Langsung ke konten utama

Tafsir Adh-Dhuha

﷽

 Adh-Dhuha


Tadabbur ayat 1-5

Tadabbur ayat 6-11


A. Sekilas

Surat Adh-Dhuha merupakan awal dari surat qishorul mufashol


# bahwa dari susunan Quran dari surat Al-Qur'an berurutan, sebagaimana Hadist:

Dari Usman bin Afan berkata, dahulu Rasulullah Saw. jika datang waktu ketika wahyu diturunkan dari beberapa surat yang memiliki banyak ayat. Saat ayat-ayat itu diturunkan kepada Nabi, beliau akan memanggil beberapa sekretaris untuk menuliskannya di sampingnya, beliau lalu berkata, “Letakkanlah ini di surat yang menyebutkan tentang  hal ini di dalamnya seperti itu.” (HR. Nasai, Abu Daud, Tirmizi, Ahmad)


# kemudian dari sebuah riwayat, Quran terbagi menjadi 4 bagian. disebutkan dalam hadist, dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diberi pengganti isi Taurat dengan as-Sab’u (7 surat panjang), dan aku diberi pengganti isi Zabur dengan surat al-Mi-in, dan aku diberi pengganti isi Injil dengan al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat al-Mufashal.” (HR. Ahmad 16982 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).


  • As-Sab'u/ At-Tiwal: yaitu; surah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, dan Al-Anfal+Al-Bara’ah. Surah Alanfal dan Albara’ah dalam hal ini dianggap satu kesatuan karena keduanya tidak dipisah oleh basmalah.
  • Al-Mi'un/ Al-Mi'in: yaitu; surah Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’ad, Ibrahim, Al-Hijr, dan An-Nahl
  • Al-Matsani: 17 surat, yaitu surat Al-Ahzab sampai Al-Hujurot
  • Al-Mufashol: 65 surat, yaitu dari Qof sampai An-Nass

dari 4 bagian itu, biasanya nabi memakai surat Al-Mufashol dalam sholat 5 waktu (sebagaimana dalam riwayat Bukhari,Muslim & An-Nasai), dengan membagi surat Al-Mufashol menjadi 3 bagian:

a. Tiwalul Mufashol: Qof sampai Al-Mursalat. biasa dibaca saat Subuh & Zuhur

b. Awsatul Mufashol: An-Naba sampai Al-Lail. biasa dibaca saat Asar &  Isya

c. Qishorul Mufashol: Adh-Dhuha sampai An-Nas. biasa dibaca saat Maghrib


Jadi, Surat Adh-Dhuha merupakan awal dari surat Qishorul Mufashol, surat pendek yang terpisah-pisah oleh banyaknya kata basmalah. Yang kemudian surat-surat ini biasa dibaca Rasuullah ketika sholat Maghrib.


B. Hubungan dengan surat lain

Surat Adh-Dhuha disandingkan kemudian dengan surat As-Syarh, ternyata memiliki hubungaan bahwa keduanya membicrakan nikmat Allah kepaada Rasulullah 

Surat Adh-Dhuha, menerangkan tentang nikmat Allah secara dzohir: yatim>dilindungi. bingung>petunjuk. kekurangan>dicukupkan.

Surat As-Syarh, yg menerangkan tentang nikmat Allah secara Batin: Dilapangan dada, diringankan beban hati, dinaikkan derajat


C. Asbabun Nuzul

Dalam Tafsir Jaalalain, diriwayatkan oleh imam Bukhari, Muslim, dan lainnya, dari Jundab yang telah menceritakan bahwa Nabi SAW. mengalami sakit, karena itu beliau tidak melakukan Salatullail selama semalam atau dua malam. Lalu datang kepadanya seorang wanita seraya berkata: "Hai Muhammad, aku tidak berpendapat lain kecuali aku yakin bahwasanya setanmu itu telah meninggalkanmu". Maka Allah menurunkan firman-Nya: Derni waktu duha', dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci (kepadamu).". (QS. 93 Adh-Dhuha: 1-3)

Diriwayaatkan oleh Imam At-Thabrani, dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda: "Telah ditampakkan kepadaku apa-apa yang kelak dapat ditaklukkan oleh umatku sesudahku, lalu aku gembira melihat-nya". Maka Allah menurunkan firman-Nya: "dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia" (QS. Adh-Dhuha: 4) Sanad hadis ini berpredikat hasan atau baik.

Diriwayatkan oleh imam Hakim, Baihaqi, Tabraani, dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa telah ditampakkan kepada Rasulullah SAW. kawasan-kawasan yang akan ditaklukkan oleh umatnya nanti yakni kota demi kota; melihat hal tersebut hati Ra' sulullah SAW. senang. Maka Allah segera menurunkan firman-Nya: 'Dan helah Tuhanmu pasti mtrnberihan karunia'Nyo kepadamu, lalu (hati) kamu rnenjadi puasD. (Q.S. Adh-Dhuha: 5)


D. Tafsir

  • Allah bersumpah dengan keagunggannya pada ayat 1-2
Ayat 1:
وَٱلضُّحَىٰ ١
Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalan).

IK: Allah bersumpah demi  waktu  dan cahaya yang dipancarkan di waktu itu

J: permulaan siang / waktu siang seluruhnya

1. Khusus: Waktu terbit matahari lebih 15 menit hingga 7 menit sebelum Zhuhur
2. Umum: Siang seluruhnya, sebagaimana Allah sering menggandengkan kata Dhuha dengan kata lail (malam), sehingga untuk menerangkan makna dhuha yaitu waktu siang, sebagaimana QS. Al-A'raf 97-98, dan juga sebagaimana pada surat ini ayat 1 dan 2-nya. Diterangkan pula, makna dhuha adalah memiliki ciri sebagaimana siang hari, dalam surat Thoha ayat 119, Allah berfirman

وَأَنَّكَ لَا تَظْمَؤُا۟ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ ١١٩

dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari." (QS. Thoha: 119)


#Keutamaan waktu dhuha
1. Awal dari kecerahan, keindahan
2. Awal waktu diizinkan kembali untuk sholat
3. Allah berbicara dengan Musa diwaktu Dhuha
4. Musa berduel dengan penyihir Fir'aun diwaktu dhuha

Allah bersumpah dengan waktu-waktu seperti dhuha, 'ashr, lail, menunjukkan bahwa waktu adalah sangat berharga

ali, waktu adalah pedang,

#keutamaan Sholat Dhuha

1. Bernilai sedekah
Dari Abu Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Rasulullah bersabda “Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

2. Bernilai pahala haji & umroh sempurna
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi, hasan, namun adapula yg mendhoifkannya)

3. Dimudahkan urusannya hingga akhir siang
Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286)

4. Merupakan Sholat-nya orang yg kembali taubat
Dalam riwayat Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu:
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi atau memasuki masjid Quba’ setelah matahari terbit yang ketika itu orang-orang sedang melakukan shalat. Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

إِنَّ صَلاَةَ الأَوَّابِيْنَ كَانُوْا يُصَلُّوْنَهَا إِذَا رَمَضَتِ الْفِصَالُ
"Shalat nya Awwâbîn (orang-orang yang kembali bertaubat kepada Allah), mereka melakukannya saat anak unta kepanasan." [HR. Ahmad no. 19366]

>> anak unta biasa bangkit sekitar jam 10.00 pagi, inilah waktu terbaik untuk Dhuha, yaitu ketika orang-orang disibukkan dengan kerjaan atau istirahat siang
>> adapun waktu umum dhuha yaitu 15 menit setelah terbit, hingga 7 menit sebelum waktu Zuhur

dalam hadist lain, Rasulullah bersabda,
Tidak ada yang bisa menjaga shalat dhuha kecuali orang awwab (sering bertaubat). Dan dia (dhuha) adalah shalat awwâbîn (shalatnya orang yang senang bertaubat).” [Silsilah as-Shahîhah, no. 703].

>< ada yg mengatakan, bahwa Sholat Awwabin adalah sholat 6 rakaat diantara Maghrib dan Isya, namun penamaan khusus sholat Awwabin untuk waktu ini tidaklah tepat dan tidak berdasar.

Walaupun sholat terus menerus setelah maghrib hingga isya tidak terlarang, sebagaimana contoh dari Nabi dalam Hadist riwayat An-Nasai, dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu mengatakan,
Saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan saya shalat Maghrib bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (sunnah) sampai Isya.

Bahwa Mazhab Hambali berpendapat, bahwa Qiyamul Lain dimulai sejak waktu Maghrib, sehingga sholat sunnah setelah maghrib hingga isya dibolehkan, namun bukan dengan penamaan sholat awwabin atau mengkhususkan jumlah rakaat dengan iming-iming ganjaran yang khusus.


Ayat 2:
وَٱلَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ٢
Dan demi malam apabila telah sunyi.

J: Malam yg Tenang / telah menutupi dengan kegelapannya
T: Puncak kegelapannya. demi malam apabila para penghuninya telah sunyi dan sempuma kegelapannya


Dalam membantah ummi Jamil, Allah bersumpah atas 2 waktu itu, yaitu Allah bersumpah atas Siang dengan cahayanya dan Malam dengan ketenangannya, kemudian Allah menguatkan hati nabi dengan ayat-ayat selanjutnya

  • Bantahan Allah atas tuduhan orang-orang mekkah, ayat 3 untuk kehidupan beliau, dan ayat 4-5 untuk kehidupan masa depan
Ayat 3:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ٣
Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.

Mawadda'aka robbuka
J: Tidak membiarkanmu sendiri

Wama Qola
J: dan tidak pula membenci (tidak senang) kepadamu


Bantahan Allah kepada  tuduhan orang musryik
T: Dari Qotadah, ia berkata 'Jibril telat datang kepada beliau, lalu orang-orang musyrik berkata 'Ia telah dibencii dan ditinggalkan oleh Tuhannya'. Allah lalu menurunkan ayat ini, 'Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci'

Bantahan Allah kepada firasat Siti Khadijah
T: dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata, "Jibril AS terlambat datang kepada Nabi SAW, maka beliau merasakan kegelisahan yang berat, dan Khadijah berkata, Menurutku, Tuhanmu telah membencimu, kami melihat dari kegelisahanmu yang berat'. Lalu turunlah ayat, 'Demi matahari sepenggal naik dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meningalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu'

Ayat ketiga pada surat ini, merupakan jawaban dari sumpahNya terhadap hal-hal yang disebutkan pada dua ayat sebelumnya. Yang maknanya ialah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meninggalkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak (pula) membencinya sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap bersamanya, membimbingnya, dan meninggikan derajatnya setingkat demi setingkat. Hal ini menunjukkan, bahwa keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari dahulu sampai pada saat turunnya ayat ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam keadaan yang sangat baik dan sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mencintai dan membimbingnya. Sehingga, ayat ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan wanita musyrik tersebut yang berprasangka bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditinggalkan dan dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala

Ayat 4: 
وَلَلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ ٤
Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.

J: Kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu, karena terdapat kemuliaan-kemuliaan didalamnya

T: sesungguhnya negeri akhirat dan hal-hal yg dijanjikan Allah kepadamu di dalamnya, lebih baik bagimu daripada negeri dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, janganlah engkau bersedih atas apa yang luput darimu dari keduniaan, karena yang akan menjadi milikmu di sisi Allah pasti lebih baik bagimu daripada itu.

IK: Dunia bukan prioritas Nabi, beliau menggap dunia hanya seperti musafir.

Dunia adalah ujian, tempat nafsu seharusnya dikendalikan, agar surga bisa diraih

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ٤١

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal-(nya). (QS. An-Naziat: 40-41)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa yang akan datang akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terus selalu mendapatkan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala , hingga beliau benar-benar mendapatkan derajat tertinggi di sisiNya.

Ayat 5:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ ٥
Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.

J: Kelak Tuhan akan memberimu diakhirat kebaikan-kebaikan yang melimpah ruah, lalu kamu menjadi puas dengannya

IK: Yakni kelak di negeri akhirat Allah akan memberinya hingga ia merasa puas tentang umatnya dan juga kemuliaan yang telah disediakan oleh Allah untuk dirinya. Yang antara lain ialah Telaga Kautsar yang kedua tepinya berupa kubah-kubah dari mutiara yang berongga, sedangkan tanahnya bibit minyak kesturi, sebagaimana yang akan diterangkan kemudian.

IK: Dan Allah Swt. memberikan kepada beliau Saw. di dalam surga sejuta gedung, dalam tiap gedung terdapat istri-istri dan para pelayan yang layak baginya. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui jalur Abu Amr Al-Auza'i. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas, dan hal yang semisal dengan ini tiada lain kecuali berpredikat mauquf.

J: Dalam tafsir Jalalain, disinggung, Rasulullah tidak akan puas sampai umatnya masuk surga, sehingga dalam hadist lain, disebutkan, bahwa setengah isi surga adalah umat beliau

Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah qubbah (kemah kecil yang berbentuk bundar) bersama sekitar empat puluh orang.
Lalu beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi seperempat penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’
Beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi sepertiga penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’
Beliau bersabda, ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi setengah dari penghuni surga. Hal itu karena surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang berserah diri (muslim). Kalian dibandingkan dengan orang-orang musyrik hanyalah seperti sehelai rambut putih pada kulit sapi yang hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada kulit sapi yang merah.’ (HR. Bukhari, 11:378 dan Muslim, no. 221, 377)


bersambung

  • 6-8: Allah mengingatkan kepada nabinya, mengenai kenikmatan yang Allah berikan kepada beliau semasa sebelum diutus, sebagai penghibur, dan agar beliau bersyukur dengan melaksanakan ayat 9-11

Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًۭا فَـَٔاوَىٰ ٦
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu).

J: bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, karen ayahmu telah mati meninggalkanmu sebelum lahir, dan dia menyerahkan dirimu kepada asuhan pamanmu Abu Thalib

#Allah selalu melindungi Rasulullah tiap kali beliau ditinggalkan oleh orang-orang yang tercinta
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, 
- Ditinggalkan oleh ayah saat dalam kandungan, Allah gantikan dengan asuhan Ibunya dan Halimah
IK: Demikian itu karena ayah beliau wafat sejak beliau masih berada dalam kandungan ibunya. Menurut pendapat yang lain, ayah beliau wafat ketika beliau baru dilahirkan. Kemudian ibunya (yaitu Aminah binti Wahb) wafat pula saat beliau berusia enam tahun.
- Setelah Ibunya wafat, Allah gantikan dengan asuhan kakeknya
IK: Sesudah itu beliau berada dalam pemeliharaan kakeknya (yaitu Abdul Muttalib) hingga kakeknya wafat saat beliau masih berusia delapan tahun.
- Setelah Kakeknya wafat, Allah gantikan perlindungan itu dengan perlindungan Abu Thalib
Ik: Kemudian beliau dipelihara oleh pamannya yang bernama Abu Talib, yang bersikap terus-menerus melindunginya, menolongnya, meninggikan kedudukannya, dan mengagungkannya serta membentenginya dari gangguan kaumnya sesudah Allah mengangkatnya menjadi seorang rasul dalam usia empat puluh tahun.
(padahal) Perlu diketahui bahwa Abu Talib adalah pengikut agama kaumnya yang menyembah berhala-berhala, dan Nabi Saw. tidak terpengaruh, yang hal ini tiada lain berkat takdir Allah dan pengaturan-Nya yang baik.
- Ketika Abu Thalib wafat, Allah ganti pertolongan nya dengan menghadirkan orang Anshor yang siap melindungi beliau
Ik: Dan ketika Abu Talib meninggal dunia sebelum Nabi Saw. akan melakukan hijrah dalam waktu yang tidak lama, maka orang-orang yang kurang akalnya dan orang-orang yang bodoh dari kalangan kaum Quraisy mulai berani mengganggunya.
Maka Allah Swt. memilihkan hijrah baginya dari kalangan mereka menuju negeri kaum Aus dan Khazraj, sebagaimana yang telah digariskan oleh suratan takdir-Nya yang lengkap lagi sempurna. Ketika beliau Saw. sampai di negeri mereka, mereka memberinya tempat, menolongnya, melindunginya, dan membelanya dengan jiwa dan harta mereka; semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka semuanya.
- Allah ingin mengingatkan kepada Nabi-Nya, bahwa Orang-orang yang hadir menjadi pelindung beliau itu, adalah atas pemeliharaan dan penjagaan dari Allah
Ik: Dan semuanya itu berkat pemeliharaan dan penjagaan serta perhatian dari Allah kepada Nabi Saw.

Ayat 7:
وَوَجَدَكَ ضَآلًّۭا فَهَدَىٰ ٧
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

ada 2 penafsiran,
1. Bingung dalam syariat Ibadah-nya Nabi Ibrahim, dan Allah memberi-Nya Al-Quran
J: dan mendapatimu sebagai orang yang bingung mengenai syariat ibadah, kemudian Dia menunjukimu kepadanya

Ayat ini senada dengan surat Asy-Syura ayat 52, Allah berfirman:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًۭا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَـٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَـٰهُ نُورًۭا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ ٥٢
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) rūh (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur`an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur`an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk pada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) ke jalan yang lurus,

2. Tersesat dijalan, kemudian diarahkan

Dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau menyebutkan 2 riwayat dari Al-Baghowi
a. Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sesungguhnya Nabi Saw. pernah tersesat di lereng-lereng pegunungan Mekah saat ia masih kecil, kemudian ia dapat pulang kembali ke rumahnya.

b. Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya ia pernah tersesat bersama pamannya di tengah jalan menuju ke negeri Syam. Saat itu Nabi Saw. mengendarai unta betina di malam yang gelap, lalu datanglah iblis yang menyesatkannya dari jalur jalannya. Maka datanglah Malaikat Jibril yang langsung meniup iblis hingga terpental jauh sampai ke negeri Habsyah. Kemudian Jibril meluruskan kembali kendaraanNabi Saw. ke jalur yang dituju.

Ayat 8:
وَوَجَدَكَ عَآئِلًۭا فَأَغْنَىٰ ٨
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

J: dan mendapatimu sebagai seorang yang berkekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan yang kamu merasa puas dengannya, yaitu Ghanimah & dari lain-lainnya, serta kekayaan jiwa

IK: Yakni pada mulanya kamu hidup dalam keadaan fakir lagi banyak anak, lalu Allah memberimu kecukupan dari selain-Nya. Dengan demikian, berarti Allah menghimpunkan baginya (Beliau telah merasakan diposisi orang fakir dan orang kaya) antara kedudukan orang fakir (yaitu) yang sabar dan orang kaya (yaitu) yang bersyukur, semoga salawat dan salam-Nya terlimpahkan kepadanya.

Ibnu Katsir menyertakan perkataan Qotadah, bahwa demikianlah kedudukan Nabi Saw. sebelum beliau diangkat menjadi utusan oleh Allah Swt. (diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim)

# sehingga, bukan sebuah perkataan kosong, ketika beliau bersabda mengenai bentuk kefakiran yang sebenarnya atau bentuk kekayaan yang sebenarnya. karena beliau telah merasakan keduanya

Dari Abu Hurairah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

Bukanlah orang kaya itu karena banyak memiliki harta benda, tetapi orang yang kaya itu adalah orang yang jiwanya kaya. (HR. Bukhari Muslim)

Demikianlah keadaan orang Muslim, sebagaimana juga disebutkan dalam hadist dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بما آتاه»

Sesungguhnya beruntunglah orang yang Islam, dan diberi rezeki secukupnya, serta Allah telah menjadikannya menerima seadanya menurut apa yang diberikan oleh-Nya (diberi sifat qana'ah). (HR. Muslim)

  • 9-11: Bentuk Syukur atas nikmat-nikmat diatas
Ayat 9
فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ٩
Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.

J: Taq'har: sewenang-wenang mengambil harta atau hal lain yang dimilikinya 

IK: Yakni sebagaimana engkau dahulu seorang yang yatim, lalu Allah melindungimu, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Yakni janganlah kamu menghina, membentak, dan merendahkannya; tetapi perlakukanlah dia dengan baik, dan kasihanilah dia.

Ibnu Katsir menyertakan perkataan dari Qatadah, ayat ini bermakna bahwa, jadilah engkau terhadap anak yatim sebagai seorang ayah yang penyayang.

Terhadap anak Yatim, Allah memerintahkan kepada Nabinya, agar Nabi dan umat-Nya berbuat baik pada anak Yatim

فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةِ ۗ وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْيَتَـٰمَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌۭ لَّهُمْ خَيْرٌۭ ۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ ٱلْمُفْسِدَ مِنَ ٱلْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ ٢٢٠

"tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, "Memperbaiki keadaan mereka adalah lebih baik!" Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Baqarah: 220)

#Keutamaan menyantuni anak yatim

Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Muhamad Saw. pernah didatangi oleh seseorang yang mengeluhkan kerasnya hatinya, maka beliau bersabda,

أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتُكَ اِرْحَمِ اليَتِيْمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنُ قَلْبُكَ وَتُدْرِكُ حَاجَتُكَ

“Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan kamu mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan kepadanya dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.” (HR. ‘Abdurrazaq dalam mushannafnya)

Beliau bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا...

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari)

dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan memberinya makan dan minum niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga kecuali jika dia melakukan dosa yang tidak dapat diampuni." (HR. Tirmizi)

Ayat 10
وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ ١٠
Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya).

Bermakna 2: peminta Harta, dan peminta Ilmu

1. Peminta Harta
J: dan terhadap peminta-minta, jaangan menghardik, membentak karena kemiskinannya

IK: Janganlah kamu bersikap sewenang-wenang, jangan sombong, jangan berkata kotor, dan jangan pula bersikap kasar terhadap orang-orang yang lemah dari hamba-hamba Allah.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah bila (hendak) menolak orang miskin, lakukanlah dengan sikap kasih sayang dan lemah lembut.

2. Peminta Ilmu
IK: Yaitu sebagaimana engkau dahulu dalam keadaan kebingungan, lalu Allah memberimu petunjuk, maka janganlah kamu menghardik orang yang meminta ilmu yang benar kepadamu dengan permintaan yang sesungguhnya.



Ayat 11
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ١١
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).

# Diantara bentuk syukur

T: dari Abu Nadrah yang mengatakan bahwa dahulu orang-orang muslim memandang bahwa termasuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah ialah dengan menyebut-nyebutnya (mensyukurinya dengan lisan).

Ibnu Katsir menyebutkan sebuah hadist, Dari An-Nifman ibnu Basyir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda di atas mimbar: Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, berarti tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Dan barang siapa yang tidak berterima kasih kepada (jasa) orang lain, berarti dia tidak bersyukur kepada Allah. Dan menyebut-nyebut nikmat Allah adalah (ungkapan rasa) syukur, sedangkan meninggalkannya berarti mengingkarinya. Persatuan itu membawa rahmat dan berpecah belah itu membawa azab. (Sanad hadis ini daif/lemah)

Dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang diberi suatu pemberian, lalu ia mempunyai sesuatu untuk membalasnya, maka balaslah pemberian itu. Dan jika ia tidak mempunyai sesuatu untuk membalasnya, maka hendaklah ia memuji pemberinya. Maka barang siapa yang memuji pemberinya, berarti telah mensyukurinya; dan barang siapa yang menyembunyikannya (tidak menyebutnya), berarti dia telah mengingkarinya. (HR. Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
قَالَ: "لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ"

Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada (kebaikan) orang lain. (HR. Abu Dawud)

# Bentuk Syukur terkait ayat ini

IK: Yakni sebagaimana engkau dahulu orang yang kekurangan lagi banyak tanggungannya, lalu Allah menjadikanmu berkecukupan, maka syukurilah nikmat Allah yang diberikan kepadamu itu.

J: Dan terhadap nikmat kenabian dan lain-lain itulah, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya dengan cara mensyukurinya

IK: Mujahid mengatakan bahwa nikmat yang dimaksud dalam ayat ini adalah kenabian yang telah diberikan oleh Allah Swt. kepada Nabi-Nya. Yakni syukurilah kenabian yang telah diberikan Tuhanmu kepadamu. Menurut riwayat yang lain, nikmat yang dimaksud adalah Al-Qur'an.

IK: Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu berupa nikmat, kemuliaan dan kenabian, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya dan ceritakanlah kepada orang lain dan serulah (mereka) kepadanya. Muhammad ibnu Ishaq melanjutkan, bahwa lalu Rasulullah Saw. menceritakan karunia kenabian yang telah diterima olehnya itu kepada orang-orang yang telah beliau percayai dari kalangan keluarganya secara diam-diam. Lalu difardukanlah ibadah salat kepadanya, maka beliau mengerjakannya.

E. Hikmah & Kesimpulan

1. Surat Adh-Dhuha disandingkan kemudian dengan surat As-Syarh, ternyata memiliki hubungaan bahwa keduanya membicrakan nikmat Allah kepaada Rasulullah

2. Surat Adh-Dhuha diturunkan sebagai bantahan dari orang-orang, bahwa Nabi telah ditinggalkan Rabb-nya

3. Keutamaan Sholat Dhuha: sedekah 360 sendi, bernilai haji/umroh, dimudahkan urusan hingga siang berakhir, dan merupakan kebiasaan orang-orang yg suka kembali pada Allah

4. Allah sandingkan sumpahnya, dhuha dan lail, yang menurut salah satu pendapat artinya siang dan malam, menandakan bahwa pentingnya menjaga waktu, baik siang maupun malam

5. kenikmatan akhirat lebih baik dari dunia

6. Tiap kenikmatan itu dari Allah, maka hendaklah bersyukur, dengan menyebutnya, dan meningkatkan amal, dan tidak berbuat dzholim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Idul Adha : Ikhlas Berkorban untuk Islam

KHUTBAH PERTAMA الله اكبر ٩× اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ  الله اكبر ولله الحمد ---- الحمدلله الذي جعل يوم العيدا للمسلمين، ووحدنا بعيدِهِ كأُمَّةٍ واحدة، من غير الأمم، ونشكره على كمالِ اِحسانه، وهو الجلال والاكرام.  ---- اشهد ان لا اله الا انت وحدك لا شريك لك، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ و اشهد ان محمدا عبدك ورسولك ----  اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَ...

Khutbah Jumat: Melepas Kepergian Ramadhan

﷽ Khutbah Pertama انّ الْحَمْدَ ِلله،ِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَه،ُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِه،ِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَة،ٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاء،ً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام ،َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا الله،َ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُم،ْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ... فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ!، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه،ِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّق...

Malam Zhafaf

Malam Zhafah adalah malam setelah akad nikah, dimana seorang jejaka pertama kali menyandang status sebagai suami, dan seorang gadis untuk pertama kali juga menyandang sebagai seorang istri. Malam ini merupakan malam sakral yang perlu diperhatikan oleh 2 insan yang telah bersama menjalin janji akan menjadi teman hidup serumah didunia hingga akhirat Hal-hal yang dapat diperhatikan di malam pertama pernikahan diantaranya: 1. mempersiapkan sematang mungkin, baik fisik maupun mental. Sebab malam ini memiliki kesan yg sangat dalam untuk jangka waktu yg sangat lama a. laki: berhias, menghilangkan bulu ketiak, kumis, kuku, bulu kemaluan, merapihkan janggut, memakai wewangian dan bersiwak. sebagaimana dalam riwayat muslim, bahwa Aisyah menuturkan kebiasaan Rasulullah saat pertama kali memasuki rumah yaitu sikat gigi, dan ada kemungkinan kemudian menyambut istri beliau dengan ciuman. b. wanita: sama halnya dengan laki-laki, berhias, terutama memotong kuku karena malam itu wanita cenderung mencen...