Pada hari kedelapan bulan Dzulhijah, Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- menuju Mina. Beliau salat Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya, serta bermalam di sana. Pagi harinya, beliau berangkat ke Arafah untuk melaksanakan wukuf lalu berkhotbah di sana.
Di antara isi khotbah beliau adalah, “Sesungguhnya darah dan harta kalian haram (suci, tidak boleh diganggu) atas kalian menetapkan haramnya (sucinya) hari dan bulan kalian pada saat ini dan seperti (sucinya) negeri kalian ini. Ketahuilah! Bahwasanya semua tradisi jahiliah tidak berlaku lagi, darah-darah (dendam) jahiliah juga tidak berlaku lagi, darah pertama yang aku batalkan dari darah-darah kita adalah darah Ibnu Rabi'ah bin Haris yang dibesarkan di Bani Sa'ad lalu pembunuhan kabilah Hudzail. Riba jahiliah juga tidak berlaku lagi. Riba pertama yang saya batalkan adalah riba Al-Abbas bin Abdul Muththalib, semuanya dihapus dan tidak berlaku lagi.
“ Bertakwalah kalian dalam menghadapi wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluannya dengan K alimatullah. Kalian berhak meminta kepada mereka untuk tidak menyentuh tempat tidur kalian, siapa pun yang kalian tidak suka. Jika mereka melanggar, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Kalian wajib memenuhi makan dan pakaian mereka secara ma'ruf. Sungguh aku tinggalkan untuk kalian yang tidak akan membuat kalian tersesat apabila kalian berpegang teguh dengannya yaitu Kitabullah.”
Beliau juga memerintahkan untuk selalu mendengar dan taat kepada para pemimpin.
Setelah beliau menyampaikan khotbahnya, turunlah firman Allah -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ال ْإِسْلَامَ دِينًا
“Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku sempurnakan untukmu nikmat-Ku serta Aku rida Islam sebagai agamamu.” (al-Maidah: 3).
Beliau wukuf di Arafah hingga terbenamnya matahari lalu kemudian mabit (bermalam) di Muzdzalifah, lalu melanjutkan manasik hajinya seraya berkata, “Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian. Sejujurnya aku tidak mengetahuinya, bisa jadi aku tidak bisa lagi melaksanakan haji setelah hajiku tahun ini.”
Dari Ibnu Abbas -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- berkata, merindukan Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- saat berada di Aqabah pada pagi hari, “ Ambilkanlah untukku batu-batu kerikil .” Kemudian saya pun memungut tujuh buah kerikil sebesar kacang tanah untuknya, lalu beliau meniup batu kerikil yang ada di tangannya sambil berkata, “ Batu seperti inilah yang kalian gunakan untuk melontar. Lalu beliau melanjutkan, “ Wahai manusia, janganlah kalian berlebihan-lebihan dalam beragama, sesungguhnya kehancuran yang menimpa umat terdahulu disebabkan sikap berlebihan dalam beragama.”
Umar -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya seraya berkata, “Sungguh aku mengetahui kamu adalah batu yang tidak dapat menimbulkan mudarat dan memberikan manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak menciummu.”
Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- berkhotbah pada hari kurban (10 Dzulhijjah). Pada akhir khotbahnya, dia merindukan, “ Bukankah sudah kusampaikan? “ Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau beristirahat, “Ya Allah saksikanlah. Hendaknya yang menyaksikan menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Sebab, terkadang orang yang dikabarkan lebih mengerti daripada orang yang mendengar. Janganlah kalian kembali menjadi kafir setelah sepeninggalku dengan cara saling bunuh di antara kalian. ”
Setelah selesai melaksanakan melontar jumrah selama hari Tasyrik, Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- berangkat dari Mina dan tinggal di Khaifa, antara Kinanah dan Abthah, selama sisa waktu siang hingga malamnya. Di sana dia melaksanakan salat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, kemudian dia tidur sebentar di Mahshab. Kemudian beliau menunggang kendaraannya menuju Baitullah dan melaksanakan tawaf di sana.
Beliau melakukan tawaf wada', setelah selesai melaksanakan perintah manasiknya, beliau pun kembali ke Madinah Munawarah. [14]
Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- pernah menyampaikan khotbah kepada kami di dekat sumur yang bernama Khuma yang terletak antara Mekah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan mengagungkanNya di kemudian hari,
“‘Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia (seperti kalian). Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang, lalu aku menjawabnya. Aku akan meninggalkan di tengah kalian Tsaqalain (dua hal yang berat), yaitu: Pertama, Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah kitabullah dan berpegang teguhlah kalian kepadanya.’ Beliau menghimbau dan mendorong untuk mengikuti Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan: ‘(Kedua), dan ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlubaitku’".
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ال ْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
Ketika Nabi Muhammad Saw menyampaikan ayat ini, banyak dari sahabat nabi Saw yang merasa gembira karena Islam telah sempurna, kecuali Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Keduanya tidak bergembira, tapi malah merasakan hal yang sebaliknya, yakni sedih dan bermuram muka. Karena keduanya mengetahui bahwa ayat ini adalah isyarat kewafatan nabi Muhammad Saw.
Umar bin Khattab menangis seketika itu juga. Ketika melihat hal tersebut nabi Saw lantas bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Umar?”
Umar menjawab, “Aku menangis karena sebelum ini kita senantiasa mendapatkan tambahan (ajaran) dalam agama kita, adapun setelah sempurna maka sesungguhnya tidak sesuatu yang sempurna kecuali setelahnya ada kekurangan atau penurunan.”
Nabi Muhammad Saw menjawab, “Kamu benar wahai Umar.”
terakhir, agar memaksimalkan amalan kita di 10 hari terbaik ini adalah dengan bertakbir, diriwayatkan oleh imam bukhori
Berkata Ibnu ‘Abbas, “Dan ingatlah oleh kalian di hari hari yang ditentukkan yaitu hari-hari sepuluh, dan hari-hari yang terbatas yaitu hari-hari tasyriq”, Dan dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar di hari-hari sepuluh (Dzulhijjah) dan mereka berdua bertakbir, dan orang-orang ikut bertakbir bersama mereka berdua.
Komentar
Posting Komentar
Jika ada kesalahan, mohon agar diluruskan
Jika ada kritik/saran, silahkan diajukan
Harap tinggalkan Jejak dengan nmenyertakan apresiasi maupun komentar dan saran anda yang membangun. Agar memberi motivasi bagi kami dalam menegakkan syiar Islam, In Syaa Allah.
Barakallah, syukron telah berkunjung