orang yang bersedekah lebih diuntungkan daripada yang menerima sedekah, karena mendapatkan pahala, kebahagiaan, dan perlindungan dari keburukan.
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung