Adh-Dhuha
A. Sekilas
Surat Adh-Dhuha merupakan awal dari surat qishorul mufashol
# bahwa dari susunan Quran dari surat Al-Qur'an berurutan, sebagaimana Hadist:
Dari Usman bin Afan berkata, dahulu Rasulullah Saw. jika datang waktu ketika wahyu diturunkan dari beberapa surat yang memiliki banyak ayat. Saat ayat-ayat itu diturunkan kepada Nabi, beliau akan memanggil beberapa sekretaris untuk menuliskannya di sampingnya, beliau lalu berkata, “Letakkanlah ini di surat yang menyebutkan tentang hal ini di dalamnya seperti itu.” (HR. Nasai, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad)
# kemudian dari sebuah riwayat, Quran terbagi menjadi 4 bagian. disebutkan dalam hadist, dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku diberi pengganti isi Taurat dengan as-Sab’u (7 surat panjang), dan aku diberi pengganti isi Zabur dengan surat al-Mi-in, dan aku diberi pengganti isi Injil dengan al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat al-Mufashal.” (HR. Ahmad 16982 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
- As-Sab'u/ At-Tiwal: yaitu; surah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, dan Al-Anfal+Al-Bara’ah. Surah Alanfal dan Albara’ah dalam hal ini dianggap satu kesatuan karena keduanya tidak dipisah oleh basmalah.
- Al-Mi'un/ Al-Mi'in: yaitu; surah Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’ad, Ibrahim, Al-Hijr, dan An-Nahl
- Al-Matsani: 17 surat, yaitu surat Al-Ahzab sampai Al-Hujurot
- Al-Mufashol: 65 surat, yaitu dari Qof sampai An-Nass
dari 4 bagian itu, biasanya nabi memakai surat Al-Mufashol dalam sholat 5 waktu (sebagaimana dalam riwayat Bukhari,Muslim & An-Nasai), dengan membagi surat Al-Mufashol menjadi 3 bagian:
a. Tiwalul Mufashol: Qof sampai Al-Mursalat. biasa dibaca saat Subuh & Zuhur
b. Awsatul Mufashol: An-Naba sampai Al-Lail. biasa dibaca saat Asar & Isya
c. Qishorul Mufashol: Adh-Dhuha sampai An-Nas. biasa dibaca saat Maghrib
Jadi, Surat Adh-Dhuha merupakan awal dari surat Qishorul Mufashol, surat pendek yang terpisah-pisah oleh banyaknya kata basmalah. Yang kemudian surat-surat ini biasa dibaca Rasuullah ketika sholat Maghrib.
B. Hubungan dengan surat lain
Surat Adh-Dhuha disandingkan kemudian dengan surat As-Syarh, ternyata memiliki hubungaan bahwa keduanya membicrakan nikmat Allah kepaada Rasulullah
Surat Adh-Dhuha, menerangkan tentang nikmat Allah secara dzohir: yatim>dilindungi. bingung>petunjuk. kekurangan>dicukupkan.
Surat As-Syarh, yg menerangkan tentang nikmat Allah secara Batin: Dilapangan dada, diringankan beban hati, dinaikkan derajat
C. Asbabun Nuzul
Dalam Tafsir Jaalalain, diriwayatkan oleh imam Bukhari, Muslim, dan lainnya, dari Jundab yang telah menceritakan bahwa Nabi SAW. mengalami sakit, karena itu beliau tidak melakukan Salatullail selama semalam atau dua malam. Lalu datang kepadanya seorang wanita seraya berkata: "Hai Muhammad, aku tidak berpendapat lain kecuali aku yakin bahwasanya setanmu itu telah meninggalkanmu". Maka Allah menurunkan firman-Nya: Derni waktu duha', dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci (kepadamu).". (QS. 93 Adh-Dhuha: 1-3)
Diriwayaatkan oleh Imam At-Thabrani, dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda: "Telah ditampakkan kepadaku apa-apa yang kelak dapat ditaklukkan oleh umatku sesudahku, lalu aku gembira melihat-nya". Maka Allah menurunkan firman-Nya: "dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia" (QS. Adh-Dhuha: 4) Sanad hadis ini berpredikat hasan atau baik.
Diriwayatkan oleh imam Hakim, Baihaqi, Tabraani, dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa telah ditampakkan kepada Rasulullah SAW. kawasan-kawasan yang akan ditaklukkan oleh umatnya nanti yakni kota demi kota; melihat hal tersebut hati Ra' sulullah SAW. senang. Maka Allah segera menurunkan firman-Nya: 'Dan helah Tuhanmu pasti mtrnberihan karunia'Nyo kepadamu, lalu (hati) kamu rnenjadi puasD. (Q.S. Adh-Dhuha: 5)
D. Tafsir
Ayat 1:
وَٱلضُّحَىٰ ١
Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalan).
IK: Allah bersumpah demi waktu dan cahaya yang dipancarkan di waktu itu
J: permulaan siang / waktu siang seluruhnya
1. Khusus: Waktu terbit matahari lebih 15 menit hingga 7 menit sebelum Zhuhur
2. Umum: Siang seluruhnya, sebagaimana Allah sering menggandengkan kata Dhuha dengan kata lail (malam), sehingga untuk menerangkan makna dhuha yaitu waktu siang, sebagaimana QS. Al-A'raf 97-98, dan juga sebagaimana pada surat ini ayat 1 dan 2-nya. Diterangkan pula, makna dhuha adalah memiliki ciri sebagaimana siang hari, dalam surat Thoha ayat 119, Allah berfirman
وَأَنَّكَ لَا تَظْمَؤُا۟ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ ١١٩
dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari." (QS. Thoha: 119)
#Keutamaan waktu dhuha
1. Awal dari kecerahan, keindahan
2. Awal waktu diizinkan kembali untuk sholat
3. Allah berbicara dengan Musa diwaktu Dhuha
4. Musa berduel dengan penyihir Fir'aun diwaktu dhuha
Allah bersumpah dengan waktu-waktu seperti dhuha, 'ashr, lail, menunjukkan bahwa waktu adalah sangat berharga
ali, waktu adalah pedang,
#keutamaan Sholat Dhuha
Dalam riwayat Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu:
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi atau memasuki masjid Quba’ setelah matahari terbit yang ketika itu orang-orang sedang melakukan shalat. Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ صَلاَةَ الأَوَّابِيْنَ كَانُوْا يُصَلُّوْنَهَا إِذَا رَمَضَتِ الْفِصَالُ
"Shalat nya Awwâbîn (orang-orang yang kembali bertaubat kepada Allah), mereka melakukannya saat anak unta kepanasan." [HR. Ahmad no. 19366]
>> anak unta biasa bangkit sekitar jam 10.00 pagi, inilah waktu terbaik untuk Dhuha, yaitu ketika orang-orang disibukkan dengan kerjaan atau istirahat siang
>> adapun waktu umum dhuha yaitu 15 menit setelah terbit, hingga 7 menit sebelum waktu Zuhur
dalam hadist lain, Rasulullah bersabda,
Tidak ada yang bisa menjaga shalat dhuha kecuali orang awwab (sering bertaubat). Dan dia (dhuha) adalah shalat awwâbîn (shalatnya orang yang senang bertaubat).” [Silsilah as-Shahîhah, no. 703].
>< ada yg mengatakan, bahwa Sholat Awwabin adalah sholat 6 rakaat diantara Maghrib dan Isya, namun penamaan khusus sholat Awwabin untuk waktu ini tidaklah tepat dan tidak berdasar.
Walaupun sholat terus menerus setelah maghrib hingga isya tidak terlarang, sebagaimana contoh dari Nabi dalam Hadist riwayat An-Nasai, dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan,
Saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan saya shalat Maghrib bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (sunnah) sampai Isya.
Bahwa Mazhab Hambali berpendapat, bahwa Qiyamul Lain dimulai sejak waktu Maghrib, sehingga sholat sunnah setelah maghrib hingga isya dibolehkan, namun bukan dengan penamaan sholat awwabin atau mengkhususkan jumlah rakaat dengan iming-iming ganjaran yang khusus.
Ayat 2:
وَٱلَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ٢
Dan demi malam apabila telah sunyi.
J: Malam yg Tenang / telah menutupi dengan kegelapannya
T: Puncak kegelapannya. demi malam apabila para penghuninya telah sunyi dan sempuma kegelapannya
Dalam membantah ummi Jamil, Allah bersumpah atas 2 waktu itu, yaitu Allah bersumpah atas Siang dengan cahayanya dan Malam dengan ketenangannya, kemudian Allah menguatkan hati nabi dengan ayat-ayat selanjutnya
Ayat 3: Bantahan Allah atas tuduhan orang-orang mekkah
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ٣
Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.
Mawadda'aka robbuka
J: Tidak membiarkanmu sendiri
Wama Qola
J: dan tidak pula membenci (tidak senang) kepadamu
Bantahan Allah kepada tuduhan orang musryik
T: Dari Qotadah, ia berkata 'Jibril telat datang kepada beliau, lalu orang-orang musyrik berkata 'Ia telah dibencii dan ditinggalkan oleh Tuhannya'. Allah lalu menurunkan ayat ini, 'Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci'
Bantahan Allah kepada firasat Siti Khadijah
T: dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata, "Jibril AS terlambat datang kepada Nabi SAW, maka beliau merasakan kegelisahan yang berat, dan Khadijah berkata, Menurutku, Tuhanmu telah membencimu, kami melihat dari kegelisahanmu yang berat'. Lalu turunlah ayat, 'Demi matahari sepenggal naik dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meningalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu'
Ayat ketiga pada surat ini, merupakan jawaban dari sumpahNya terhadap hal-hal yang disebutkan pada dua ayat sebelumnya. Yang maknanya ialah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meninggalkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak (pula) membencinya sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap bersamanya, membimbingnya, dan meninggikan derajatnya setingkat demi setingkat. Hal ini menunjukkan, bahwa keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari dahulu sampai pada saat turunnya ayat ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam keadaan yang sangat baik dan sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mencintai dan membimbingnya. Sehingga, ayat ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan wanita musyrik tersebut yang berprasangka bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditinggalkan dan dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ayat 4:
J: Kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu, karena terdapat kemuliaan-kemuliaan didalamnya
T: sesungguhnya negeri akhirat dan hal-hal yg dijanjikan Allah kepadamu di dalamnya, lebih baik bagimu daripada negeri dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, janganlah engkau bersedih atas apa yang luput darimu dari keduniaan, karena yang akan menjadi milikmu di sisi Allah pasti lebih baik bagimu daripada itu.
IK: Dunia bukan prioritas Nabi, beliau menggap dunia hanya seperti musafir.
Dunia adalah ujian, tempat nafsu seharusnya dikendalikan, agar surga bisa diraih
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ٤١
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal-(nya). (QS. An-Naziat: 40-41)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa yang akan datang akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terus selalu mendapatkan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala , hingga beliau benar-benar mendapatkan derajat tertinggi di sisiNya.
Ayat 5:
J: Kelak Tuhan akan memberimu diakhirat kebaikan-kebaikan yang melimpah ruah, lalu kamu menjadi puas dengannya
IK: Yakni kelak di negeri akhirat Allah akan memberinya hingga ia merasa puas tentang umatnya dan juga kemuliaan yang telah disediakan oleh Allah untuk dirinya. Yang antara lain ialah Telaga Kautsar yang kedua tepinya berupa kubah-kubah dari mutiara yang berongga, sedangkan tanahnya bibit minyak kesturi, sebagaimana yang akan diterangkan kemudian.
IK: Dan Allah Swt. memberikan kepada beliau Saw. di dalam surga sejuta gedung, dalam tiap gedung terdapat istri-istri dan para pelayan yang layak baginya. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui jalur Abu Amr Al-Auza'i. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas, dan hal yang semisal dengan ini tiada lain kecuali berpredikat mauquf.
J: Dalam tafsir Jalalain, disinggung, Rasulullah tidak akan puas sampai umatnya masuk surga, sehingga dalam hadist lain, disebutkan, bahwa setengah isi surga adalah umat beliau
Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah qubbah (kemah kecil yang berbentuk bundar) bersama sekitar empat puluh orang.
Lalu beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi seperempat penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’
Beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi sepertiga penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’
Beliau bersabda, ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi setengah dari penghuni surga. Hal itu karena surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang berserah diri (muslim). Kalian dibandingkan dengan orang-orang musyrik hanyalah seperti sehelai rambut putih pada kulit sapi yang hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada kulit sapi yang merah.’ (HR. Bukhari, 11:378 dan Muslim, no. 221, 377)
bersambung
Ayat 6:
J: bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, karen ayahmu telah mati meninggalkanmu sebelum lair, dan dia menyerahkan dirimu kepada asuhan pamanmu Abu Thalib
Ayat 7:
J: dan mendapatimu sebagai orang yang bingung mengenai syariat ibadah, kemudian Dia menunjukimu kepadanya
Ayat 8:
J: dan menndapatimu sebagai seorang yang berkekurangan, lalu Dia memberimu kecukupn yang kamu merasa puas dengannya, yaitu Ghanimah & dari lain-lainnya, sertaa kekayaan jiwa
Ayat 9
sewenang-wenang mengambil harta atau hal lain yang dimilikinya
Ayat 10
J: dan terhadap peminta-minnta, jaangan menghardik, membentak karena kemiskinannya
Ayat 11
J: an terhadap nikmat kenabian dan lain-lain itulah hendaklah kamu menyebut-nyebutnya dengaan cara mensyukurinya
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung