HIJRAH KE MADINAH
Usai Bai’atul-‘Aqabah kedua, kaum Anshar pun kembali ke Madinah. Mereka sangat antusias menunggu dan mengharap kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Sementara itu, kaum muslimin yang mendengar kesepakatan antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Anshâr juga sudah siap berhijrah ke Madinah.
diantara faktor hijrah ke Madinah
1. karena adanya siksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy.
Abu Bakr Radhiyallahu anhu meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhijrah, ketika penderitaannya terasa berat (HR. Bukhari)
2. kaum muslimin khawatir agama mereka terfitnah
Kaum mukminun pada masa dahulu, mereka pergi membawa agama mereka menuju Allah dan Rasul-Nya karena khawatir terfitnah (HR. Bukhari)
kenapa Madinah yg terpilih?
Aku pernah mimpi berhijrah (pindah) dari Makkah menuju suatu tempat yang ada pohon kurmanya. Lalu aku mengira daerah itu ialah Yamamah atau Hajr (Ahsâ`), (namun) ternyata daerah itu adalah Yatsrib. (HR. Bukhari & Muslim)
hijrahnya para sahabat
Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,
“(juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 7)
Imam Bukhaari[8] menyebutkan, yang pertama kali berangkat hijrah ke Madinah ialah Mush’ab bin Umair dan ‘Abdullah bin Ummi Maktûm. Sedangkan Ibnu Ishâq[9] dan Ibnu Sa’ad[10] menyebutkan, yang pertama kali berhijrah ialah Abu Salamah bin al Asad. Musa bin ‘Uqbah memilih yang kedua.
---
Hijrahnya Shuhaib
Ketika Shuhaib berhijrah ke Madinah sejumlah kaum musyrikin mengejarnya. Kemudian ia keluarkan busur panahnya dan mengatakan: ”Wahai sekalian kaum Quraisy, bukankah kalian telah mengetahui bahwa saya adalah orang yang paling jago memanah. Demi Allah kalian tidak akan pernah dapat sampai kepadaku sehingga aku telah memanah kalian dengan panah yang aku miliki, kemudian aku penggal kalian dengan pedangku ketika anak panahku sudah habis.”
Kafir Quraisy berkata: ”Dahulu kamu datang kesini dalam keadaan miskin yang hina, lalu kamu memiliki banyak harta, seperti sekarang, kemudian kamu hendak keluar dengan harta dan jiwamu. Demi Allah, hal ini tidak boleh terjadi.”
Shuhaib menjawab: ”Bagaimana pendapat kalian jika seluruh hartaku untuk kalian semua, apakah kalian akan membiarkanku pergi.”
Kafir Quraisy mengatakan: ”Tunjukkah hartamu, lalu aku lepaskan dirimu.” Lalu mereka berjanji, dan Shuhaib menunjukkan harta bendanya.
Sampailah Shuhaib bertemu dengan Rasulullah shallallahu ’alihi wa sallam yang menyambutnya dengan mengatakan: ”Beruntunglah jual belimu wahai AbuYahya.” Lalu turunlah ayat: ”Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)
----
Abu Salamah dan Isterinya Berhijrah
Ketika Abu Salamah telah siap berangkat hijrah ke Madinah bersama dengan isteri dan anaknya, keluarga isterinya mengatakan: ”Kami tidak akan membiarkanmu pergi dengannya ke negeri lain.” Mereka lalu mengambil paksa isteri dan anaknya. Ummu Salamah pun dipisahkan dari anaknya. Abu Salamah akhirnya berangkat sendirian ke Madinah. Sejak saat itu Ummu Salamah setiap pagi selalu pergi ke Al-Abthah (tempat antara Makkah dan Mina), kemudian menangis di sana sampai sore. Hal ini dia lakukan hampir satu tahun. Salah seorang kerabatnya merasa kasihan dan mengatakan: ”Mengapa tidak kalian keluarkan saja wanita miskin ini. Kalian telah pisahkan dia dari suami dan anaknya.”
Lalu kerabatnya yang lain akhirnya berkata: ”Susullah suamimu, jika kamu mau.”
Kemudian Bani Abdul Asad mengembalikan anaknya. Kemudian Ummu Salamah naik di atas kendaraannya dan membawa anaknya ke pangkuannya, lalu aku berangkat menyusul suaminya ke Madinah. Tidak ada orang lain lagi yang menemaninya.
Sesampainya di Tan’im Ummu Salamah bertemu dengan Utsman bin Thalhah, saudara Bani Abduddar. Ia berkata kepada Ummu Salamah: ”Hendak kemana kamu wahai anak perempuan Abu Umayyah?” Ummu Salamah menjawab: ”Menyusul suamiku di Madinah.” Ia berkata: ”Tidak ada orang yang menemanimu?” Ummu Salamah menjawab: ”Tidak ada, hanya Allah dan anakku ini.” Utsman bin Thalhah berkata: ”Demi Allah, kamu tidak boleh dibiarkan sendirian.” Lalu ia mengambil tali kendali onta Ummu Salamah dan pergi berangkat mengantarkannya ke Madinah, kemudian ia kembali ke Makkah.
---
Ketakutan Kaum Musyrikin pada Hijrah
1. Kaum Madinah biasa berperang, Kaum musyrikin panik ketakuan semakin kuatnya pasukan muslim dengan bergabung dengan kaum ahli perang itu
2. Mereka takut kaum muslimin akan memutus jalur perdagangan mereka, (madinah berada ditengah antara Mekkah dan Syam). Hal ini sama saja dengan memutus nadi kehidupan dan aliran darah mereka, terlebih lagi kaum musyrikin telah menjarah harta kaum muslimin
3. Khawatir tersebar berita dna mendapatkan cemoohan bahwa Quraish tega mengusir sanak keluarga sendiri
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung