﷽
Telah kita saksikan bersama banyak tragedi-tragedi yang terjadi di Indonesia pada akhir 2022 ini dimulai dari gempa Cianjur gunung Semeru yang meletus dan baru-baru ini gempa di Sukabumi.
Tentu saja kita sebagai seorang muslim harus melihat
dengan kacamata Islam, yakni segala apa yang terjadi ini bukanlah semata-mata
hanya bencana alam yang dikatakan ilmuwan sains apalagi kebetulan belaka.
Maka sebagaimana Allah kabarkan
dalam Kitab sucinya tentang musibah ini, surat albaqoroh ayat 155-156 :
وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ
بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ
وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ (١٥٥) الَّذِيۡنَ اِذَآ
اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ
رٰجِعُوۡنَؕ (١٥٦)
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Dan Allah juga menegaskan bahwa bencana
yang datang kepada manusia adalah akibat dari buah tangan manusia itu sendiri sebagai firmannya QS. Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ
لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ )٤١(
“Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia;
Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Maka ada sebuah
ayat yang dapat kita amalankan, baik bagi kita yang tengah ditimpa musibah,
maupun yang takut apabila musibah itu datang dan ingin mencegahnya. yaitu
firman Allah dalam QS. Al-Anfal ayat 33:
وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ
مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di
antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka
meminta ampun.” (QS: Al Anfal: 33)
Berkata Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas :
كان فيهم أمانان النبي صلى الله عليه وسلم والاستغفار فذهب النبي صلى الله
عليه وسلم وبقي الاستغفار
“Dulu para sahabat mempunyai dua penolak bala’, yaitu keberadaan nabi
Muhammad ﷺ dan
istighfar, maka ketika Rasulullah ﷺ
meninggal dunia, penolak bala’ itu tinggal satu, yaitu istihgfar.”
Maka sangat
dianjurkan siapa saja yang mendapatkan bencana atau cobaan dari Allah Subhanahu
Wa Ta’ala, seperti sakit, atau tersesat di jalan atau terjebak dalam gua, atau
diculik orang atau terkena semburan lumpur, atau tergenang banjir, atau
tertimpa bangunan karena gempa dan lain-lainnya, agar segera ber-istighfar
kepada Allah mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Istighfar menjadi
istimewa karena keutamaannya, diantaranya keutamaan selain dari menolak bala
adalah:
- Istighfar membersihkan hati dan menyucikan jiwa dari penyakit hati
Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ
سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ
عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ
اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya
satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan
bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa;
niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.
وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى
قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian,
sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS.
Al-Muthaffifin: 4). (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits
ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi).
Maka istighfar
memiliki keutamaan sebagai kunci agar menyucikan kembali hati kita. Seperti
sebuah gelas berisi air yang hitam pekat, maka ketika air lain yang jernih dituangkan
ke dalam gelas tersebut, jika kita istiqomah dalam memperbanyak tuangan air,
maka bukan suatu yang mustahil gelas itu akan terisi dengan air yang jernih dan
sejuk
- Ampunan yang dijanjikan bagi yang beristighfar, adalah karena beberapa
sebab diantaranya:
a. Tidak mungkin
Allah mengilhamkan Doa kepada Hambanya kecuali pastilah dikabulakan, tidak pula
allah memerintahkan hambanya untuk beristighfar, kecuali pasti allah akan
mengampuninya.
Sebagaimana taubatnya nabi adam ketika memakan buah yang dikiranya bisa
membuatnya kekal di syurga, dalam surat Al-Baqoroh ayat 37, Allah berfirman:
فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ
التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun
menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Doa nabi adam yaitu:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau
tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami
termasuk orang-orang yang merugi” (Q.S. Al-A'raf [7]: 23)
b. Selalu berharap
dan yakin dalam berdoa
يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ
عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ
“Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya
kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku
tidak peduli”.
Berdo’a disertai harapan, karena do’a diperintahkan dan dijanjikan
untuk dikabulkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam surat Ghafir ayat 60 :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan
bagimu...”
c. Selalu beristighfar
setiap waktu
يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ
اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ.
“Hai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau
minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli”
d. Beriman dan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ،
ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا
مَغْفِرَةً.
“Hai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa hampir
sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan
memberikan ampunan sepenuh bumi.”
- Mendapat kabar gembira di akhirat
“Nabi (ﷺ)
berkata: " Kabar gembira kepada
mereka yang menemukan banyak permohonan maaf dalam catatan perbuatan
mereka." ( Sunan bin Majah )
- Selamat dari azab apoi neraka
"Dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam,bahwa beliau bersabda:
Wahai kaum wanita, bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar. Karena,
aku melihat kaum wanitalah yang paling banyak menjadi penghuni Neraka."
(HR Muslim)
Semoga saja ibu ibu disini dan kita
semua termasuk penghuni surga, dan pentingnya kabar ini disampaikan agar kita semua
dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir sebagai upaya untuk saling
menasihati, sebagaimana perintah nabi:
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah walau hanya satu ayat”
Semoga
kita dapat mengambil pelajaran dari setiap musinbah yang menimpa kita, dan
senantiasa diberikan kesempatan oleh Allah disetiap waktunya untuk beristighfar.
Wallahu a’lam
Ditulis berdasarkan kajian pekanan (Ahad, 03 Desember 2022) Dewan Dakwah Kupang-NTT,
Pemateri : Ustadz Saifullah Zein, Lc, MA, Alumni Universitas Madinah
MaasyaaAllah cmgt
BalasHapusInsya'allah, terimakasih :)
Hapus