﷽
A. Penamaan
Al insyirah/ Asy syarh/ Alam Nasyrah
B. Asbabun Nuzul
Dalam Tafsir Jalalain, Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Al-Hasan. Ibnu Abbas r.a. telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan ketika orang-orang musyrik mencela orang-orang muslim karena kemiskinannya. Bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: 'sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". (QS. Al-Insyirah: 6) lalu Nabi SAW. bersabda: "Bergembiralah (hai orang-orang mukmin), kelak akan datang kemudahan bagi kalian, karena satu kesulitan sekali-kali tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan".
C. Hubungan Dengan Surat Lain
surat sebelumnya adalah surat Adh-Dhuha, menerangkan tentang nikmat Allah secara dzohir. yatim>dilindungi. bingung>petunjuk. kekurangan>dicukupkan. Sedangkan surat ini menerangkan tentang nikmat Allah secara Batin
D. Tafsir Bi Al-Matsur (Tafsir menggunakan riwayat Qur'ann, Hadist, dan Riwayat Pendapat Ulama)
- Allah Mengingatkan Nikmat Yang telah diberikan Kepada Nabi (Ayat 1-4)
Ayat 1: Melapangkan Dada
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ١
Bukankah kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?
# yg terpenting dalam menghadapi sesuatu, adalah dilapangkan dada agar kuat, sebagaimana nabi musa mengawali doa agar Allah melapangkan dadanya saat menghadapi Fir'aun dan Kaumya.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (mudahkanlah untukku urusanku)
# Nabi Muhammad menghadapi sesuatu yg berat, dijuluki penyihir, penyair, orang gila. padahal sebelum nya ia dijuluki al amin
> Alam Nasyroh: 'Bukankah kami telah melapangkaan'. kalimat ini merupakan kalimat istifham/kata tanya yang mengandung makna taqrir atau menetapkan. sehingga menjadi 'Kami telah menetapkan
> Laka: Untukmu (Hai Muhammad)
> Maksud Dilapangkan dadanya,
- Maknawi (diberi ketabahan dalam berdakwah)
- Menjadikan Hati beliau bercahaya lagi lapang Memeluk Islam, kemudian Allah telah menjadikan Syariatnya luas, lapang, mudah, tiada kesulitan, dan tiada beban serta tiada kesempitan padanya [IK]
Sebagaimana ayat lain melalui firman-Nya:
Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (Al-An'am: 125) - Allah melapangkan hati Rasulullah untuk kemudian diisi dengan petunjuk, kebenaran, dan keimanan kepada Allah. Sehingga hati beliau mmenjadi lembut dan dapat dijadikan sebagai wadah hikmah [T]
- Dilapangkaan hati beliau dengan Kenabian dan lain-lain [J]
- Fisik (peristiwa pembelahan dada Nabi SAW oleh Malaikat Jibril, lebih dari sekali)
Ibnu Katsir menyebutkan, bahwa Allah telah melapangkan dada beliau di Malam Isra dengan membersihkan dada beliau dari kotoran-kotoran yang memenuhinya, dan mengisi ruang itu dengan kelembutan dan kasih sayang. Sebagaimana pula terjadi pembelahan dada beliau pada kesempatan lain, dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad,
Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang mula-mula engkau Iihat dari urusan kenabian ini?" Rasulullah Saw. Duduk tegak dan menjawab: Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak sepuluh tahun lebih beberapa bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?” Maka keduanya datang menyambutku dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya, dan sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya, dan belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh seseorang. Keduanya datang kepadaku dengan jalan kaki, hingga masing-masing dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya, 'Rebahkanlah dia.' Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit. Kemudian salah seorangnya berkata kepada yang lainnya, "Belahlah dadanya, " maka salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang mengalir dan tanpa rasa sakit. Lalu berkata kepada yang membelahku, "Keluarkanlah iri hati dan dengki.” Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti segumpal darah, kemudian ia membuangnya jauh-jauh. Dan berkata lagi ia kepada orang yang membelahku, "Masukkanlah lemah lembut dan kasih sayang.” Maka tiba-tiba kulihat sesuatu sebesar apa yang baru dikeluarkan, bentuknya mengilap seperti perak (dimasukkan ke dalam dadaku), kemudian ia mengguncangkan jempol kakiku yang sebelah kanan, dan berkata, "Kembalikanlah ke semula dalam keadaan utuh.” Maka setelah itu aku pulang dengan berlari dan terasa dadaku dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.
