Ketika Bulan Ramadhan datang, ada yg merasa senang dan ada yg merasa berat, ada pula yang biasa saja,
Senang karena bertemu dengan bulan penuh berkah, ada yg keberatan karena harus berlapar lapar puasa atau berletih-letih tarawih, ada juga yang biasa saja karena dia tidak mengistimewakan Ramadhan dna menganggap sama di dalam atau diluar Ramadhan
begitu juga ketika Ramadhan pergi, ada juga yg senang karena berakhir masa sulit, ada yang sedih karena berpisah dengan bulan yg berkah, dan ada yg biasa saja. Masuk ke golongan apa kita?
Ramadhan memang bulan pelatihan, pelatiha yang berat, tetapi balasannya juga besar
Allah telah mengingatkan bahwa barang dagangan-Nya sangatlah mahal. Barang dagangan itu adalah surga, dan untuk memperolehnya, kita harus berusaha dengan penuh kesungguhan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ
"Ingatlah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ingatlah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga."
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 95)
Siapa yg mengistimewakan Ramadhan maka ia akan menjadi orang yg Allah cinta, yaitu Allah mencintai orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa."
(QS. At-Taubah: 4)
Dan sangat rugi, jika kita masuk ke Golongan Orang yang Merugi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Dan celakalah seseorang yang bertemu dengan bulan Ramadhan tetapi keluar darinya sebelum mendapatkan ampunan." (HR. At-Tirmidzi)
Ramadhan adalah bulan ampunan. Pintu-pintu neraka ditutup dan Allah membuka lebar pintu surga. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:
"Wahai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, lalu kamu bertemu dengan-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula."
(HR. Muslim)
Maka merugilah kita jika Ramadhan berlalu tanpa kita memanfaatkan kesempatan emas ini untuk mendekat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya. Hari raya sejatinya adalah bagi mereka yang berhasil mendapatkan ampunan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah selama bulan Ramadhan.
Dahulu, satu kota madinah pernah menangis karena wafatnya Rasulullah, namun Abu Bakar menyadarkan mereka
"Siapa yg menyembah Muhammad, maka ia telah Wafat, tetapi, siapa yang menyembah Allah maka dialah zat yang tidak pernah Mati"
Ramadhan kali ini juga demikian
"Siapa yang menyembah Ramadhan, maka ia akan pergi, dan siapa yg menyembah Tuhan Pemilik Ramadhan, maka dialah Allah zat yg maha hidup"
Maka makna Hari Raya yang Sebenarnya adalah,
Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Lathoiful Ma’arif berkata:
"Hari raya bukanlah bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, tetapi hari raya adalah bagi mereka yang bertambah ketaatannya kepada Allah."
Wahai hamba- hamba Allah! Saat ini kita berada di penghujung Ramadhan, Ramadhan sudah hampir pergi dan tidak tersisa selain hitungan jari. Siaap yang menjalaninya dengan baik, hendaklah ia menyempurnakannya. Siapa yg asal-asalan maka hendaklah ia maksimalkan yang tersisa ini. Karena amalan itu tergantung akhirnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya."
(HR. Muslim)
Dalam hadits lain disebutkan:
"Sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta, tetapi kemudian ia melakukan amalan ahli neraka, maka ia masuk ke dalamnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jibril ‘alaihissalam pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
"Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada shalat malam dan kehormatannya adalah rasa cukup dari manusia."
(HR. Thabrani)
Maka,
Marilah kita gunakan waktu yang tersisa di bulan Ramadhan ini untuk bermuhasabah dan memperbanyak amal kebaikan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memudahkan segala urusan kita. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung