إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
صَلَّى اللَّهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
(آل عمران: ١٠٢)
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ،
إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا جَاءَ بِهِ الْإِسْلَامُ تَحْقِيقُ الْعَدْلِ، وَإِقَامَةُ الْإِحْسَانِ، وَتَرْكُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. وَلَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ الْعَدَاوَةَ تُورَثُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ، أَوْ بَيْنَ الْعَائِلَاتِ وَالْأَجْيَالِ، فَإِنَّ كُلَّ نَفْسٍ تُحَاسَبُ عَلَى عَمَلِهَا، وَلَا تُؤَاخَذُ بِذَنْبِ غَيْرِهَا.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾
وَقَالَ سُبْحَانَهُ:
﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami sendiri dan dari kejahatan perbuatan kami.
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya; dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya,
Semoga Allah memberkahi nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya, serta mencurahkan kedamaian yang melimpah kepada-Nya dan kepada mereka.
Bahwa, khotib menasihati jamaah sekalian dan diri khotib sendiri untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah bekal terbaik bagi seorang hamba dalam agamanya, kehidupannya di dunia, dan akhiratnya. Sebagaimana Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam QS. Āli 'Imrān: 102:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebagaimana seharusnya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam [dalam kepatuhan kepada-Nya]
Wahai umat Islam,
Sesungguhnya, di antara hal-hal terbesar yang dibawa oleh Islam adalah penegakan keadilan, pengamalan kebaikan, serta meninggalkan penindasan dan pelanggaran. Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin untuk menjadikan permusuhan sebagai sesuatu yang diwariskan dari ayah ke anak, atau antara keluarga dan generasi, karena setiap jiwa akan dipertanggungjawabkan atas apa yang telah ia perbuat, Dan kalian tidak akan dibebani dosa orang lain.
Allah, Yang Maha Tinggi, berfirman:
Dan tidak ada seorang pun yang akan memikul beban orang lain
Dan dalam ayat lain Dia, Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, berfirman:
Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menghalangimu dari keadilan. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada ketakwaan.
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,
Dunia, akhir-akhir ini sedang mengalami kemalangan yang besar dan bertubi-tubi, banjir yg menenggelamkan 3 provinsi di pulau Sumatera, kebakaran hutan yang menimbulkan polusi hingga ke tanah jiran Malaysia, kemudian gempa bumi yg disusul oleh ribuan goncangan di Flores, kemudian masih di tanah Flores, gunung meletus Lewotobi kembali menyemburkan asap vulkaniknya.
Namun, dari semua hal tersebut, kita perlu menarik diri agar selalu berfikir positif atau berhusnuzhon kepada Allah, bahwa setiap ujian yang diberikan kepada kita, selalu mengandung hikmah besar dibaliknya. Allah Ta'la berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ ١٥٥
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155)
Ujian yang Allah berikan kepada kita didunia, adalah sebagai bentuk pembuka tabir manusia, siapa diantara mereka yaang tetap tundiuk kepada Allah. Allah taa'ala berfirman:
تَبَـٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ ١
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ ٢
Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 1-2)
Adapun hikmah dari ujian bagi orang beriman, sebagai pengangkat derajat dan penghapusan dosa baginya, Dalam hadist riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:
“Apa yang menimpa sorang mukmin dari duri dan yang lebih besar lagi melainkan Allah akan mengangkat derajat untuknya atau menghilangkan dosa baginya. (HR. Muslim)Sedangkan yang imannya lemah, yakni kebanyakan manusia itu hamba hawa nafsunya bukan sebagai hamba kepada Allah. Dia mengiklankan sebagai hamba Allah, akan tetapi ketika ditimpa musibah, mundur ke belakang, seakan rugi dunia akhirat. Hal itu merupakan kerugian yang nyata, Allah Ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)
Salah satu ujian terbesar adalah kematian.
Disebutkan bahwa Kematian itu ada 3 macam:
1. Tidur: Tidur adalah mati kecil, buktinya ada do’a yang diajarkan Rasulullah kepada kita yakni do’a sebelum tidur “Bismika Allahumma Ahya wa Amut (dengan namamu ya Allah aku hidup dan aku mati) itu bukti pertama, bukti selanjutnya; saat kita tidur kitak tak perlu pada kemegahan dunia ini, saat tidur kita hanya menggunakan pakaian tidur saja, tidak memerlukan jas, tidak memerlukan dasi, tidak memerlukan segala kemegahan dunia2. Meninggal Dunia: Meninggal Dunia adalah mati besar dan yang menjadi penengah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, kita bekerja hari ini dengan tujuan dapat memberikan makan, pakaian dan membuatkan kepada anak istri agar mereka bisa beribadah kepada Allah, bisa menutup auratnya dan bisa melindunginya dari pandangan orang tatkala ia membuka auratnya didalam rumah, kalau seperti itu maka pandangan hidup kita sudah baik.
3. Ditinggal Mati oleh orang yg tercinta: ditinggal pergi oleh orang yg dicinta, seolah jiwa kita juga tidak ada artinya hidup didunia setelah ditinggal mereka.
