Langsung ke konten utama

Tentang Isra' Mi'raj

Peristiwa Isrâ’ dan Mi’râj merupakan salah satu di antara mukjizat yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

A. Sebab Isra mi'raj

Ada beberapa sebab terjadinya peristiwa Isra' Mi'raj, yaitu sebagai hiburan bagi nabi atas kesedihan dan ujian yang bertubi-tubi, sehingga tahun ini disebut sebagai Tahun kesedihan. Tahun ke-10 kenabian merupakan tahun-tahun kesedihan, diantaranya 

1. Pemboikotan

Yaitu ketika Quraisy mulai semakin resah terhadap perkembangan Islam, terlebih lagi ketika Hamzah (sang Singa) masuk ke dalam Islam. Maka kaum Kafir Quraisy membuat sebuah kesepakatan Hitam diatas Putih, yaitu memboikot bermuamalah dengan seluruh umat Islam dan kabilah yg mendukung Islam. kondisi itu sangat menyiksa kaum Muslimin, dan Allah menolong kaum muslimin dengan tentara rayap yg menghancurkan kertas / papan pemboikotan.

2. Meninggalnya Abu Thalib

Meninggalnya Paman Nabi (Abu Thalib) dalam keadaan musyrik, padahal beliau memiliki jasa besar dalam Islam. Pendukung dan penguat beliau itu telah tiada

3. Wafatnya Khadijah

Tiga hari setelah meninggal nya Abu Thalib, wafat pula Khadijah sang Istri nabi yang menjadi penyemangat dan pendukung beliau

4. Penolakan Dakwah di Thaif

Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, Quraisy semakin berani menyakiti nabi, sehingga kaumnya di Mekkah tidak bisa diharapkan menjadi pelindung beliau, maka beliau mulai melebarkan lahan dakwah dimulai dari kota Thaif. Namun beliau mendapat penolakan yang sangat parah dari penduduk Thaif

Sebagai wujud penghormatan dan pelipur lara kepada Nabi-nya, Allah memanggil langsung Nabi untuk berkunjung ke kota para nabi (Baitul Maqdis) dan juga berkunjung ke langit ke 7. Malam itu adalah malam yang terbaik bagi Nabi yaitu langsung bertemu Allah. Ketika penduduk bumi menolak, maka penduduk langit menerima


B. Waktu Peristiwa

Peristiwa Isrâ dan Mi’râj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Namun para ulama berselisih tentang waktu kejadiannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra Miraj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Dari mana datangnya pemilihan tanggal 27 tersebut? pemilihan tanggal itu ada dalam kitab sirah nabi karangan Al-Mansurfuri.

Kemudian hal itu dibantah dalam kitab sirah Nabawiyah karangan Al-Mubarakfuri, dengan memberikan catatan mengenai pilihan Al-Mansurfuri ini. Ia katakan bahwa tidak mungkin peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 dari Kenabian. Ada dua alasan yang diajukannya.

  1. Pertama, Khadijah meninggal pada bulan Ramadhan tahun ke-10 Kenabian; beliau wafat sebelum turunnya perintah Shalat Lima Waktu.
  2. Kedua, semua ulama dan ahli sejarah sepakat bahwa kewajiban Shalat Lima Waktu diturunkan pada saat Isra’ dan Miraj.

Oleh sebab dua alasan tersebut, tidak mungkin Isra’ dan Mi’raj terjadi sebelum meninggalnya Khadijah. (Al-Mubarakfuri,Al-Rahîq Al-Makhtûm, Dar Ihya’ Al-Turâts, 1976: 124).


C. Kisah-Kisah dalam Peristiwa Isra' Mi'raj

Yang tidak ada perseselisihan yaitu tentang kebenaran peristiwa ini, karena kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur`ân dan Al-Hadits. 

• Dalil Umum Dari Al-Quran

Allah Azza wa Jalla menyebutkan peristiwa ini di dua tempat dalam Al- Qur`ân, yaitu al-Isrâ’/17  : 1 dan an-Najm/53 ayat 13-18.

♦ Tentang Isra (Perjalanan Darat)

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. al-Isra’/17:1)

♦ Tentang Mi'raj (Perjalanan Langit)

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ  ١٣ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى  ١٤ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ  ١٥اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ  ١٦ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى  ١٧ لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.[an-Najm/53 : 13-18]

• Dalil Khusus(pembagian peristiwa) dari Hadist

Peristiwa ini terjadi di Makkah sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits. Imam al-Bukhâri memiliki 20 riwayat dari enam sahabat Radhiyallahu anhum. Imam Muslim rahimahullah memiliki 18 riwayat dari tujuh sahabat Radhiyallahu anhum. Di antara hadits-hadits ini, tidak ada satupun yang menjelaskan secara lengkap semua kejadian Isrâ` dan Mi’râj ini dari awal sampai akhir, tetapi masing-masing menceritakan bagian per bagian.

Berdasarkan kandungan hadits dari riwayat-riwayat yang ada, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

1. Adanya pembelahan dada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Usai melaksanakan shalat ‘Isyâ` pada malam penuh barakah itu, Malaikat Jibril Alaihissallam mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membedah dada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mencucinya menggunakan air Zam-zam. Kemudian dibawakan bejana emas penuh dengan hikmah dan iman lalu dituangkan ke dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah itu Malaikat Jibril menutup kembali dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dibawanya naik ke langit. (HR. al-Bukhâri/al-Fath, 17/284, no. 4709)


2. Isrâ`.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diberi Buraq, yaitu seekor hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih kecil dari keledai. Aku mengendarainya. Dia membawaku hingga sampai ke Baitul-Maqdis. Lalu aku mengikatnya di tempat para nabi menambatkan. Aku masuk ke Baitul-Maqdis dan shalat dua raka’at. Setelah itu aku keluar. Malaikat Jibril menghampiriku dengan membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah berisi susu. Aku memilih susu. Malaikat Jibril Alaihissallam berkata: ‘Engkau telah (memilih) sesuai dengan fithrah,’ setelah itu, ia membawaku naik ke langit”.(HR. al-Bukhâri dalam al-Fath, 21/176, no. 5576.)

Dan dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para nabi sebelum naik ke langit. (HR. al-Baihaqî dalam ad-Dalâil, 2/388. Doktor Qal’ah Jay dalam Khâsyiyah berkata: “Riwayat-riwayat tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para nabi sebelum mi’râj saling menguatkan”. Ibnu Hajar berkata: “Itulah yang lebih jelas”.)


3. Mi’râj.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa naik melewati beberapa langit. Pada setiap langit, Malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya: “Siapakah yang bersamamu?” Jibril Alaihissallam menjawab,”Muhammad,” penghuni langit itupun menyambutnya.

a. Di langit dunia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Adam Alaihissallam ,

b. di langit kedua berjumpa dengan Nabi Isâ Alaihissallam dan Nabi Yahya Alaihissallam,

c. di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yûsuf Alaihissallam ,

d. di langit keempat dengan Nabi Idris Alaihissallam ,

e. di langit kelima dengan Nabi Hârûn Alaihissallam ,

f. di langit keenam dengan Nabi Musâ Alaihissallam ,

g. dan di langit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrâhîm Alaihissallam yang sedang bersandar pada Baitul-Ma’mûr.

• Perintah Sholat 50 kali

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan sampai ke Shidratul-Muntahâ (langit tertinggi). Di sinilah, Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya untuk menegakkan shalat 50 kali sehari semalam.

• Turun ke Langit ke Enam

Akan tetapi dalam perjalanan kembali dari mi’râj ini, ketika sampai di tempat Nabi Musâ Alaihissallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan ini,

• Agar Meminta Keringanan

Musâ Alaihissallam meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan saran itu, dan Allah Azza wa Jalla pun berkenan memberi keringanan. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak kembali dan berjumpa dengan Nabi Musâ Alaihissallam , beliau Alaihissallam meminta Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar meminta keringanan lagi, dan saran itu pun dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Allah Azza wa Jalla berkenan memberi keringanan.

• Rasa Malu Meminta

Hingga akhirnya, kewajiban shalat itu hanya lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musâ Alaihissallam meminta Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keringanan lagi, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku sudah memohon kepada Rabbku sehingga aku merasa malu,” lalu terdengar suara: “Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku”. (HR. Al-Bukhâri dalam al-Fath, 13/24, no. 3207.)


4. Perjalanan kembali dari Mi’râj.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa perjalanan kembali Rasulullah menempuh rute dari langit tertinggi menuju Baitul-Maqdis lalu ke Makkah. (HR. al-Baihaqi dalam ad-Dalâil, 2/355-357)

Adapun sarana yang dipakai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Isrâ’ ialah Buraq.

Dari riwayat-riwayat tentang Mi’raj ini juga diketahui, bahwa riwayat yang menceritakan peristiwa ini menggunakan fi’il majhul (kata kerja pasif), sehingga sarana yang digunakan tidak diketahui dengan jelas. Dalam sebagian riwayat disebutkan: “Aku dipasangkan mi’râj“.

Sehingga Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan perihal itu dengan perkataannya:

“Mi’râj, ialah tangga. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik menuju langit melalui tangga itu, bukan dengan Burâq sebagaimana persangkaan sebagian orang”.  (Al-Bidâyatu wan-Nihâyah, 3/122)


D. Sikap Orang-Orang Quraisy Menanggapi Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

1. Dibalik Tersebarnya Kabar Isra Mi'raj

Pada pagi hari setelah peristiwa ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam nampak merasa susah karena khawatir dianggap berdusta oleh kaumnya. Dalam keadaan seperti ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihampiri oleh Abu Jahl yang menanyakan keadaannya. Rasulullah pun memberitahukan tentang Isrâ`.

• Tawaran Abu Jahal agar Nabi langsung menceritakan didepan kaum mekkah

Mendengar penuturan Rasulullah itu, maka spontan Abu Jahl meyakini jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdusta. Namun penolakan Abu Jahl ini tidak ia ucapkan saat itu. Abu Jahl hanya berkata: “Bagaimana pendapatmu jika aku memanggil kaummu? Apakah engkau akan memberitahukan kepada mereka peristiwa yang baru engkau sampaikan kepadaku?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya,” maka Abu Jahl bergegas memanggil kaum Quraisy. Setelah mereka datang, Abu Jahl meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menceritakan yang telah ia alami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakannya.

• Allah memperlihatkan sifat Masjidil Aqsho sebagai penguat dan pembenaran bagi Nabi

Orang-orang Quraisy pun terheran mendengar cerita beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Di antara mereka ada yang pernah melihat Masjid al-Aqshâ, maka orang-orang ini pun meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sifat Masjidil-Aqshâ. Lalu Allah Azza wa Jalla mengangkat masjid itu, sehingga seolah bisa dilihat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sifat-sifatnya. Mendengar penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka pun berseru:”Demi Allah, keterangannya benar”. (HR. Al-Bukhâri dalam al-Fath, 17/284)

Dalam sebuah riwayat diceritakan, orang-orang Quraisy mengingkari kepergian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Syam lalu kembali lagi ke Makkah yang hanya dalam waktu satu malam saja. Karena perjalanan itu biasa ditempuh jarak waktu dua bulan. Sehingga ada sebagian orang yang kemudian murtad saat itu. (Sirah Ibnu Hisyâm, 2/45 dari riwayat Ibnu Ishâq secara mu’allaq)

• Pembenaran dari Abu Bakar dan Julukan Ash-Sidiq

Berbeda dengan Sahabat Abu Bakr Radhiyallahu anhu. Begitu diberitahu peristiwa itu, beliau Radhiyallahu anhu langsung mempercayainya tanpa ragu sedikit pun, seraya berkata: “Demi Allah, jika benar ia mengatakannya, maka ia benar. Apa yang membuat kalian heran? Demi Allah, sesungguhnya ia memberitahukan kepadaku bahwa wahyu telah turun kepadanya dari langit ke bumi saat malam atau siang hari. Ini lebih besar dari masalah yang membuat kalian terheran itu!”

Abu Bakr Radhiyallahu anhu pun kemudian mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan peristiwa yang telah didengarnya. Dan demikianlah keadaan Sahabat Abu Bakr Radhiyallahu anhu , setiap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sesuatu, maka beliau Radhiyallahu anhu berkata: “Engkau benar, aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah…,” lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Bakr, engkau adalah shiddiq,” dan mulai saat itulah beliau Radhiyallahu anhu dinamai ash-Shiddiq. Artinya orang yang selalu percaya. (al Hakim dalam al-Mustadrak, 3/62-63)


E. Hikmah dari Peristiwa Isra' Mi'raj

Maka, dari peristiwa tersebut, yang terpenting dari memperingati Isra Mi'raj adalah mengambil nilai-nilai dari peristiwa itu, yaitu:

1. Supaya kita semua dapat menghitung nilai sholat kita.

Sholat adalah amalan yg didapatkan oleh Nabi melalui peristiwa besar ini, dan tanpa melalui malaikat Jibril. Maka, sungguh tidak layak jika seseorang pulang dari peringatan isra mi'raj, tanpa ada rasa bersalah, atau tanpa adanya keinginan untuk memperbaiki sholat nya

2. Mengedepankan dalil syari dibandingkan akal.

Abu Bakar dijuluki sebagai Ash-Shidiq, karena cara beliau membenarkan nabi, sangat jauh melebihi seluruh umat nabi Muhammad. Maka, apabila kita mendengar sebuah ayat, hadist atau perkataan ulama yg berdasarkan pada keduanya, maka hendaklah kita sami'na waatho'na (kami dengar dan taat)

3. Kepunyaan Allah-lah langit dan bumi, dan Dia bebas berkehendak terhadap sesuatu.

Bisa saja Allah langsung bicara kepada nabi Muhammad seperti nabi Musa di dunia, tapi Allah hendak memberikan pelajaran besar pada hambanya dengan dipanggilnya nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha

4. Bersuci

Sebelum bertemu Allah di langit, Jibril membelah dan mencuci hati nabi Muhammad. Bahwa jika nabipun demikian, apalagi kita, kita harus selalu menyucikan diri dan jiwa kita

5. Tidak menyembunyikan kebenaran

Setelah peristiwa isra mi'raj, nabi tidak menyimpan peristiwa untuk diri sendiri, tapi langsung mengabarkan kepada masyarakat, walaupun mengakibatkan orang-orang mendustakan nya, bahwa itu tidak masuk akal. Namun Allah menguatkan Nabinya melalui Abu Bakar, beliau membela dan membenarkan kejadian tersebut. Bahwa hendaklah kita tidak menutupi kebenaran, dan membela kebenaran


Catatan:

  • Isra Mi'raj bukan sebuah perayaan, karena hari Raya Islam hanya ada 2, yaitu idul fitri dan idul adha.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

  • Oleh karena itu, disebut sebagai Peringatan Isra Mi'raj, yaitu mengingat-ingat kejadian dan mengambil hikmah dari Isra Mi'raj, sebagaimana poin2 diatas


Quiz dari artikel Isra Mi'raj, klik link dibawah:


Sumber: https://almanhaj.or.id/2329-isra-dan-miraj.html#_ftn6

Komentar