# Dengan 2 hal inilah, sehingga dgn dada yg lapang itu, nabi memiliki iman yg kuat, kuat menghadapi tantangan dakwah
Ayat 2-3 Mengangkat Beban
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ ٢ ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهْرَكَ ٣
Dan kami pun telah menurunkan beban darimu, yang memberatkan punggungmu,
> Wizroka: Beban yang kamu pikul
1) Dosa umat, beban-beban perjalanan pada masa Jahiliah yang beliau alami [T], yang terasa berat bagi beliau
2) Beban dakwah, setelah al muzammil: bangun dan beri peringatan
3) Dosa Beliau? yang dimaksud bukan dosa besar / yang mencelakakan, maka ini tidak mungkin. tapi bisa seperti dosa kecil & yang tidak merendahkan martaabat diri & tidak berkaitan dengan wahyu.
Sehinggs ayat 3emakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
> Anqodo : An-inqad artinya Suara tulang punggung ketika memikul beban berat
# Allah telah menghilangkan beban dosa yang memberatkan punggungmu
# Para Nabi juga pernah berbuat salah
- Nuh: berdoa ingin menyelamatkan kan'an
- Musa: terbunuh seseorang karena terdorong
- Adam: makan buah terlarang
- Daud: memutuskan perkara dgn keliru
- Ibrahim: bohong 3 kali
# Maka bukan hal yang aneh bahwa Nabi Muhammad juga pernah berbuat salah, sehingga status beliau tetaplah sama seperti layaknya manusia, hanya saja ALlah berikan beliau kelebihan sebagaimana dalam Al--Qur'an,
Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110)
# Beberapa contohnya
- Nabi pernah mengharamkan untuk diri beliau sari bunga (Madu) yang aromanya tidak disukai istri, maka Allah menegur beliau dengan surat At-Tahrim ayat 1: Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
- Nabi pernah bermuka masam kepada seseorang buta yang datang ingin menyucikan dirinya dari dosa, maka Allah tegur beliau dengan surat 'Abasa
# Hikmah bahwa nabi juga bisa berdosa, sebagai contoh/teladan bagi umat, mengenai cara bertaubat jika suatu ketika umat melakukan kesalahan,
Allah Ta’ala berfirman, “Mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 103). Justru akan aneh jika Allah memerintahkan kita untuk bertaubat, tapi kita tidak memiliki contoh tentang bagaimana cara bertaubat dari seseorang yang pernah berbuat salah juga
# Bentuk Doa-doa ampunan beliau.
- Mengucapkan Istighfar 70 kali lebih: “Demi Allah, sesungguhnya aku memhon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari 70 kali.” (HR. Ahmad)
- Dzikir pagi dan petang dengan Sayidul Istighfar (Penghulunnya Istighfar):
# Dosa kecil, tapi beliau anggap sebagai dosa yang berat.
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” (Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308)# Oleh karena itu seharusnya semua dosa, baik kecil maupun besar, membuat kita gelisah dan segerak kembali pada Allah
Ayat 4: Meninggikan Sebutan
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ٤
dan kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.
# Keistimewaan Nabi Muhammad SAW di mana namanya selalu disandingkan dengan nama Allah, sebagaimana syahadat, tasyahhud, khotbah, dan lain sebagainya dalam azan dan selawat, tiap detiknya ada karena saling bergantian azan mengelilingi bumi. hal ini tidak didapatkan oleh nabi yg lain.