Sedikit kami menyinggung tentang bulan Rabiul awal, bulan yang dikenal sebagaia bulan kelahiran Nabi, tetapi ingin kami terangkan kepada jamaah sekalian, selama ini, informasi yang tersebar bahwa tanggal lahir nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 12 Rabiul Awal, akan tetapi ternyata terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli sejarah mengenai tanggal kelahiran beliau
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu menjelaskan,“Para ulama berselisih (mengenai tanggal kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), dikatakan tanggal 2 Rabi’ul Awwal, tanggal 8 Rabi’ul Awwal, tanggal 10 Rabi’ul Awwal, tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tanggal 17 Rabi’ul Awwal, dan tanggal 18 Rabi’ul Awwal. dari tanggal-tanggal tersebut, para ulama tidak menetapkan tanggal yang mana yang paling kuat.
Namun ternyata, tanggal 12 Rabiul Awwal, justru merupakan tanggal yang ditetapkan oleh para ulama sebagai tanggal wafatnya Rasulullah, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awwal tahun ke 11 Hijriah.
dikabarkan Madinah pernah menangis 2 kali
Suatu saat, di tengah sakit, Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid untuk menaklukkan Romawi Timur. Untuk mendampingi Usamah, Rasulullah mengutus Umar bin Khattab. Umar ikut berangkat ke Syiria dan bertempur di bawah komanda Usamah.Di tengah perjalanan menuju pertempuran, tersiar kabar bahwa Nabi meninggal dunia. Beliau telah wafat di Madinah. Usamah memerintahkan pasukan kembali ke Madinah. Umar yang ikut dalam romobongan, segera bergegas menuju Madinah.
Setiba di Madinah, kabar tentang kematian Nabi telah menyebar luas. Umar yang tiba di Madinah tak ingin percaya akan isu ini. Ia tak membayangkan kematian yang menimpa Rasulullah, yang menurut pemahamannya nabi akan hidup lebih lama lagi.
Tak terima kematian Nabi, Umar bin Khattab pergi ke masjid dan berpidato di hadapan manusia yang sedang berkumpul. Umar meyakinkan masyarakat luas bahwa Nabi tak meninggal, Rasul hanya sedang tak ada ruh. Dan Nabi akan akan kembali hidup.
Sahabat Abu Bakar bin Shiddiq yang datang untuk takziah, mendengar pidato itu menegur dan berkata kepada Umar bin Khattab, “Umar” panggil Abu Bakar yang tengah mendengar Umar sedar tadi. “Tenanglah, Umar,” tambahnya, sembil mendekat pada khalifah kedua Islam itu. “Dengarkan aku berbicara wahai Umar, “ pinta Abu Bakar.
Abu Bakar memang menegur Umar bin Khattab yang berkata Nabi akan bangkit. Dan sejatinya Nabi tak meninggal. Pidato itu dikritik Abu Bakar, ia menjelaskan sambil berpidato di hadapan masyarakat Madinah yang hadir di saat itu.
Abu Bakar berkata; “Wahai manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad sesungguhnya telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah itu maha hidup dan tidak akan pernah mati,” jelas beliau.
Selanjutnya, Abu Bakar membacakan ayat Al-Qur’an yang telah ditutunkan oleh Allah setelah perang Uhud. Allah berfirman dalam Ali Imron ayat 144;
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ
Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Mendengar Abu Bakar membacakan ayat, Umar bergetar. Ia terkejut mendengar ayat ini. Umar pun berkata;
“Saat aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu, aku begitu terkejut hingga tubuh ku tersungkur ke tanah. Kedua kaki ku tak mampu untuk berdiri, dan baru aku menyadari Rasulullah telah wafat,”.
Itulah kalimat yang diucapkan oleh Umar. Dan ia menyadari kekeliruannya itu setelah mendengar nasihat dari Abu Bakar.
Perlu juga kita ketahui mengenai kata-kata terakhir Rasulullah
sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Kerjakanlah) salat, (kerjakanlah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” (HR. Ahmad)
Apabila seseorang akan pergi, tidak mungkin ia meninggalkan pesan yang kecil, tapi pasti meninggalkan sesuatu yang penting.
Rasulullah memberikan wasiat kepada kita agar kita menjaga Sholat, pesan itu beliau ucapkan dua kali, seolah mengandung penekanan yang dalam, bahwa sholat itu harus selalu dijaga. kemudian beliau mengingatkan aga jangan berbuat Zhalim walaupun kepada hamba sahaya
Itulah salah satu bentuk kematian, ditinggal pergi oleh orang yg dicinta, seolah jiwa kita juga tidak ada artinya hidup didunia setelah ditinggal mereka.
Secinta apa kita kepada Rasul, apakah sekedar menangis atas perjuangan lahir hingga wafatnya, atau
Berusaha mengikuti beliau?
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga “ (H.R Bukhari)
hadist ini seolah, detik ini kita bisa mengukur, apakah kita sudah disibukkan dengan mengikuti rasul, apakah sudah pantas kita masuk surga?
Terakhir, Hendaklah kita Berteman dengan amalan kita, karena saat anak adam wafat, akan diantar oleh 3 orang, keluarga beserta sahabat, harta, dan amam. Keluarga dan harta akan pulang, dan Hanya amal yg akan menjadi teman di alam kubur
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung