Langsung ke konten utama

BISA (Belajar Islam Sedari Awal) 5: Nabi Terakhir berasal dari Jalur Nabi Ismail bin Ibrahim

Keturunan Nabi Ismail & Tanah Suci 

Dari keturunan Ismail-lah nantinya akan diutus nabi akhir zaman yang membawa keyakinan sebagaimana para nabi terdahulu, lahir dikalangan umat yang sedang kacau, sehingga dengan kehadirannya sebagai seorang nabi tersebut, ia mampu menjadi solusi bagi masyarakat. Ia lahir di tanah Arab, atau disebut sebagai tanah Bakkah(Mekkah), tanah suci pertama, yaitu yang dimuliakan sejak Nabi adam turun kedunia. Tanah itulah yang pertama kali dibangun sebagai Rumah Ibadah kepada Allah oleh nabi Adam, namun bangunannya runtuh oleh banjir besar pada zaman nabi Nuh, dan kembali dibangun oleh nabi Ibrahim dan Putranya nabi Ismail sebagai tempat ibadah haji, karena pusat(bagian titik tengah) bumi terletak disana.

Suku Jurhum VS Suku Khuza'ah

Disanalah nabi Ismail besar dan tinggal besama keluarganya dan Suku Jurhum Yaman, serta menghasilkan keturunan yang akan selalu menjaga tanah suci Bakkah, air Zamzam dan menjaga ajaran nabi Ibrahim yang murni mengesakan Allah.

Namun, setelah wafatnya Nabi Ismail, bani/keturunan Ismail mulai melemah sehingga kota Bakkah diambil alih kekuasaannya oleh suku Kuzaah(yang datang dari Yaman) yg membuat kehidupan dan keyakinan masyarakat mulai berubah sedikit demi sedikit. Amr bin Luhai dari suku Kuzaah, ia menjabat sebagai pemimpin yang dikenal baik oleh masyarakat dan sering membantu orng yang datang berhaji di Rumah Allah.

Kesesatan Amar bin Luhai, pembawa Patung

Suatu ketika Amr pergi ke negeri Syam, yang didalamnya telah menyembah patung-patung. Melihat praktek penyembahan itu ia bertanya tentang hal itu, dan mereka menjawab “ini adalah berhala yang kami sembah, dan ini mendatangkan kebaikan bagi kami”.  Karena kebodohan Amr, ia meminta patung dari mereka untuk dibawa ke Mekkah untuk dijadikan sesembahan. 

Karena status sosialnya, sebagai raja dan dermawan, orang-orang mudah menerima ajakannya. Maka Mekkah menjadi masyarakat yang berada diatas kebodohan. Mereka mencampur keyakinan nabi Ibrahim dan juga penyembahan patung. Dampak dari hal ini cukup besar, sehingga muncul banyak praktek sesat. seperti berhaji tanpa pakaian, memberi makanan/sembelihan untuk patung, mengundi nasib ke pendeta, mengubur bayi perempuan, terjadi perbedaan kasta (kaya, miskin, dan budak). Penyimpangan semakin berkembang, sehingga ada sekitar 360 patung yang mengelilingi Kakbah(pusat Haji). Setelah generasi Amr bin Lihai berakhir dan keturunan Ismail kembali mendapat kekuatan untuk menguasai Mekkah. Namun praktek kebodohan tetap berjalan di tengah masyarakat maupun pendatang yang melaksanakan ibadah Haji.

Umat Manusia butuh Pembaharu

Maka memang pantas nabi terakhir diutus dari wilayah ini, karena pengaruh penyimpangannya yang besar dan bisa menyebar ke wilayah lain melalui perdagangan atau dibawa oleh pendatang yang berhaji tersebut.

Inilah kekacauan yang terjadi di masa sepeninggal Nabi Isa dan menjelang diutusnya nabi Terakhir, yakni menekan orang yang beriman, juga kepercayaan kepada benda-benda langit seperti pemuja dewa-dewa, matahari, bulan, malaikat, atau peramal bintang; dan juga terdapat kepercayaan kepada benda-benda bumi seperti pemuja berhala, penyembah api(Majusi), mendewakan manusia; serta praktek perdukunan atau penyembah setan. sehingga secara garis besar, terdapat 4 aliran penyimpangan: Yahudi(pembangkang), Nasrani(penyembah Yesus), Musyrik(penyembah berhala), dan Majusi(Pemuja Api). Sebagaimana dalam sebuah ayat;

Nabi Ibrahim adalah Seorang Muslim

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi,  dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Ali 'Imran: 67) 

Para Hanafiyah (Pencari Kebenaran)

Namun demikian, dari kelompok yahudi dan Nasrani ini masih ada sedikit dari mereka yang tidak mau ikut dalam penyimpangan, mereka teguh diatas kebenaran, mereka menjaga isi kitab dan berusaha mencari kebenaran, serta menunggu-nunggu kehadiran nabi terakhir, ada yang berkelompok sebagaimana kisah Ashabul Ukhdud diatas, ada pula yang sendiri, yaitu sebagaimana dikutip dalam buku Sirah Ibnu Hisyam,

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Ibnu Ishaq bahwa: Huwairits, dan Zaid bin Amr bin Nufail. Saat masyarakat jahiliyah berkumpul di sisi berhala-berhala mereka dalam rangka merayakan hari besar, salah seorang dari empat orang ini mengatakan, “Ketauhilah. Demi Allah, kaum kalian ini tidak berada di atas apapun. Mereka telah jatuh pada penyimpangan dari agama bapak mereka, Ibrahim. Batu-batu itu tidak mendengar, tidak melihat, tidak bisa membahayakan, dan tidak bisa memberi manfaat. Wahai teman-teman, carilah untuk diri kalian agama yang benar. Karena demi Allah, kaum kalian ini tidak berada di atas kebenaran.” Kemudian mereka berpencar mencari orang-orang yang masih berada di atas agama yang hanif. Agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Ibnu Hisyam: as-Sirah an-Nabawiyah, 1/223).

Ada pula yang menyebutkan jumlah orang-orang hanif itu lebih banyak dari empat orang. Sebagian sumber sejarah menyebutkan nama-nama mereka adalah Qiz bin Sa’idah al-Iyadi, Zaid bin Amd bin Nufail, Umayyah bin Abi ash-Shilat, Arbab bin Raib, Suwaid bin Amir al-Mushtalqi, As’ad Abu Karb al-Humairi, Waki’ bin Zuhair al-Iyadi, Umair bin Jundub al-Juhani, Adi bin Zaid al-Adawani, Abdul Thanahah bin Tsa’lab bin Barrab bin Quda’ah, Ilaq bin Syihab at-Tamimi, Multamis bin Umayyah al-Kinani, Zuhair bin Abi Salma, Khalid bin Sinan al-Abasi, Abdullah al-Qudha’I, Ubaid bin al-Abrash al-Asadi, dan Ka’ab bin Luai bin Ghalib. 

Mereka semua berpendapat bahwa agama kaum mereka bukanlah agama asli nenek moyang. Agama yang benar adalah agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Oleh karena itu, mereka mencari-cari sisa ajaran ini. Mereka juga menunggu kedatangan seorang rasul yang akan Allah utus untuk mereka. Pemikiran ini tersebar di sejumlah masyarakat Arab. Walaupun ujung dari pencarian mereka berbeda-beda.

Seperti Zaid bin Amr bin Naufal yang wafat dalam keadaan belum menemukan apapun. Ia tetap berada di atas agama yang hanif dengan sebatas yang ia ketahui. Ada lagi yang membaca kitab suci Nasrani. Seperti Waraqah bin Naufal. Tentu kitab Nasrani belumlah mengalami perubahan ekstrim seperti sekarang. Waraqah wafat sebelum Nabi Muhammad diutus. Dan di antara mereka terus berada di atas agama yang hanif hingga datang agama Islam, lalu ia memeluk Islam. seperti Ubaidullah bin Jahsy. 

Nabi Muhammad, Sang Pembaharu telah Tiba

Dunia sudah masuk pada tahap kebingungan, mana agama yang benar, dan mana yang pantas diikuti, para pencari kebenaran ini hanya dapat menunggu kedatangan nabi terakhir sebagai pembaharu yang dapat menuntun ke jalan yang benar, dan dapat menyambung ajaran para nabi terdahulu dan kemudian akan ajarannya dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam hingga akhir zaman, beliau adalah nabi Muhammad.

Nabi Muhammad lahir pada Tahun Gajah, sekitar tahun 570 Masehi atau 53 tahun sebelum Hijrah di kota Mekah, di wilayah Arab Saudi. Ayahnya; Abdullah, meninggal sebelum beliau belum lahir. Masa kecilnya dididik di kampung bani sa’ad dan disusui oleh Halimah hingga terjadi pembelahan dada di usia 5 tahun oleh malaikat Jibril(Gabriel). Dan ibunya; Aminah, meninggal ketika beliau berusia 6 tahun, Oleh karena itu, Nabi Muhammad dibesarkan oleh kakeknya; Abdul Muthalib, dan setelah kematian kakeknya, ia diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Al-Amin (Yang dapat Dipercaya)

Gelar Sebelum kenabian, Nabi Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur, amanah, dan bijaksana sehingga digelari "Al-Amin" yang berarti "yang dipercaya“.

Pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad menikahi seorang wanita bernama Khadijah, yang merupakan seorang pedagang kaya dan bijaksana. Mereka memiliki hubungan pernikahan yang bahagia dan dikaruniai 3 anak Perempuan dan 3 anak laki-laki, namun ke-3 anak laki-laki beliau wafat ketika masih kecil. 

Awal Kenabian

Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad sering menyendiri di gua Hira memikirkan kejahiliahan kaumnya, hingga Malaikat Jibril(Gabriel) muncul kepadanya dan menurunkan wahyu pertama dari Allah (surat Al-Alaq:1-5) yang menandakan diangkat ia menjadi nabi, kemudian beberapa waktu turun wahyu kedua (surat Al-Mudatsir : 1-7) yang menandakan diangkat ia menjadi Rasul. 

Penyebaran Islam, Periode Mekkah & Madinah

Setelah menjadi nabi, ia kemudian berdakwah selama 13 tahun di Mekkah dengan Dua tahapan: 3 tahun secara sembunyi-sembunyi  dirumah Arqom bin abil Arqom dengan mengajak keluarga dekat, kerabat, dan teman-teman terdekatnya untuk menerima ajaran Islam; dan 7 tahun secara terang-terangan. Dakwah pada Periode mekah ini lebih menekankan kepada keyakinan pengesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar, dan juga pengajaran dasar-dasar agama Islam.

Waraqah bin Naufal  mengabarkan berita dari kitab Nasrani bahwa sebagaimana para nabi lain, Nabi Muhammad pun juga akan diusir dari kampungnya oleh kaumnya sendiri. Dan benar, Islam di Mekkah ditindas, diboikot, disiksa, sehingga beliau dan kaum muslimin pindah ke kota Madinah dan beliau melanjutkan berdakwah selama 10 tahun disana hingga wafat, Madinah kota yang ramah, dan Islam telah masuk kesana sebelum beliau diusir dari kampungnya, beberapa tahapan dakwah yang beliau lakukan di Madinah diantaranya: (1)Nabi Muhammad membangun hubungan antara suku-suku Arab dan masyarakat Muslim yang baru terbentuk. Ia menyusun perjanjian (Piagam Madinah), yang mengatur hak-hak dan kewajiban semua warga Madinah, termasuk Muslim dan non-Muslim, (2) Pembangunan Masjid Nabawi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan politik umat Muslim, (3) Penyebaran Ajaran Islam, (4) Penyebaran Islam berupa hukum-hukum Islam, ibadah, etika, dan kehidupan sehari-hari berupa sosial dan ekonomi, (5) Perjanjian (hak dan kewajiban) dengan Suku-suku Lain (suku Arab di sekitar Madinah, termasuk Yahudi dan suku-suku pagan), (6) Pertahanan melalui Perang, dan (7) Perluasan Pengaruh Islam. 

Pesan Nabi Sebelum Wafat

Setelah Islam menjadi tersebar ke berbagai wilayah. Pada akhirnya di peristiwa Haji Wadha yang tarjadi pada tahun ke 10 H, setelah Peristiwa pembebasan mekah (Fathul Mekkah). Peristiwa mengharukan yang menandakan akan wafatnya Nabi Muhammad. Nabi Muhammad Wafat di usia 63 tahun, Pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun ke 11 Hijriah.

Nabi Muhammad pernah menegaskan kepada ummatnya bahwa harus selalu berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah(catatan teladan kehidupan beliau) agar tidak tersesat dan agar tidak membuat-buat praktek ibadah yang baru, dalam riwayat Ibnu Hibban dan imam Tirmizi beliau menyampaikan,

“Sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian setelahku nanti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang diberikan petunjuk. Peganglah ia erat-erat dengan gigi geraham, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru. Karena sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.”

Mempertahankan Ajaran (tanpa diubah, ditambah, atau dikurangi)

Belajar dari generasi nan lampau, perubahan drastis terjadi karena meninggalkan ajaran dan membuat ajaran baru, sehingga muncul perpecahan dan kerancuan keyakinan. Maka, sebagai pembentukan generasi akhir zaman yang lurus, keyakinan yang murni harus dipertahankan hingga akhir zaman pula. 

Tiga generasi awal Islam, mereka adalah para sahabat(Murid nabi), murid dari sahabat, dan murid dari para murid sahabat. Merekalah generasi terbaik dan teladan yang patut diikuti jejaknya oleh kita ummat akhir zaman ini. Merekalah para pewaris nabi, yang memegang warisan terbesar dan teragung, yakni Al-Qur’an dan Sunnah nabi. Dari merekalah, umat akhir zaman harus menimba dan mendulang ajaran agama yang benar. Jika tidak mengikuti mereka, maka akan sia-sia apa yang dikerjakan. Kemudian supaya Tidak berpecah-belah dengan berjalan kelompok-kelompok yang saling sikut, karena agama itu hanya satu, dan hanya satu kelompok yang benar dan murni mengamalkan Al-Qur’an & Sunnah yang selamat.

Golongan yang Selamat

Dalam Hadist yang dikumpulkan oleh Ibnu Majjah, Nabi bersabda,

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, 1 golongan masuk surga dan 70 di neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, yang 71 di neraka dan 1 disurga. Dan demi yang jiwa Muhammad berada di tangannya, ummatku (Islam) benar-benar akan terpecah menjadi 73 golongan, yang 1 disurga dan yang 72 golongan di neraka, ditanyakan kepada beliau ‘siapakah mereka yang 1 itu wahai utusan Allah?’, beliau menjawab ‘Al-Jamaah’” 

Umat Yahudi terdahulu yang telah berpecah belah, tentu memiliki 1% yang masih murni menyembah Allah, kemudian datang umat Nasrani yang berpecah juga namun masih ada 1% yang bertahan pada ajaran yang murni, tetapi yang 1% dari Yahudi dan Nasrani telah habis, meninggalkan pengikut pendeta-pendeta yang sesat. Kemudian sang pembaharu (nabi terakhir) datang memperbaharui keyakinan dan ajaran agama, agar umat yang terpecah itu, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, Musyrikin, dan lainnya agar  kembali pada ajaran yang murni, yaitu dengan masuk ke dalam agama Agama Islam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Jumat: Melepas Kepergian Ramadhan

﷽ Khutbah Pertama انّ الْحَمْدَ ِلله،ِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَه،ُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِه،ِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَة،ٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاء،ً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام ،َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا الله،َ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُم،ْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ... فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ!، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه،ِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّق...

Da’wah dan Perubahan Perilaku - Ilmu Dakwah 2

Da’wah dan Perubahan Perilaku (Materi Ke-4 dari MK Ilmu Dakwah)   A. Persuasi Dakwah Persuasi dalam konteks dakwah merujuk pada usaha meyakinkan dan mempengaruhi orang lain untuk mengadopsi keyakinan, nilai, dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Tujuan utama persuasi dakwah adalah membantu orang memahami dan menerima ajaran agama dengan cara yang lembut dan efektif. Berikut adalah beberapa prinsip dan strategi persuasi dalam ilmu dakwah: Pemahaman Target Audiens: Penting untuk memahami karakteristik, kebutuhan, dan pandangan target audiens. Dengan memahami siapa yang akan diberikan dakwah, pesan dakwah dapat disampaikan dengan lebih relevan dan persuasif. Penggunaan Argumentasi Rasional: Menggunakan argumen yang rasional dan berdasarkan bukti-bukti yang dapat diterima secara logika dapat meningkatkan daya persuasi. Penjelasan yang jelas dan terstruktur membantu orang memahami ajaran agama secara mendalam. Emosi yang Tepat: Menggunakan elemen emosional dengan bijak dapat ...

Malam Zhafaf

﷽ Malam adalah malam setelah akad nikah, dimana seorang jejaka pertama kali menyandang status sebagai suami, dan seorang gadis untuk pertama kali juga menyandang sebagai seorang istri. Malam ini merupakan malam sakral yang perlu diperhatikan oleh 2 insan yang telah bersama menjalin janji akan menjadi teman hidup serumah didunia hingga akhirat Hal-hal yang dapat diperhatikan di malam pertama pernikahan diantaranya: 1. mempersiapkan sematang mungkin, baik fisik maupun mental. sebab malam ini memiliki kesan yg sangat dalam untuk jangka waktu yg sangat lama a. laki: berhias, menghilangkan bulu ketiak, kumis, kuku, bulu kemaluan, merapihkan janggut, memakai wewangian dan bersiwak. sebagaimana dalam riwayat muslim, bahwa Aisyah menuturkan kebiasaan Rasulullah saat pertama kali memasuki rumah yaitu sikat gigi, dan ada kemungkinan kemudian menyambut istri beliau dengan ciuman. b. wanita: sama halnya dengan laki-laki, berhias, terutama memotong kuku karena malam itu wanita cenderung mencengkram...