> Dalam Tafsir Thobari, Qotadah berkata, "Allah meninggikan sebutan namanya di dunia dan akhirat. Tidak ada seorang pun khathib, pengucap syahadat, dan pelaksana shalat, kecuali menyerukan, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah'." (Ibnu Abi Hatim)
> Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Aku pernah menanyakan suatu masalah kepada Tuhanku, padahal aku tidak menginginkan untuk menanyakan hal itu kepada-Nya. Aku bertanya, "Sesungguhnya di antara nabi-nabi sebelumku ada yang telah Engkau tundukkan angin baginya, dan di antara mereka ada yang dapat menghidupkan orang mati.”Allah Swt. Balik bertanya, "Wahai Muhammad bukankah Aku mendapatimu sebagai seorang yang yatim piatu, lalu Aku melindungimu?” Aku menjawab, "Benar, ya Tuhanku.” Allah berfirman, "Bukankah Aku mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Aku memberimu petunjuk?” Aku menjawab, "Benar, ya Tuhanku.” Allah berfirman, "Bukankah Aku mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Aku memberimu kecukupan.” Aku menjawab, "Benar, ya Tuhanku.” Allah berfirman, "Bukankah Aku telah melapangkan dadamu, bukankah Aku telah meninggikan sebutan (nama)mu?” Aku menjawab, "Benar, ya Tuhanku.” (Ibnu Abi Hatim)
Ayat 5-6: Kemudahan Bersama Kesulitan
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًۭا ٦
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Dua ayat ini mengandung penekanan mendalam pada janji Allah, bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. terdapat empat penekanan dalam ayat ini.
1) inna
2) pengulangan ayat
3) ilmu balaghoh, kata 'kesulitan' disebut makrifat (sekali), sedangkan kata 'kemudahan' disebut nakirah (dua kali)
“Apabila ada kata ma’rifat (kata definitif) dalam dua kalimat yang berbeda maka keduanya memiliki arti yang sama (nafs syai’, maksudnya juga sama), muallimah dalam salah satu vedio menyitir kaidah linguistik Arab (qaidah lughawiyah). Seperti contoh;
جاءت المرأة، وسلمت على المرأة
“Telah datang seorang perempuan, dan saya mengucapkan salam pada perempuan tersebut”,
maka perempuan yang ada dalam kalimat di atas adalah perempuan yang sama, karena kata perempuan (al-mar’ah) di sini menggunakan ma’rifah (definitif), dan tanda bahwa ia ma’rifah dengan adanya “al” yang disebut dengan "Al-ta’rif".
Tetapi sebaliknya, bila ada nakirah (indefinitif) dalam dua kalimat yang berbeda, maka memiliki arti dan maksud yang berbeda pula, seperti;
جاءت مرأة، وسلمت على مرأة
“Telah datang seorang perempuan, dan saya mengucapkan salam pada seorang perempuan”.
Dalam kalimat ini, antara perempuan yang pertama dan yang kedua berbeda, walau sama-sama perempuan. Karena kedua perempuan itu tidak menunjuk satu jenis (umum), perempuan yang mana (nakirah, indefinitif)?.
Sedangkan kalimat yang pertama "Perempuan itu" dalam dua kalimat menggunakan kata definitif, maka bisa dipastikan keduanya adalah perempuan yang sama.
Penjelasan di atas hanya sebuah contoh untuk mengantarkan kepada para mustami’ (pendengar), bahwa dalam Ayat al-Qur’an surat Al-Insyirah;
﴿ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا( )إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Dalam Ayat ini, kata kesulitan (al-‘usr) kedudukannya adalah definitif (ma’rifah), maka kedua kesulitan itu pada hakekatnya satu (satu kesulitan), sedangkan kata kemudahan (yusr) tidak sama antara kemudahan yang pertama dengan kemudahan yang kedua (berbeda), yang pertama adalah kemudahan dalam solusi, terselesainya berbagai masalah hati, lapang dada, kebahagiaan
Dalam Tafsir Jalalain, Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Al-Hasan. Ibnu Abbas r.a. telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan ketika orang-orang musyrik mencela orang-orang muslim karena kemiskinannya. Bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: 'sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". (QS. Al-Insyirah: 6) lalu Nabi SAW. bersabda: "Bergembiralah (hai orang-orang mukmin), kelak akan datang kemudahan bagi kalian, karena satu kesulitan sekali-kali tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan".
4) Allah gandengkan kesulitan & kemudahan, degn kata sambung ma'a bersama. hanya saja kita perlu cermat menggapai /mencari kemudahan itu
Anas ibnu Malik pernah menceritakan bahwa Nabi Saw. duduk dan di hadapannya terdapat sebuah batu, maka beliau Saw. bersabda: Seandainya kesulitan datang, lalu masuk ke dalam batu ini, niscaya kemudahan akan datang dan masuk ke dalamnya, lalu mengusirnya. Dan Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah: 5-6) (Ibnu Abi Hatim)
Imm Athobari menerangkaan dalam Tafsirnya, sesungguhnya bersama kesulitan yang engkau alami, yaitu jihad terhadap orang-orang musyrik, yang pada mulanya engkau tidak menempuhnya karena mengharapkan jalan keluar yang memenangkanmu atas mereka sehingga mereka tunduk kepada kebenaran yang engkau bawakan kepada mereka, baik dengan suka maupun terpaksa
Dalam Tafsir Jalalain, Nabi SAW. banyak sekali mengalami kesulitan dan hambatan dari orang-orang kafir, kemudian beliau mendapatkan kelapangan dan kemudahan, yaitu setelah beliau mengalami kemenangan atas mereka.
Ayat 7: Perintah untuk Terus Beramal: Setelah selesai satu urusan
1) Setelah ibadah, beralihlah pada ibadah berikutnya. Ikutilah sholat dengan Doa, ikutilah sholat wajib dengan sholat sunnah, ikutilah puasa Ramadhan dengan puasa Sunnah, ikutilah dakwah dengan jihad.
> Dalam Tafsir Ibnu Katsir dari Ibnu Mas'ud, bahwa apabila engkau telah mengerjakan salat-salat fardumu, maka kerjakanlah qiyamul lail dengan sungguh-sungguh.
> Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Zaid ibnu Aslam dan Ad-Dahhak telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka apabila kamu telah selesai. (Alam Nasyrah: 7) Maksudnya, dari melakukan jihad. kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (Alam Nasyrah: 7) Yakni kerjakanlah ibadah dengan sungguh-sungguh.
2) Setelah duniawi, bangkitlah/seriuslah untuk ibadah
> Yakni apabila kamu telah merampungkan urusan-urusan duniamu dan kesibukannya dan telah kamu selesaikan semua yang berkaitan dengannya, maka bulatkanlah tekadmu untuk ibadah dan bangkitlah kamu kepadanya dalam keadaan bersemangat. Curahkanlah hatimu dan ikhlaskanlah niatmu dalam beribadah kepada-Nya dan berharap kepada-Nya.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan buang hajat (kencing atau buang air besar).” [HR. Muslim, no. 560]
> Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa apabila kamu telah merampungkan urusan duniamu, lalu kamu berdiri untuk salat, maka kerjakanlah salatmu dengan sungguh-sungguh dengan menghadap kepada Tuhanmu.# Lebih seriuslah ibadah dibanding dunia
- Baca quran harus lebih serius dari baca medsos
- Doa, sholat, dzikir, menuntut ilmu harus lebih serius dari bekerja
Ayat 8: Berharap hanya kepada Allah
# Berharap kepada selain Allah pasti kecewa, karena berharap pada sesuatu yg lemah, karena selain Allah akan hilang
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung